30 Desember 2009

PENGHARAPAN YANG MEMBUAHKAN KEBAHAGIAAN

Bacaan dari kitab Lukas 2: 28 – 35

Jika kita dijanjikan sesuatu yang berharga maka biasanya kita menantikannya dengan penuh harap. Bila pada akhirnya janji itu terpenuhi maka sukacita dan kebahagiaan akan terungkap lewat ekspresi wajah, kata-kata maupun tindakan kita. Singkatnya, kegembiraan menjadi amat sangat sehingga tanpa sadar, seakan-akan hal lain menjadi tidak penting.

Simeon dalam kestiaan penantian akan terwujudnya wahyu Tuhan, benar-benar merasakan suatu kebahagiaan yang amat sangat. Ia memuji Tuhan, bersukacita dan mengangakat Yesus ke atas dan mengatakan: ‘Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel." Mata imannya telah memandang Sang Mesias. Dalam keyakinan penuh ia telah berjumpa bahkan menggendong Sang Juru Selamat. Mau apa lagi? Semua itu sudah cukup baginya dan ia sangat bersyukur. Simeon setia berpegang pada janji Tuhan, ia terus mencari wajah Tuhan dan meyakini Firman-Nya.

Yusuf dan Maria menjadi heran atas apa yang mereka saksikan. Maria ibu Yesus dinubuatkan akan mengalami suatu rasa sakit yang luar biasa (tertusuk pedang tajam). Nubuat akan tibanya suatu masa di mana sebagai ibu ia harus menyaksikan penyiksaan dan penderitaan Yesus guna menebus dosa manusia. Dua pernyataan Simeon (ayat 34-35) merupakan gambaran keselamatan universal yang akan diwartakan Yesus Kristus, termasuk mengenai perlunya penderitaan dalam perutusan mesias. Janji itu telah terwujud dan keselamatan itu telah kita peroleh. Keselamatan dan karya penebusan itu adalah suatu anugerah, maka bersyukurlah dan hiduplah dalam iman pengharapan kepada Tuhan sampai Ia datang kembali.

ALLAH MENUNTUN KITA KE TEMPAT YANG AMAN

Bacaan dari kitab Matius 2: 19 – 23

Sama seperti ketika malaikat Tuhan memerintahkan Yusuf untuk menyingkir ke Mesir, demikianlah Allah terus bekerja untuk Yusuf dan keluarganya. Herodes telah mangkat dan situasi telah aman, maka dengan cara yang sama pula Yusuf dibimbing untuk kembali ke Israel dan menetap di Nazareth. Dari kota inilah kemudian nama Yesus selalu dikaitkan sebagai orang dari Nazareth yang berbicara di depan umum pertama kali di Galilea. Namun demikian, masih ada keraguan Yusuf karena Arkhelaus anak Herodes yang memerintah di Yudea, Samaria dan Idumea.

Kekuatiran ini cukup beralasan karena sampai menjelang ajalnya pun Herodes masih memerintah pembantaian atas tokoh-tokoh Yahudi. Dalam penderitaan dan pelarian Yusuf ke Mesir, ia selalu taat dan mendengar perintah Tuhan. Sesungguhnya Yusuf mempunyai alasan untuk memprotes perintah Tuhan. Bukankah bayi Yesus yang akan diselamatkan ini adalah Juruselamat? Mengapa justru Juruselamat harus diselamatkan dengan cara melarikan diri? Jika di masa lalu Allah yang punya kuasa ini selalu mengalahkan musuhnya secara spektakuler, mengapa justru sekarang harus mempergunakan cara yang lemah yaitu "lari"? Alasan-alasan ini logis, tetapi Yusuf tidak mau mempergunakannya. Ia hanya tunduk dan taat pada perintah Tuhan. Ketaatan seperti ini yang kemudian ditunjukkan Yesus kepada Bapa-Nya. Ia rela taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib!

Dalam kehidupan, kita sering diuji dalam soal ketaatan kepada Tuhan. Ketika membutuhkan pertolongan, kita tidak bisa mendikte Tuhan. Dia-lah yang harus memutuskan, bukan kita. Ketaatan yang sejati disertai dengan ketekunan. Bertekunlah mempelajari Firman Tuhan. Bertekunlah juga dalam doa dan ucapan syukur. Sudahkah kita lakukan semuanya ini ? Mari lakukan sekarang...

TUHAN ADALAH JAMINAN MASA DEPAN

Bacaan dari kitab Mazmur 37: 23 – 26

Sebuah pohon pada umunya memiliki akar yang dalamnya kira-kira setinggi pohon tersebut di atas permukaan tanah. Akar inilah yang menunjang pohon tersebut untuk berdiri kokoh. Sebagaimana pada tajuknya ada banyak cabang-cabang, demikian pula di dalam tanah pun terdapat cabang-cabang dari akar tersebut untuk menjaga kestabilan hidup atau sebagai penopang. Bila ada badai, pohon mungkin hanya akan miring karena ditopang oleh sistem perakaran yang baik.

Demikianlah halnya orang-orang benar yang hidupnya bergantung kepada Allah, ia memiliki akar yang kuat. Topangan akar ini akan memberikan perlindungan sehingga tidak mudah jatuh atau roboh. Ketika seseorang baru lahir maka ia berada dalam "ketergantungan" kepada orang lain. Ia bertumbuh menjadi dewasa dan menjadi "mandiri". Dalam kaitan dengan sesama dan lingkungan maka ia akan berada dalam "kesaling-tergantungan". Selanjutnya pada masa tua, kembali ia akan "bergantung" pada pertolongan atau bantuan orang lain. Ini adalah suatu siklus hidup yang akan dialami setiap orang. Bila ia tidak mempersiapkan diri dengan baik maka ia mudah goyah. Kehidupan yang stabil dapat dimulai dari kesehatan yang baik, kepemilikan sumberdaya yang "cukup" serta hidup dalam pola yang teratur dan tidak serakah. Jika hal ini berjalan baik maka ia akan memasuki masa tua dengan sehat atau lebih baik. Ia akan tenang jika anak-anak cucunya berhasil dan melihat mereka berada dalam damai sejahtera. Ini baru kebahagiaan lahir.

Bagaimana dengan kehidupan spiritualnya? Ia harus berada dalam jalan Tuhan. Bersandar dan berserah diri kepada Tuhan serta taat pada perintah-perintahnya. Sekalipun ada gelombang hidup, ia tidak akan jatuh tergeletak, karena tangan Tuhan yang kokoh senantiasa menopang. Sudahkah kita siap memasuki hari-hari baru di tahun 2010 yang belum kita ketahui?

21 Desember 2009

YESUS-LAH JAWABAN

Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau. Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku”  (Mazmur 139:7-10)


Ketika kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi hidup kita, saat kasih karunia Allah tercurah sepenuhnya bagi kita. Anugerah yang hanya diberikan bagi umat perjanjian-Nya diberikan bagi setiap kita yang percaya kepadaNya. Perlindungan yang kekal senantiasa menaungi kita apapun yang kita hadapi dan kita alami. Berbagai masalah dan pencobaan boleh datang menerpa, tetapi Tuhan Allah kita senantiasa memberikan jalan keluar bagi setiap masalah dan persoalan kita.

Ada kalanya kita merasa bahwa beban persoalan kita terlalu berat dan kita memutuskan untuk tidak lagi berdoa ataupun pergi beribadah ke gereja. Tetapi Tuhan Allah tetap setia, Dia senantiasa menuntun dan menjaga setiap umat-Nya agar tidak keluar dari rencana-Nya. Kemanapun kita berusaha lari, Dia ada disana, menunggu kita dengan setia. Kasih-Nya senantiasa mengalir bagi kita. Damai sejahtera-Nya senantiasa menunggu kita.
*courtesy of PelitaHidup.com
Tuhan senantiasa memberikan jawaban bagi setiap masalah kita. Ketika kita tidak dapat menemukan apapun yang menjadi jalan keluar bagi permasalahan, Dia ada untuk memberikan jawaban itu. Yesuslah jawaban. Marilah tetap bersandar kepada Yesus. Bagi Yesus tidak ada yang mustahil (Luk 1:37). Bahkan tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya (Mar 9:23). Jangan lepaskan kepercayaan kita kepada Yesus. Dia tidak pernah terlambat, segala sesuatu akan dijadikan indah tepat pada waktunya (Pkh 3:11).

Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku(Wahyu 3:20)

Janganlah keraskan hatimu, bukalah pintu hatimu, biarkan Yesus masuk dan tinggal di dalam kehidupan kita. Dia akan memberikan jawaban bagi setiap doa-doa kita.

SAMBUTLAH RAJA DAMAI DALAM HATIMU

Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.” Yesaya 9.5

Jauh sebelum Yesus datang ke dunia ini, nubuatan telah disampaikan melalui Nabi Yesaya bahwa akan lahir seorang anak yang akan disebut sebagai: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Nubuatan digenapi dalam Perjanjian Baru dengan lahirnya Yesus ke dunia ini. Tujuannya hanya satu, agar seluruh manusia yang percaya kepada-Nya dapat diselamatkan dari hukuman yang kekal (Yoh 3:16). Seperti yang telah dinubuatkan, Yesus lahir ke dunia ini tidak sekedar menjamin keselamatan manusia pada saat penghakiman terakhir nanti. Tetapi Dia juga memberikan jaminan pemeliharaan selama kita masih hidup di dunia ini.


Berikut beberapa hal yang menjadi bagian kita ketika kita menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat kita:

1. Penasihat Ajaib

Ketika Yesus lahir dalam hidup kita, maka Dia akan menjadi penasihat kita dalam setiap langkah hidup kita. Ketika masalah dan pencobaan datang menerpa kehidupan kita, baik dalam pekerjaan, keluarga, ekonomi, dan lainnya, Tuhan akan hadir bagi kita. Dia akan mencurahkan hikmat-Nya bagi kita, sehingga kita sanggup mencari jalan keluar atas setiap masalah dan problema yang kita hadapi. Dia akan selalu berbicara kepada kita melalui Firman-Nya yang kita baca setiap hari. Melalui Firman-Nya itulah Dia akan memberi banyak nasehat bagi kita, sehingga masalah seberat apapun dapat kita lalui bersama dengan Yesus.

2. Allah yang Perkasa

Ketika Bangsa Israel memasuki Tanah Perjanjian, mereka banyak melakukan peperangan terhadap musuh-musuhnya. Kita dapat melihat begitu banyak campur tangan Tuhan atas Bangsa Israel pada waktu itu. Tangan Tuhan yang perkasa selalu memberikan kemenangan bagi Bangsa Israel, sehingga tidak ada musuh yang terlalu berat bagi mereka untuk dikalahkan, sekalipun musuh yang mereka hadapi adalah raksasa-raksasa yang telah berpengalaman dalam medan peperangan. Demikian juga dalam kehidupan kita, walaupun keadaan yang kita hadapi terlihat tidak mungkin bagi kita untuk dapat mengatasinya, di dalam Yesus segalanya menjadi mungkin. Sebesar apapun masalah yang merintangi, jika kita tinggal bersama Yesus, maka Dia yang akan memberikan kemenangan bagi kita. Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang perkasa. Tidak ada satupun kuasa di dunia ini yang sanggup mengalahkan kuasa Tuhan Allah kita. Bersama Yesus kita lakukan perkara besar.

3. Bapa yang Kekal

Turunnya Yesus ke dunia ini merupakan wujud kasih Bapa yang tak terbatas. Begitu besar kasih-Nya akan dunia ini sehingga Dia rela mengorbankan Anak-Nya yang tunggal, agar kita semua dapat beroleh kasih karunia di dalam Dia. Kasih Bapa kini dapat kita rasakan dalam kehidupan kita. Ketika orang-orang meninggalkan kita, teman-teman melupakan kita, bahkan keluarga sendiri juga memusuhi kita, Bapa di sorga tidak akan meninggalkan kita. Kasih-Nya akan senantiasa menaungi dan merangkul hidup kita. Dia akan menghibur kita, Dia akan memelihara kita, Dia akan memberikan sukacita bagi kehidupan kita. Kasih-Nya akan memulihkan kehidupan kita dari segala kepahitan, amarah, dendam, kebencian, luka, dan segala dosa yang ada. Kasih-Nya akan mengangkat kita dari lubang kebinasaan menuju kehidupan yang kekal. Dia adalah Bapa kita yang kekal.

4. Raja Damai

Saat ini dunia bergejolak dengan begitu hebatnya, krisis melanda hampir seluruh bagian dunia ini, kejahatan semakin bertambah, bencana alam terjadi di mana saja dan kapan saja. Tidak ada tempat yang dapat menjamin keamanan hidup kita, tidak ada seorangpun juga yang dapat menjamin kehidupan kita akan selalu nyaman, bahkan harta kekayaan juga bukan jaminan bahwa hidup kita akan selalu terjamin.Banyak kekuatiran yang muncul dalam pikiran manusia akan apa yang akan terjadi di masa depan mereka. Banyak ketakutan yang timbul dalam hati mereka jika krisis maupun bencana terus terjadi.
*courtesy of PelitaHidup.com
Tetapi ketika kita masuk dan hidup dalam Yesus, maka Dia akan memberikan damai sejahtera bagi hidup kita. Damai sejahteraNya dapat mengatasi segala kekuatiran dan ketakutan yang ada. Damai sejahtera-Nya akan memampukan kita mengatasi segala perkara. Jangan biarkan dunia dan segala kekuatirannya menguasai hidup kita. Sambutlah Yesus dalam hidup kita setiap saat, setiap waktu, setiap hari dan di mana saja kita berada. Biarlah Dia menjadi Raja Damai dalam hidup kita. Immanuel.
.

TAMPIL BEDA

Matius 5: 16
"Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga"

Kita sebagai anak-anak Tuhan harus tampil beda di dunia ini. Kita tampil bukan demi menarik perhatian, melainkan demi Juruselamat kita. Dalam dunia yang penuh kegelapan, orang-orang mencari terang. Ke mana lagi mereka pergi mencari terang Kristus kalau bukan dari para pengikut-Nya ?

Tentu saja, Allah tidak mengharapkan kita pergi sendirian. Ia memperlengkapi kita dengan Roh Kudus dan Firman-Nya untuk membimbing kita. Alkitab mengajarkan kita bahwa dunia akan tahu bahwa kita adalah pengikut Kristus bukan dari kata-kata yang kita ucapkan, melainkan dari kasih yang kita tunjukkan kepada sesama. Kasih Allah akan membuat kita bersinar di dalam dunia ini.

16 Desember 2009

KEPASTIAN JANJI TUHAN

Yeremia 33: 14-18

Dalam perjanjian Tuhan dengan Israel atau Yehuda, seperti telah dikatakan, bahwa Israel atauYehuda berulang-ulang selalu memilih jalan sendiri mengikuti keinginan hatinya dan tidak setia kepada Tuhan dan mengikuti jalan Tuhan. Akibatnya, hubungan perjanjian menjadi rusak. Dan dengan rusaknya perjanjian itu maka terancamlah seluruh kehidupan Israel atau Yehuda; bukan saja manusianya, tetapi kota dan lingkungan alamnya. Kenyataannya bahwa meskipun Israel atau Yehuda tidak setia, Tuhan senantiasa setia memelihara perjanjian itu, sehingga selalu ada harapan bagi Israel atau Yehuda. Dalam hal ini Tuhan itu adil karena Ia tidak pernah meninggalkan janjinya untuk memelihara perjanjian dengan Israel atau Yehuda. Keadilan Tuhan sekaligus menghadirkan kebaikan-Nya untuk memenuhi kehidupan Israel atau Yehuda sehingga damai sejahtera merata ke mana-mana.

Dalam sejarah Israel atau Yehuda, pada zamannya, raja Daudlah yang paling memperlihatkan suasana damai sejahtera dan keadilan itu. Karena itu Tuhan berjanji akan memenuhi janjinya dan menjadikan kehidupan bersama itu dipenuhi keadilannya sehingga mengalami damai dan sejahtera.

Kita mendengar janji Tuhan ini di masa Natal sekarang ini. Keadaan kita memang sama sekali tidak baik, karena banyak kesalahan yang telah kita lakukan. Tetapi kita sukar untuk melihat dan mengakui kesalahan-kesalahan itu, bahkan menyangkalanya. Nah, semakin kita menyangkali kesalahan kita, semakin buruklah keadaan kita.

Sebagai gereja Tuhan kita mengetahui semuanya itu. Karena itu, mari kita membuka diri dan mengakui segala kesalahan kita agar kita boleh hidup lagi dari janji Tuhan, yakni hidup dalam damai sejahtera; bukan putus asa. Sebab janji Tuhan, pasti!

TUHAN DATANG UNTUK MENGHALAU KEJAHATAN DAN KETIDAK-ADILAN

Yesaya 33 : 17 – 19

Kalau seorang raja memerintah dengan adil dan benar sehingga kehidupan seluruh rakyatnya berubah menjadi senang-sentaosa; tidak lagi susah-sengsara maka dua hal yang segera terlintas dalam pikiran rakyatnya adalah: Pertama, mereka akan memuji dan mengagungkan sang raja dengan penuh semarak. Kedua, mereka berharap agar keadaan sejahtera itu tetap berlangsung di negeri selamanya. Hal-hal yang dulu, seperti ketidak-adilan dan kejahatan jangan sampai terjadi lagi; itu artinya, raja harus tetap pada komitmennya untuk selalu memerintah dengan adil dan benar serta mengutamakan kesejahteraan seluruh rakyat.

Dua hal ini juga tampak menjadi harapan bagsa Israel ketika mereka mengalami kehidupan baru di Sion di bawah pemerintahan raja yang adil dan benar. Oleh karena itu, Tuhan melalui Yesaya menyampaikan kepada seluruh rakyat, khusus orang-orang benar, jujur dan adil, yang tetap diam di negeri bahwa semua harapan mereka akan dipenuhi.

Sebagai warga bangsa kita juga berharap agar pemerintah dan kabinet yang baru dapat melakukan keadilan dan kebenaran serta mengutamakan kesejahteraan seluruh rakyat dalam pemerintahannya. Itu artinya, orang-orang yang berlaku tidak adil dan tidak benar harus ditindak, sedangkan orang-orang benar, adil dan jujur harus dilindungi. Dengan begitu pemerintah akan tampil bersemarak di hadapan rakyatnya, dan negeri ini akan aman, damai dan sejahtera selamanya.

Sebagai orang beriman, kita pun yakin bahwa Tuhan Yesus adalah Raja. Dia akan datang, dan kita akan memandang Dia di dalam semarak-Nya. Dia datang untuk membuat hidup kita, dan bahkan bumi ini kembali aman, tenteram, damai dan sejahtera. Jika di sana-sini terdengar berbagai bencana melanda kehidupan bangsa, itu artinya Tuhan Yesus, Raja alam semesta, sedang menegur pemerintah karena mengabaikan kesejahteraan seluruh rakyat dan tidak melakukan keadilan dan kebenaran.

SANG PEMBUKA JALAN TELAH LAHIR

Lukas 1 : 57 – 66

Masa penantian Elisabeth untuk terbebas rasa sedih dan tersingkir karena dianggap tidak bisa melahirkan pun berakhir. Bagi Zakharia, suaminya, itulah juga masa untuk terbebas dari kebisuannya. Genap waktunya, Elisabeth akhirnya melahirkan seorang anak laki-laki sesuai janji Tuhan. Kelahiran anak ini merupakan tanda ajaib dan sukacita bagi kedua orangtuanya, juga sanak keluarga serta para tetangga.

Mereka yang tadinya mengasingkan Elisabeth, ketika mendengar bahwa ia telah melahirkan, langsung datang untuk bersukacita bersamanya. Bukan cuma itu, ketika tiba hari penyunatan dan pemberian nama, mereka juga ingin mewakili Zakharia untuk memberikan nama kepada anak itu, dan mereka mengusulkan nama Zakharia. Elisabeth mulai angkat bicara. Ia keberatan dengan nama yang diusulkan karena ia memahami pangkal kebisuan suaminya, yaitu bahwa anak itu harus diberi nama Yohanes. Kontroversi soal nama akhirnya diputuskan oleh Zakharia yang bisu, dan ia pun menulis nama ‘Yohanes' sesuai yang diusulkan isterinya dan diucapakan malaikat kepadanya. Seketika itu juga kebisuan Zakharia lenyap.

Peristiwa itu menggemparkan seluruh Yudea. Mereka pun merenung dan bertanya, menjadi apa anak ini kelak? Jawabnya, menjadi seperti yang Tuhan mau; bukan yang kita mau. Yohanes terus bertumbuh dalam lindungan tangan Tuhan yang menyertai dan mempersiapkan untuk menjadi Pembuka Jalan bagi Sang Juruselamat, yakni Yesus.

Minggu Adventus IV dan terakhir ini sekaligus menjadi tanda bahwa masa penantian kita pun segera berakhir. Hari kelahiran Yesus Kristus segera kita jelang. Ini artinya bahwa segala yang selama ini menyedihkan dan membisukan kita akan segera lenyap dan digantikan dengan sukacita karena Yesus Kristus yang kita ingat-rayakan kelahiranNya, juga berkenan lahir di hati dan rumah tangga kita. Percayalah akan hal itu.

Damai dan Sukacita Natal diberikan Tuhan bagi kita.

10 Desember 2009

TUHAN MEMPERHATIKAN YANG RENDAH

Lukas 1 : 46 – 55

Ada banyak alasan yang membuat seseorang merasa malu, rendah diri dan minder. Misalnya, sudah lama menikah tetapi belum dikarunia anak atau belum mendapatkan pekerjaan, hidup miskin, cacat dsb. Perasaan demikian membuat kita terkadang menganggap hidup ini tidak lagi berarti. Bagaimana kita menghadapinya?
Memang tidak mudah tetapi bukan berarti tidak mungkin. Cara terbaik adalah melihat keberadaan kita dari sisi Tuhan.

Jika kita melihatnya dengan cara Tuhan, berarti kita yakin bahwa Tuhan sangat menghargai, memperhatikan dan berbuat yang terbaik bagi kita. Ia juga selalu memberikan kasih karuniaNya. Jika demikian, niscya keyakinan kita akan bertumbuh dan pulih kembali, sehingga kita selalu berusaha membuktikan bahwa diri dan hidup kita ini begitu berharga.

Maria merasa malu, rendah diri dan minder karena dianggap sebagai perempuan yang ‘tidak baik' (telah mengandung sebelum menikah dengan Yusuf). Elisabeth pun merasa terhina karena belum memiliki anak. Tuhan membalikkan segalanya dengan memilih dan mengangkat mereka sesuai kasih karuniaNya. Maria telah dipilih Allah untuk melahirkan Sang Juruselamat, yakni Yesus (=Yeshua=penyelamat), tanpa sentuhan seorang laki-laki. Sedangkan Elisabeth dipilih untuk melahirkan sang pembuka jalan, yakni Yohanes Pembaptis. Tidak heran bila Maria memuji kemuliaan Tuhan. Suatu pujian yang agung dalam sejarah kekristenan. Karena itu disebut Magnificant; seakar dengan nyanyian pujian Hana (1 Sam.2:1-10).

Dalam pujian ini, Tuhan diperkenalkan sebagai tokoh pembaru, di segala bidang. Pemahaman Maria yang demikian membuatnya tetap kokoh di tengah berbagai tantangan hidup. Marilah kita ikut menyanyikan pujian yang agung kepada Allah karena Yesus akan datang membaharui seluruh hidup kita.

KEBAIKAN DAN KASIH TUHAN DALAM PERGUMULAN

Mazmur 31 : 24 – 25

Sebelum kita merenungkan bacaan malam ini, cobalah mengambil kertas dan tuliskanlah tahun usia kita, pergumulan yang telah kita lewati dan bagaimana Tuhan menyatakan kasih setia-Nya dalam hidup kita?

Mazmur bacaan kita merupakan doa pemazmur yang amat pribadi, ketika berada dalam pergumulan dan tantangan karena kesusahan, musuh, penyakit dan aliensi. Dalam keadaan seperti itu, pemazmur berpaling kepada Allah.

Kepercayaannya bertambah dalam ketika ia mengingat campur tangan Allah. Jika ia mengingat semua pergumulannya, dirasakan sangat menyakiti hati. Tetapi ketika ia melihat kepada Allah dengan kepercayaan yang diperbaharui terus menerus, ia bahkan mampu memberi semangat kepada orang lain. Seperti pemazmur, kita pun hidup di tengah kenyataan bahwa ada berbagai pergumulan dan tantangan, misalnya: kesusahan, kejahatan, dikhianati/ditinggalkan teman atau orang yang kita kasihi. Apakah yang harus kita lakukan menghadapi kenyataan itu? Berpaling kepada Allah dan berdoalah. Ia bersedia mendengar doa kita, asalkan kita selalu berada dalam persekutuan dengan Dia (Yoh.15:7).

Kalau kita ingat campur tangan Allah dalam hidup kita selama ini, seharusnya kepercayaan kita juga semakin kokoh. Kebaikan dan kasih Tuhan tak pernah dan tidak akan pernah berubah! Hal ini harus dihayati, diyakini dan diperbaharui. Penghayatan iman seperti ini akan menjadikan kita kuat, sehingga kita pun mampu menguatkan orang lain, yang dalam pergumulan berat. Orang yang berharap kepada Tuhan tidak dibiarkanNya. Masa Advent mengingatkan kita akan kasih Allah. Dalam pergumulan yang menyakitkan sekalipun, marilah kita berpaling kepadaNya, menghayati kasihNya, sehingga kita tetap kuat dan mampu menguatkan orang lain juga.

MENOLAK ALLAH APA AKIBATNYA?

Yesaya 7 : 18 – 25

Raja Ahaz menolak nasihat Yesaya untuk bergantung kepada Allah, ketika ia harus berhadapan dengan serangan koalisi raja Israel dan Aram. Raja Ahaz justru berpaling meminta bantuan Asyur. Asyur memang membantu dia. Namun Asyur segera menjadi "pisau cukur" yang tajam (ayat 20) di tangan Allah, untuk mencukur habis umatNya yang memberontak, sombong dan merasa diri kuat. Akibat lainnya adalah tanah yang gersang, akan ditumbuhi putri malu dan rumput sehingga yang menjadi sumber makanan mereka hanyalah ternak dan lebah.
 
Hal yang demikian ini amat menyedihkan. Siapapun di dunia ini yang menolak Allah, pasti akan menerima akibat penolakannya itu. Allah adalah sumber kehidupan yang kita andalkan. Ketika kita berpaling kepada manusia atau apa saja yang kita andalkan dan membelakangi Allah, kita akan kehilangan berkatNya. Pada awalnya mungkin kita merasa berhasil, tetapi keberhasilan di luar Tuhan adalah semu-suatu saat akan menggerogoti ("mencukur") habis kehidupan kita.

Pada masa sekarang ketika manusia semakin mengalami berbagai kemajuan di segala bidang kehidupan, kita harus waspada terhadap kecenderungan manusia modern yang lebih mengandalkan kekuatan manusia daripada mengandalkan Tuhan. Manusia berpikir: "aku kan bisa tanpa Tuhan. Buktinya aku lebih sukses daripada orang-orang yang siang malam berdoa dan membaca FirmanNya.' Hati-hati dengan pemahaman yang demikian. Yesus pernah berkata: Apa untungnya memperoleh seluruh dunia kalau jiwa kita binasa. Tidak ada sesuatu yang ada pada kita yang berasal dari diri kita. Semuanya adalah pemberian Tuhan, yang Ia titipkan agar kita memuliakan namaNya (Rm.11:36). Di mingu-minggu Advent ini kita diingatkan agar selalu mengandalkan Allah saja.

HIDUP YANG DAMAI

Yesaya 11 : 6 – 10

Bacaan kita hari ini mengungkapkan keadaan pada zaman Mesias, ketika Yesus memerintah sebagai Raja.
Zaman itu ditandai oleh tidak adanya lagi permusuhan dan kekejaman. Keadaan itu digambarkan oleh perdamaian di antara semua binatang. Serigala tinggal bersama domba, macan tutul berbaring di samping kambing, anak-anak yang menyusu bermain-main dekat ilang ular tedung. Keadaan seperti ini mengingatkan kita tentang kehidupan pertama di Firdaus sebelum manusia jatuh ke dalam dosa.

Mengapa ada perdamaian yang sempurna seperti itu? Karena Yesus telah menjadi Raja Damai. Perdamaian memang merupakan hal yang sulit didapat. Tetapi hal itu kini hadir karena pengenalan akan Tuhan. Ketika Kristus, Sang Raja Damai, memerintah, terjadilah perubahan dalam wilayah tabiat manusia dan mengubah perilaku semua binatang. Karena itu pada zaman Mesias tidak ada permusuhan. Keselamatan hanya di dalam satu nama (ayat10).

Manusia pada dasarnya merindukan kehidupan yang damai. Damai dengan sesama dan damai dengan lingkungan. Mengapa demikian? Karena manusia diciptakan Allah sebagai makhluk yang tertinggi dan hidup dalam damai. Sejak manusia jatuh dalam dosa, rusaklah kehidupan damai itu. Manusia hanya dapat hidup dalam perdamaian, ketika Yesus, raja Damai memerintah hidup dan kehidupannya. Di tengah dunia yang sarat dengan permusuhan, kebencian, fitnah, terror dan berbagai kekerasan, kita merindukan suasana Firdaus hadir lagi di tengah keluarga, di tempat kerja, di Gereja, dan di tengah bangsa dan negara.

Dalam minggu-minggu Advent ini, mari mengundang Sang Raja Damai hadir dalam kehidupan kita sehingga kedamaian Firdaus hadir kembali dalam hidup kita.

02 Desember 2009

SEMANGAT NATAL

Ayat bacaan: Filipi 2:5
 
"Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus"


semangat natalTidak terasa kita sudah memasuki bulan Desember, dimana kita sebentar lagi akan merayakan Natal. Ini adalah bulan dimana hampir semua orang percaya akan lebih bersemangat dalam bekerja karena sebentar lagi akan ada libur, beberapa pesta atau tukar menukar kado dan berbagai kegiatan-kegiatan yang menggembirakan bersama keluarga dan sahabat-sahabat dekat. Sebagian dari kita mulai mengumpulkan lagu-lagu Natal agar bisa merasakan semangat Natal sejak awal bulan, bahkan mungkin ada sebagian di antara kita yang mulai membayangkan indahnya rumah diterangi kelap kelip pohon natal sebentar lagi. Pergi liburan bersama anak-anak, makan bersama keluarga besar, berkirim kartu ucapan, semua terasa begitu indah. Tidak heran mendekati Natal biasanya senyuman akan lebih mudah dijumpai di kalangan anak-anak Tuhan. Jika anda tinggal di luar negeri seperti Eropa atau sebagian dari Amerika, mungkin anda tengah menantikan turunnya salju yang sangat identik dengan Natal. Pusat-pusat perbelanjaan mulai berbenah dengan dekorasi dan lagu-lagu yang diputar pun tidak akan jauh dari lagu-lagu Natal. Salahkah itu semua? Tentu Tidak. Kelahiran Yesus sudah sepantasnya kita sikapi dengan sukacita. KedatanganNya ke dunia ini membawa misi penting untuk menebus kita semua, sebagai bukti nyata betapa Tuhan mengasihi manusia dan tidak ingin satupun dari kita untuk binasa. Dengan begitu indahnya Alkitab menuliskan firman Tuhan ini: "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yohanes 3:16). Oleh karenanya sukacita hadir di dalam diri kita, dan sebagai manusia tentu kita akan merayakannya melalui berbagai kegiatan yang diisi dengan kegembiraan. Pertanyaannya, apakah semangat Natal hanyalah berbicara atau berkaitan dengan pesta, tukar menukar kado, mendengar dan menyanyikan lagu-lagu Natal dari artis ternama? Jika itu yang menjadi gambaran bagi kita, maka itu tandanya kita belumlah sepenuhnya mengerti apa yang seharusnya menjadi semangat Natal yang sesungguhnya.

Natal adalah saat dimana kita merayakan kelahiran Yesus Kristus ke dunia. Seperti yang saya sebutkan di atas tadi, Natal ada karena kasih Tuhan yang begitu besar atas kita. Tuhan merelakan anakNya yang tunggal turun ke dunia ini, mengambil rupa sama seperti kita, menebus dosa-dosa kita semua agar kita tidak binasa, melainkan bisa memperoleh kehidupan yang kekal. Hubungan kita dengan Tuhan dipulihkan, sehingga hari ini kita bisa "dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia" (Ibrani 4:16), tinggal dan diam di dalam hadirat Tuhan. Ini sesuatu yang luar biasa yang bisa kita nikmati lewat penebusan Kristus. Mari kita lihat bagaimana briliannya Paulus menggambarkan hal ini dalam Filipi 2. "Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus" (Filipi 2:5). Pertama, lihatlah bahwa Yesus tidak menganggap bahwa kesetaraanNya dengan Allah harus dipertahankan. Yesus adalah Allah. Tapi meski demikian, "yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia." (ay 6-7) Yesus mengosongkan diriNya. Maknanya? Dia rela mengambil rupa seorang hamba dan dilahirkan seperti manusia. Kedua, Yesus mau merendahkan diriNya untuk taat sepenuhnya menjalankan misi yang digariskan Tuhan sampai kepada kematianNya di atas kayu salib. Semua dilakukan demi kita semua manusia. "Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib." (ay 8). Ini semua Dia lakukan karena kasih yang begitu besar kepada kita. Dan bagi kita manusia yang telah ditebus, sudah seharusnya kita meneladani apa yang telah diperbuat Kristus kepada sesama kita pula. We think the way He thinks, Tuhan Yesus memikirkan nasib manusia, karena itulah Natal ada. Jika Dia memikirkan nasib kita, tidakkah itu berarti bahwa kita pun harus merepresentasikan itu dengan mengasihi sesama kita juga?

Lewat pertobatan kita, kita meninggalkan kehidupan lama kita yang penuh cacat dan diperbaharui dalam roh dan pikiran kita dan menggantikannya dengan sebentuk hidup sebagai manusia baru yang telah sesuai kehendakNya dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya sesuai kehendak Tuhan. (Efesus 4:22-24). Be constantly renewed in the spirit of your mind. Roh kita sudah diperbaharui, maka pemikiran kita pun seharusnya mengikuti itu. Ironis sekali jika kita yang seharusnya sudah diubahkan menjadi manusia baru tapi masih juga belum bisa menanggalkan berbagai pemikiran-pemikiran lama, masih terpusat pada kepentingan dan hal-hal yang menyenangkan secara pribadi lalu tidak tergerak untuk memikirkan saudara-saudara kita lainnya yang tengah menghadapi pergumulan berat.

Di saat kita merancang berbagai kegiatan seperti pesta, liburan ke luar kota atau ke luar negeri atau bentuk-bentuk perayaan lainnya, ada banyak saudara kita yang mungkin makan sehari sekali saja masih sulit. Ada banyak yang tengah meratap memohon belas kasih akibat beratnya beban hidup. Ketika Yesus sudah melakukan itu semua lewat kedatanganNya ke dunia ini, sudahkah kita merepresentasikan semangat Kristus itu? Apakah kita mau merendahkan diri kita juga untuk berkorban, melayani dan membantu saudara-saudara kita yang sedang menderita? Itulah yang menjadi semangat Natal yang sesungguhnya. Memasuki Natal tahun ini, marilah kita lebih peka dan peduli lagi terhadap sesama kita. Tidak akan ada perayaan Natal jika Kristus tidak datang ke dunia untuk menebus kita. Dia telah mengosongkan diri, mengambil rupa seorang hamba dan taat sampai mati di kayu salib sehingga kita bisa menikmati hadirat Tuhan hari ini dan mendapat jaminan keselamatan dalam kehidupan kekal. Demikian pula seharusnya kita bersikap. Semangat Natal sesungguhnya adalah semangat yang meneladani Kristus, dimana kita mau meluangkan waktu, tenaga dan sebagian dari yang kita miliki untuk membantu sesama kita yang menderita. Mereka pun ada dalam kasih Tuhan, mereka pun terlukis dalam telapak tanganNya dan tergambar dalam ruang mataNya. Tuhan mengasihi mereka sama seperti Tuhan mengasihi kita. Dan jika Tuhan saja mengasihi mereka, kita pun sudah selayaknya mengasihi mereka juga. Membantu mereka yang kekurangan, membagi sukacita dan berkat kepada mereka, sehingga mereka bisa tersenyum dan dapat merayakan kelahiran Kristus bersama kita tanpa harus menangis lagi, itulah semangat Natal yang sesungguhnya. Mari masuki masa Natal dengan semangat Natal yang benar.

Portret semangat Natal sepantasnya tergambar dari kepedulian kita terhadap sesama

30 November 2009

ARTI LOGO NATAL


Pelangi merupakan simbol dari kesetiaan dan cinta kasih Allah bagi seluruh isi dunia. Setelah peristiwa air bah yang menunjuk pada bumi yang sudah penuh oleh dosa, maka Allah menghadirkan pelangi sebagai tanda perjanjian-Nya dengan Nuh beserta seluruh keturunannya, lebih dari itu dengan semua manusia dan makhluk hidup lainnya yang telah diciptakan-Nya. Ia berjanji bahwa Ia tidak akan pernah lagi menghancurkan bumi ini (Kej. 9). Pelangi juga mengingatkan kita tentang kesungguhan Allah untuk memenuhi atau menggenapi janji-janji-Nya. Palungan memberi arti pada perlawatan Allah kepada manusia, supaya mereka tidak binasa, di mana Allah telah memberikan Anak-Nya yang tunggal, yang lahir di Betlehem untuk memberikan hidup-Nya bagi manusia supaya mereka tidak binasa (Yoh. 3 : 16). Pelangi juga mau menyimbolkan tentang pembebasan/penebusan yang sekaligus telah diberikan lewat kelahiran Anak Allah tersebut, yang diperuntukkan tidak saja bagi orang-orang pilihan, tetapi terutama lebih menunjuk kepada semua orang dan seluruh ciptaan.Pelangi dan palungan hendak mengungkapkan suatu tema besar tentang kasih dan kesetiaan Allah terhadap dunia ini.

SELALU TETAP BERSYUKUR

Ayat bacaan: Mazmur 52:11
======================

"Aku hendak bersyukur kepada-Mu selama-lamanya, sebab Engkaulah yang bertindak; karena nama-Mu baik, aku hendak memasyhurkannya di depan orang-orang yang Kaukasihi!"


tetap bersyukurSejauh mana kita mampu untuk terus bersyukur dan mengimani dengan sungguh-sungguh bahwa Tuhan sungguh baik ketika kita sedang mengalami masalah? Adalah mudah untuk bersyukur ketika kita sedang dalam kondisi nyaman dan baik, namun ketika kita sedang dalam kesulitan, katakanlah sedang menderita sakit, terkadang sulit bagi kita untuk mengucap syukur. Kecenderungan manusia adalah mendesak Tuhan untuk sesegera mungkin melepaskan kita dari beban masalah dan sakit penyakit. Tetapi ketika kita belum juga lepas, mampukah kita terus bersyukur memuliakan Tuhan? Saya benar-benar merasa terharu lewat seorang bapak yang masih setia melayani di gereja di mana saya bertumbuh, meskipun ia sedang menderita penyakit yang tidak main-main, yaitu kanker.

Penyakit kanker yang diderita beliau mengharuskannya bolak balik ke Singapura untuk menjalani kemoterapi. Dari hasil pemeriksaan terakhir, diketahui bahwa kankernya sudah menyebar ke beberapa bagian tubuh. Namun lihatlah bagaimana reaksinya. Ia masih terus setia melayani! Dan ia terus bersaksi bahwa Tuhan itu baik. Ia terus percaya Tuhan akan selalu memberikan yang terbaik kepadanya, Tuhan akan selalu menguatkan dirinya untuk tetap teguh dalam pelayanan. Ketika sebagian orang sudah menyerah, putus asa dan tidak lagi memiliki minat untuk melakukan apapun, ia tetap setia tampil di depan melakukan pekerjaan Tuhan. Ini sebuah sikap yang sungguh mengagumkan. Saya terharu dan merasa sangat diberkati lewat keteladanannya. Sakit atau tidak, ia tetap tampil seperti tanpa beban. Ia tetap bersukacita, ia tetap tersenyum, meski apa yang sedang ia derita sangatlah serius. Melihat dirinya hari Minggu kemarin, saya pun teringat akan ayat-ayat dalam Mazmur yang berasal dari keteguhan iman Daud. Daud tidak pernah berhenti untuk bersyukur dalam kondisi seterjepit apapun.

Daud pada suatu kali mengatakan "Aku hendak bersyukur kepada-Mu selama-lamanya, sebab Engkaulah yang bertindak; karena nama-Mu baik, aku hendak memasyhurkannya di depan orang-orang yang Kaukasihi!" (Mazmur 52:11). Dalam banyak kesempatan lain pun Daud berulang kali menyatakan ucapan syukurnya. Tidak gampang untuk bisa mencapai tingkat seperti Daud, karena seringkali rasa sakit itu menyiksa, penderitaan terasa berat, beban masalah melemahkan diri maupun rohani kita. Itu lumrah terjadi. Namun janganlah kita menyerah dan menuruti segala kelemahan daging itu. Bagaimana caranya? Paulus mengajarkan caranya yaitu dengan mengarahkan fokus pandangan ke arah yang tepat. "Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal." (2 Korintus 4:18) Inilah kunci bagaimana Paulus dan rekan-rekannya tidak tawar hati meski mereka kerap mengalami penyiksaan dan penderitaan dalam menjalankan pelayanan mereka. Paulus dan rekan-rekan sepelayanannya tidak memfokuskan diri mereka kepada sesuatu yang kelihatan, hal-hal duniawi, namun mereka terus fokus mengarahkan pandangan kepada yang tidak kelihatan, kepada perkara-perkara Surgawi, segala sesuatu yang mengarah kepada kekekalan. Paulus dan kawan-kawan tahu bahwa mengarahkan pandangan hanya kepada yang kelihatan hanyalah akan membuat mereka lemah dan kemudian menyerah. Namun mengarahkan pandangan kepada kehidupan yang kekal kelak dimana Yesus bertahta, itu akan membuat mereka terus bersemangat dan tidak kehilangan harapan. Dalam suratnya untuk jemaat Kolose, ia mengulangi hal ini. "Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah." (Kolose 3:1). Dan dengan tegas ia berkata "Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi." (ay 2). Ini sebuah kunci penting yang patut kita teladani dalam menjalani hidup.

Ada sebuah kalimat yang pernah saya baca bunyinya begini. "Rasa sakit itu sifatnya pasti, namun menderita itu adalah pilihan". Kedagingan kita memang membuat kita harus merasakan rasa sakit, namun apakah kita menderita atau tetap bersukacita, itu adalah sebuah pilihan. Apa yang dikatakan Paulus menjadi begitu relevan, bahwa tidaklah tepat untuk mengarahkan fokus kepada hal-hal di dunia yang hanya sementara sifatnya. Mengarahkan kepada kekekalan, dimana tidak lagi ada penderitaan dan isak tangis, dimana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah, itu jauh lebih penting. Dan untuk menuju kesana, kita harus tetap fokus kepada hal tersebut. Untuk itu, hendaklah kita senantiasa mengucap syukur dalam segala hal, baik suka maupun duka, senang maupun susah, sehat maupun sakit. "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu." (1 Tesalonika 5:18). Tidak ada yang mustahil bagi Allah, namun di atas itu semua, rencanaNya tetap yang terbaik bagi kita. Apapun itu. Allah itu setia, dan telah menyediakan segalanya sesuai janjiNya. Sementara hidup ini hanya sementara, kekekalan itu lebih berguna. Itulah tampaknya yang menjadi pegangan iman dari sang bapak yang tengah menderita kanker untuk tetap terus bersukacita dan tidak henti-hentinya bersyukur mengatakan bahwa Tuhan itu baik. Baik bapak itu maupun kita, teruslah berjuang dengan pengharapan penuh dipenuhi ucapan syukur hingga akhir agar segala yang dijanjikan Tuhan tidak menguap sia-sia.

Dunia ini hanya sementara, tapi Surga itu kekal

MENGAPA SAYA HARUS PERCAYA PADA KEBANGKITAN KRISTUS ?

Adalah merupakan fakta yang sudah cukup buktinya bahwa Yesus dihukum mati di depan umum di Yudea pada abad pertama AD, di bawah pemerintahan Pontius Pilatus, dengan cara di salib, atas permintaan dari Mahkamah Agama Yahudi. Kesaksian sejarah non-Kristen dari Flavius Josephus, Cornelius Tacitus, Lucian dari Samosata, Maimonides, dan bahkan dari Mahkamah Agama Yahudi mendukung kesaksian dari orang-orang Kristen mula-mula mengenai aspek historis penting dari kematian Yesus Kristus.

Mengenai kebangkitanNya, ada beberapa bukti yang kuat. Ahli hukum dan negarawan internasional Sir Lionel Luckhoo (tercatat dalam Guinness Book of World Records untuk keberhasilannya dalam membela 245 kasus pembunuhan secara berturut-turut) menjadi lambang dari antusiasme dan keyakinan Kristen akan kuatnya bukti kebangkitan ketika dia menulis, “Saya memiliki pengalaman lebih dari 42 tahun sebagai pengacara di berbagai penjuru dunia dan masih praktek secara aktif hingga hari ini. Saya beruntung bahwa berkali-kali saya sukses dalam pengadilan dan dengan tegas saya harus katakan bahwa bukti dari kebangkitan Yesus Kristus begitu banyak dan kuat sehingga harus diterima tanpa ada keraguan sama sekali.”

Tidak mengherankan bahwa masyarakat sekuler menanggapi bukti-bukti itu secara apatis sesuai dengan sikap mereka yang bersiteguh dengan komitmen kepada metodologi naturalisme. Bagi mereka yang asing dengan istilah ini, metodologi naturalisme adalah usaha manusia untuk menjelaskan segala sesuatu berdasarkan alasan-alasan alamiah dan hanya alasan-alasan alamiah semata-mata. Jikalau apa yang dianggap sebagai peristiwa historis bertentangan dengan penjelasan alamiah (misalnya mujizat kebangkitan), para sarjana sekuler umumnya memperlakukannya dengan skeptisisme yang berlebihan, tanpa memperdulikan bukti yang sekuat apapun.

Dalam pandangan kami, sikap bersiteguh sedemikian terhadap penyebab-penyebab alamiah sekalipun tidak didukung oleh bukti-bukti yang cukup adalah merupakan sikap yang tidak kondusif terhadap penelitian yang tidak berpihak. Kami sepaham dengan Dr. Wehner von Braun dan banyak lagi yang lainnya yang tetap percaya bahwa memaksakan kecenderungan filosofi populer kepada bukti-bukti yang ada menghalangi obyektifitas. Dalam kata-kata dari Dr. Von Braun, “Dipaksa untuk percaya pada hanya satu kesimpulan … adalah pelanggaran terhadap obyektifitas sains itu sendiri.”

Setelah mengatakan demikian, mari kita menelaah beberapa bukti yang mendukung kebangkitan.

Bukti pertama mengenai kebangkitan Kristus
Mari kita mulai dengan kesaksian yang sungguh-sungguh dari para saksi mata. Para apologis Kristen yang mula-mula mengutip ratusan saksi mata, beberapa dari mereka mencatat pengalaman-pengalaman mereka sendiri. Banyak dari para saksi mata ini dengan sukarela dan tekad bulat mengalami penganiayaan yang panjang dan kematian daripada menyangkali kesaksian mereka. Fakta-fakta ini membuktikan kesungguhan mereka, tidak mungkin mereka menipu. Menurut catatan sejarah (Kisah Rasul 4:1-17; Surat Plini kepada Trajan X, 96, dll) kebanyakan orang Kristen dapat mengakhiri penderitaan mereka dengan menyangkali iman mereka. Namun kebanyakan justru memilih untuk menjalani penderitaan mereka dan tetap memberitakan kebangkitan Kristus sampai akhir hayat mereka.

Memang harus diakui bahwa sekalipun mati syahid itu mengagumkan, namun tidak betul-betul merupakan sesuatu yang kuat. Hal itu tidak meneguhkan kepercayaan sebaliknya lebih menekankan pada si orang percaya (dengan menunjukkan kesungguhan mereka dengan cara yang dapat dibuktikan). Apa yang membuat para martir Kristen mula-mula ini luar biasa adalah karena mereka tahu apakah yang mereka percaya itu benar atau tidak. Mereka benar-benar melihat Yesus hidup lagi setelah kematianNya atau sama sekali tidak. Ini yang luar biasa. Kalau semua ini hanya merupakan kebohongan, mengapa begitu banyak yang tetap mempertahankannya dalam keadaan yang mereka harus tanggung? Mengapa mereka terus berpegang pada dusta yang begitu merugikan dan bersedia menanggung penganiayaan, penjara, siksa dan kematian?

Walaupun tidak diragukan bahwa para pembajak pada peristiwa 11 September 2001 percaya pada apa yang mereka katakan (dibuktikan dengan kerelaan mereka untuk mati demi kepercayaan mereka) mereka tidak tahu dan tidak dapat tahu apakah semua itu benar atau tidak. Mereka beriman pada tradisi yang diwariskan kepada mereka secara turun temurun. Sebaliknya orang-orang Kristen mula-mula yang menjadi martir adalah orang-orang dari generasi pertama. Mereka melihat sendiri apa yang mereka katakan mereka lihat atau mereka sama sekali tidak melihatnya.

Dari antara para saksi yang paling menonjol adalah para Rasul. Secara kelompok mereka mengalami perubahan yang drastis setelah penampakan Kristus setelah dibangkitkan. Begitu Yesus disalib, mereka menyembunyikan diri dalam ketakutan. Setelah kebangkitan, mereka turun ke jalan, dengan berani memberitakan kebangkitan sekalipun harus mengalami penganiayaan yang makin berat. Bagaimana kita menjelaskan perubahan yang begitu mendadak dan drastis? Jelas bukan karena keuntungan finansial. Para Rasul mengorbankan segalanya, termasuk hidup mereka, demi untuk memberitakan kebangkitan.

Bukti kedua mengenai kebangkitan Kristus.
Bukti kedua berhubungan dengan pertobatan dari sekelompok orang yang ragu, yang paling menonjol adalah Paulus dan Yakobus. Menurut pengakuannya sendiri Paulus adalah seorang penganiaya gereja mula-mula yang keji. Setelah apa yang digambarkannya sebagai pertemuan dengan Kristus yang bangkit, Paulus mengalami perubahan yang mendadak dan drastis, dari penganiaya yang keji menjadi salah seorang pembela gereja yang paling tangguh dan pandai. Sama seperti orang-orang Kristen lainnya, Paulus mengalami penganiayaan, kekurangan, cambuk, pemenjaraan dan dieksekusi karena komitmennya yang tidak goyah terhadap kebangkitan Kristus.

Yakobus adalah seorang skeptik walaupun tidak melakukan kekerasan seperti Paulus. Pertemuannya dengan Kristus yang bangkit mengubah dia menjadi orang percaya yang sulit untuk ditiru, bahkan menjadi pemimpin gereja di Yerusalem. Hingga hari ini kita masih memiliki apa yang secara umum diterima oleh para sarjana sebagai salah satu dari surat-suratnya kepada gereja mula-mula. Sama seperti Paulus, Yakobus bersedia menderita dan mati demi kesaksiannya, suatu fakta yang membuktikan kesungguhan imannya (lihat Kisah Para Rasul dan Antiquities of Jews XX, ix, 1 yang ditulis oleh Josephus).
 
Bukti ketiga dan keempat mengenai kebangkitan Kristus.
Bukti ketiga dan keempat berhubungan dengan kesaksian dari para musuh mengenai kubur kosong dan fakta bahwa kepercayaan mengenai kebangkitan berakar di Yerusalem. Yesus dihukum mati di depan umum dan dikuburkan di Yerusalem. Adalah tidak mungkin untuk kepercayaan mengenai kebangkitannya dapat berakar di Yerusalem sementara tubuhnya masih tergeletak di dalam kubur yang dapat digali kembali oleh Sanhedrin, diperlihatkan kepada umum, dan dengan demikian membuktikan kepalsuan kebangkitannya. Sebaliknya, Sanhedrin menuduh para murid telah mencuri tubuh Yesus, nampaknya untuk menjelaskan hilangnya tubuh Yesus (dan kubur kosong). Bagaimana kita dapat menjelaskan fakta mengenai kubur kosong?

Berikut ini adalah tiga penjelasan yang paling umum.

Pertama, para murid mencuri tubuh Yesus. Kalau memang demikian, mereka akan tahu bahwa kebangkitan itu hanya merupakan suatu cerita bohong. Karena itu mereka tidak mungkin bersedia menderita dan mati untuk itu (lihat bukti pertama mengenai kesungguhan dari kesaksian para saksi mata). Semua saksi mata akan tahu bahwa mereka tidak betul-betul melihat Kristus bangkit dan karena itu mereka sudah berdusta. Dengan begitu banyak orang yang bersekongkol, salah seorang pasti akan mengaku, kalau bukan untuk mengakhiri penderitaannya, maka untuk mengakhiri penderitaan dari teman-teman dan keluarganya. Generasi Kristen yang pertama dianiaya dengan sangat kejam, khususnya setelah kebakaran di Roma pada tahun 64 AD (kebakaran yang katanya diperintahkan oleh Nero untuk menyediakan ruang untuk memperbesar istananya, tapi dituduhkan pada orang-orang Kristen di Roma untuk membebaskan diri sendiri). Sebagaimana dikisahkan oleh sejarahwan Roma, Cornelius Tacitus, dalam Annals of Imperial Rome (diterbitkan satu generasi setelah kebakaran itu)

“Nero menyalahkan dan dengan amat kejam menganiaya lapisan masyarakat yang paling dibenci, yaitu mereka yang disebut orang-orang Kristen oleh masyarakat umum. Pada masa pemerintaahan Tiberius, Kristus, sumber dari panggilan itu, menderita hukuman yang amat keji dalam tangan salah seorang penguasa kita, yaitu Pontius Pilatus, dan tahyul yang paling jahat yang untuk sementara terkendali kembali membara, bukan saja di Yudea, sumber kejahatan yang pertama, tapi juga di Roma, di mana segala hal yang najis dan memalukan dari seluruh dunia berdatangan dan menjadi populer. Seturut dengan itu, mula-mula mereka yang mengaku bersalah ditangkap, dan berdasarkan informasi dari mereka, khalayak ramaipun didakwa, bukan karena membakar kota, namun karena kejahatan melawan kemanusiaan. Sesudah matipun, mereka masih dihina dengan sangat. Mereka dipakaikan kulit binatang liar dan kemudian dicabik-cabik oleh anjing hingga mati, atau dipaku di salib, atau dibakar dengan api dan dijadikan penerangan malam ketika kegelapan tiba.” (Annals, XV, 44).

Nero menggunakan orang-orang Kristen yang dia bakar hidup-hidup sebagai penerangan untuk pesta-pesta taman yang diselenggarakannya. Menghadapi penderitaan dan kesakitan yang luar biasa seperti ini pasti akan ada yang mengakui kebenaran. Namun demikian, faktanya kita tidak mendapatkan catatan apapun bahwa ada orang Kristen mula-mula yang menyangkali iman mereka demi untuk mengakhiri penderitaan mereka. Sebaliknya kita mendapatkan berbagai kisah mengenai penampakan sesudah kebangkitan dan ratusan saksi mata yang bersedia menderita dan mati karenanya.

Jikalau para murid tidak mencuri tubuh Kristus, bagaimana kita menjelaskan kubur kosong? Ada yang mengatakan bahwa Kristus pura-pura mati dan belakangan melarikan diri dari kuburan. Ini sama sekali tidak masuk akal. Menurut para saksi mata, Kristus dipukuli, disiksa, dicambuk dan ditikam. Dia menderita luka dalam, kehilangan darah dalam jumlah besar, tidak bisa bernafas dan ditikam dengan tombak. Tidak ada dasar untuk percaya bahwa Yesus Kristus (atau siapapun) dapat lolos dari penderitaan seperti itu, pura-pura mati, berbaring dalam kubur selama tiga hari tiga malam tanpa mendapat perawatan medis, makanan atau air, menyingkirkan batu besar yang menutupi kuburnya, lari tanpa meninggalkan bekas (tanpa meninggalkan jejak darah), meyakinkan ratusan saksi mata bahwa dia bangkit dari kematian dan sehal walafiat, dan kemudian menghilang tanpa bekas. Pemikiran semacam ini sangat tidak masuk akal.

Bukti kelima mengenai kebangkitan Kristus.
Akhirnya, bukti kelima berhubungan dengan keanehan dari kesaksian para saksi mata. Dalam semua kisah utama mengenai kebangkitan, para wanita disebut sebagai para saksi yang pertama dan utama. Hal ini merupakan cara yang ganjil karena dalam budaya Roma dan Yahudi kuno para wanita sangat dipandang remeh. Kesaksian mereka dianggap tidak penting dan dapat diabaikan. Mengingat akan hal ini, sangat tidak mungkin bahwa pencipta cerita palsu dalam abad pertama Yahudi mau memilih wanita sebagai saksi-saksi utama. Dari sekian banyak murid-murid pria yang mengaku bertemu dengan Yesus yang bangkit, kalau saja semua itu adalah kebohongan dan kisah kebangkitan adalah penipuan, mengapa justru saksi-saksi yang paling diremehkan dan tidak dipercaya yang dipilih?

Dr. William Lane Craig menjelaskan, “Ketika Anda memahami peranan wanita dalam masyarakat Yahudi di abad pertama, luar biasa sekali bahwa kisah mengenai kubur kosong menampilkan wanita sebagai yang pertama-tama menemukan kubur kosong. Wanita menempati tingkatan yang sangat rendah dalam strata sosial di abad pertama Palestina. Ada pepatah kuno yang mengatakan “Lebih baik kata-kata Torat dibakar daripada diberikan kepada wanita,” dan “Diberkatilah dia yang mendapatkan anak laki-laki, namun celakalah dia yang mendapatkan anak perempuan.” Kesaksian para wanita dianggap tidak ada gunanya sehingga mereka tidak diizinkan untuk bertindak sebagai saksi dalam sistim pengadilan Yahudi. Dalam terang ini, sangatlah luar biasa bahwa para saksi utama dari kubur kosong adalah para wanita ini. … Semua kisah legenda pada jama belakangan pasti akan menggambarkan murid-murid laki-laki yang menemukan kubur itu, misalnya Petrus atau Yohanes. Fakta bahwa para wanita adalah saksi mula-mula dari kubur kosong dapat dijelaskan dengan penuh kepastian bahwa kenyataannya, suka atau tidak suka, merekalah yang menemukan kubur kosong! Hal ini memperlihatkan bahwa para penulis Injil dengan setia mencatat apa yang terjadi sekalipun itu memalukan. Hal ini membuktikan sifat historis dari tradisi ini dan bukan sebagai legenda. (Dr. William Lane Craig, dikutip oleh Lee Strobel, The Case for Christ, Grand Rapids: Zondervan, 1998, hal. 293.

Ringkasan
Bukti-bukti ini: kesungguhan yang nyata dari para saksi mata (dan dalam hal para Rasul, perubahan yang drastis dan tak terduga), pertobatan dan kesungguhan dari para antagonis dan orang-orang skeptik yang kemudian mati syahid, fakta mengenai kubur kosong, kesaksian dari musuh mengenai kubur kosong, fakta bahwa semua peristiwa ini terjadi di Yerusalem di mana kepercayaan mengenai kebangkitan muncul dan berkembang, kesaksian dari para wanita, makna dari kesaksian mereka dalam konteks sejarah; semua ini secara kuat menyaksikan sifat historis dari kebangkitan. Kami mendorong para pembaca untuk mempertimbangkan bukti-bukti ini. Apa yang dikatakan oleh bukti-bukti ini kepada Anda? Setelah merenungkannya, kami dengan penuh ketekadan mendukung pernyataan dari Sir Lionel:“

“Bukti dari kebangkitan Yesus Kristus begitu banyak dan kuat sehingga harus diterima tanpa ada keraguan sama sekali.”

HATI YANG MURNI

Ayat bacaan: Matius 5:8
====================
"Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah."


hati yang tulus, murni, suciApa yang ada di dalam hati kita ketika kita mengulurkan tangan kita untuk membantu orang-orang yang kekurangan, ketika kita melayani Tuhan dan melakukan pekerjaanNya? Banyak yang melayani, namun tidak seluruhnya memiliki kondisi hati yang sesuai dengan apa yang dikehendaki Tuhan. Ada orang yang dengan tulus sungguh-sungguh melayani karena mengasihi Tuhan, tapi ada pula orang yang melayani karena ingin membesarkan dirinya sendiri. Ingin terlihat hebat, ingin terlihat rohani, ingin menonjolkan kemampuan dan sebagainya. Ada pula yang karena ingin menarik perhatian kekasihnya, karena paksaan orang tua, ingin mendapat pujian dan lain-lain. Ada pula yang melayani karena hanya ingin mendapatkan upah dari Tuhan. Betapa banyaknya motivasi yang bisa menjadi dasar dari pelayanan dan perbuatan yang kita lakukan untuk orang lain. Tuhan tentu menghargai pelayanan kita, namun itu hanya terjadi apabila kita melakukannya dengan tulus, dengan hati yang murni.

Salah satu ucapan Kristus dari rangkaian kotbahNya di atas bukit yang terkenal berbunyi seperti berikut: "Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah." (Matius 5:8). Dalam bahasa Inggrisnya, kata hati suci ini disebutkan dengan "pure heart". Hati yang murni akan membuat kita melihat Allah. Melihat kuasa-kuasaNya, melihat jalan-jalanNya, melihat petunjukNya dan melihat rencanaNya. Ini sejalan dengan apa yang ditulis oleh Daud. "Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia." (Mazmur 24:4-5). Sesungguhnya Tuhan menyediakan upah kepada orang-orang yang memiliki ketulusan, kemurnian atau kesucian hati. Ada berkat dan keadilan serta keselamatan yang diberikan Tuhan kepada orang-orang yang demikian. Tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, termasuk menipu diri sendiri dan orang lain atau bahkan berpikir untuk bisa mengelabui Tuhan. Orang-orang yang memiliki ketulusan untuk melakukan firman Tuhan, menolong sesama, mengasihi sesama, melayani tanpa pamrih, bukan karena berharap apa-apa dan ingin terlihat seperti apa di mata orang, tapi hanya karena Allah, orang-orang seperti inilah yang akan menikmati perlindungan dari Tuhan dan berbagai berkat-berkatNya yang tercurah dari langit.

Hati yang tulus dan suci ini bisa kita dapatkan lewat pengenalan kita secara pribadi akan Tuhan, lewat firman-firmanNya yang tertulis dalam alkitab dan juga lewat doa-doa kita secara pribadi dengan Tuhan. Bergaul akrab dengan Tuhan, tinggal di dalam hadiratNya, semua ini akan membuat kita bisa memiliki sebentuk hati yang mengasihi Tuhan lebih dari segalanya. Bukan sekedar doa karena rutinitas, karena terpaksa, atau karena sekedar kewajiban saja, bukan pula doa yang berupa hafalan. Mencurahkan isi hati kita secara total kepada Tuhan dengan sejujur-jujurnya akan sangat berbeda dibandingkan doa berbentuk hafalan atau sekedar rutinitas semata. Disitulah kita akan mengalami proses pencucian dan pemurnian hati. Hari demi hari kita akan semakin terbentuk menjadi pribadi berkarakter yang kuat berakar pada Kristus. Dan hari demi hari kita pun akan semakin mampu melayani dengan ketulusan dan kemurnian hati. Inilah yang akan bernilai di hadapan Tuhan.

Tuhan tidak menyukai orang-orang yang munafik dalam hal apapun. Dalam hal memberi: "Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu." (Matius 6:2-4). Dalam hal berdoa: "Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya....Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan." (ay 5,7). Atau dalam hal berpuasa: "Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya." (ay 16). Munafik bertolak belakang dengan tulus dan murni, karena dalam kemunafikan ada begitu banyak motivasi yang tersembunyi di balik layar yang mencemarkan hati kita.

Mari hari ini kita sama-sama memeriksa hati kita. Sudahkah kita memiliki hati yang tulus, suci dan murni dalam menjalani hidup? Apakah kita sudah melayani dengan tulus ikhlas hanya karena Tuhan dan bukan hal-hal yang memegahkan diri kita sendiri? Pemazmur mengatakan "Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya." (Mazmur 73:1). Sesungguhnya ada berkat-berkat dan perlindungan yang disediakan Tuhan kepada orang-orang yang tulus dan bersih hati ini. Itu adalah anugerah Tuhan yang dengan sendirinya akan datang kepada orang seperti ini tanpa harus ditagih terlebih dahulu. Dasarkanlah segala sesuatu yang kita lakukan dengan hati yang bersih dan tulus, suci dan murni agar kita bisa merasakan kebaikan Tuhan senantiasa menyertai kita dalam hidup. Karena akan sia-sia saja kita berbuat baik dan melayani apabila hati kita masih mengalami polusi dari berbagai limbah yang bukan berasal dari Allah. Munafik akan menerima upah, tulus dan murni pun menerima upah. Tapi upahnya jelas berbeda. Yang mana yang akan kita pilih sungguh tergantung dari bagaimana sikap dan kondisi hati kita. Sungguh tepat jika Salomo pun mengingatkan : "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." (Amsal 4:23). Adakah hati kita masih mengalami pencemaran dari berbagai hal? Mari kita bersihkan dengan lebih bertekun lagi membina hubungan dengan Tuhan. Milikilah hati yang suci, karena hanya dengan demikianlah kita bisa melihat Tuhan.

Alami kebaikan, penyertaan, berkat dan perlindungan Tuhan lewat hati yang tulus, bersih, suci dan murni.

MEMERDEKAKAN IMAN LEWAT PENGAMPUNAN

Ayat bacaan: Markus 11:25
======================

"Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu."


memerdekakan iman, pengampunanBeberapa hari yang lalu seorang teman bercerita bahwa ia sempat mengalami kesulitan air selama beberapa hari. Setelah ditelusuri, ternyata masalahnya bukanlah dari PAM (Perusahaan Air Minum) seperti yang ia duga sebelumnya. Masalah ternyata muncul akibat terjadinya penyumbatan pada pipa yang menyalurkan air menuju ke rumahnya. Setelah pipa dibersihkan, air pun kembali mengucur dengan baik masuk ke rumahnya. Ketika air tidak mengalir di rumah, biasanya kita akan segera menduga bahwa masalah berasal dari sumbernya, tapi ternyata masalah pun bisa terjadi dari halaman rumah kita sendiri. Keesokan harinya ada teman lain yang mengeluh bahwa doanya tidak juga mendapat jawaban. Dan saya pun teringat akan kisah air mampet di atas.

Ketika kita berdoa dan jawaban tidak kunjung datang, ada banyak di antara kita yang segera menyalahkan Tuhan. Tuhan dianggap tidak tanggap, tidak peduli atau berat sebelah. Tetangga kita doanya dikabulkan, sedangkan kita tidak. Ada beberapa perkara yang menjadi penyebabnya. Bisa jadi memang waktunya belum tiba sesuai dengan waktu Tuhan. Karena firman Tuhan berkata, "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya." (Pengkotbah 3:11a). Yang terbaik tentulah sesuatu yang sesuai dengan waktunya Tuhan. Doa belum dikabulkan bisa jadi juga akibat dosa-dosa yang masih terus kita lakukan. "Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu." (Yesaya 59:1-2). Alasan lainnya? Bisa pula karena perlakuan suami terhadap istrinya belumlah benar. "Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang." (1 Petrus 3:7). Dan satu lagi penghambat doa-doa kita didengar Tuhan adalah ketika kita masih menyimpan dendam dan belum bisa memberikan pengampunan. Inilah yang akan saya angkat untuk renungan hari ini.

Tidak banyak orang yang menyadari betapa eratnya hubungan antara iman dan pengampunan. Yesus pernah mengajarkan mengenai hubungan ini dalam kotbahNya mengenai sebentuk iman yang mampu memindahkan gunung hingga tercampak ke laut. (Markus 11:23). Apa yang dikatakan Yesus pada saat itu sebagai syarat adalah keteguhan hati kita. Tidak bimbang, tetap percaya, maka hal itu akan terjadi. Yesus melanjutkan pula dengan ayat yang sudah begitu kita kenal dengan baik. "Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu." (ay 24). Tapi kemudian lihatlah ayat berikutnya. "Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu." (ay 25). Bahkan kemudian menekankan sekali lagi akan hal sebaliknya "Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu." (ay 26). Sebelum kita berdoa, kita wajib terlebih dahulu mengampuni orang-orang yang masih mengganjal dalam hati kita. Artinya, jangan berdoa dulu sebelum kita melepaskan sakit hati atau dendam yang masih bercokol di dalam hati kita.

Ini adalah sebuah pesan penting. Pasti bukan kebetulan jika Yesus menopang gabungan kedua kalimat itu. Tuhan Yesus ingin kita tahu bahwa membebaskan orang-orang yang bersalah kepada kita adalah dasar utama untuk menerima sesuatu dari Tuhan. Tuhan selalu siap mengampuni kesalahan kita sebesar apapun, dan itu bisa terjadi apabila kita mau mengampuni kesalahan orang. "Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga." (Matius 6:14). Fakta menarik dikemukakan Yesus lewat sandingan ayat antara menerima apa yang kita doakan dengan memberikan pengampunan kepada orang-orang yang sudah menyakiti kita. Fakta itu adalah: Jangan berharap doa kita didengar jika kita masih menyimpan sakit hati dan dendam terhadap orang lain. Kita tidak akan dapat memperoleh pengabulan doa dan dendam dalam hati kita sekaligus.

Tuhan memberikan pengampunan yang tidak terbatas, dan kita pun seharusnya demikian terhadap sesama kita. Menyimpan dendam dalam diri kita, selain akan menimbulkan berbagai penyakit dan membuat kita tidak bisa melangkah maju, tapi juga membuat doa-doa kita terhalang, membelenggu iman kita sehingga tidak bisa tumbuh bahkan menghilangkan kesempatan kita untuk menerima pengampunan dari Tuhan. Sungguh perihal pengampunan ini memegang peranan penting bagi pertumbuhan iman kita dan sangat menentukan terhadap apakah doa kita terhalang atau bisa menemukan jawaban. Tidak mudah memang, apalagi jika kita mengandalkan kekuatan diri sendiri untuk memberikan pengampunan. Hampir-hampir mustahil, terutama ketika apa yang dilakukan seseorang menyisakan trauma dan penderitaan yang harus kita pikul untuk waktu yang lama. Tapi sudah menjadi perintah Tuhan bagi kita untuk bisa mengampuni, dan karena itulah kita wajib mentaatinya. Kekuatan kita mungkin terbatas, tapi serahkanlah kepada Tuhan dan mintalah Roh Kudus untuk menguatkan diri kita hingga membuat kita sanggup memberikan pengampunan. Diri kita sendiri mungkin tidak sanggup, tapi bersama Roh Kudus kita pasti sanggup.

Sesungguhnya Tuhan tidak sabar untuk menyatakan kasihNya kepada kita. Dia tidak sabar untuk menjawab doa-doa kita yang tetap menanti-nantikan Dia tanpa putus pengharapan. "Sebab itu TUHAN menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih-Nya kepada kamu; sebab itu Ia bangkit hendak menyayangi kamu. Sebab TUHAN adalah Allah yang adil; berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia!" (Yesaya 30:18). Jika anda telah berdoa untuk sesuatu dan tidak kunjung memperoleh jawaban, tidak ada salahnya untuk kembali memeriksa hati anda. Jika anda menemui ganjalan terhadap seseorang, memiliki sakit hati atau dendam, bereskanlah itu terlebih dahulu. Mintalah Roh Kudus untuk membantu anda mengeluarkannya dari hati anda. Buanglah sumbatan pada saluran iman anda. Bebaskan iman anda dari belenggu kepahitan, sakit hati dan dendam, merdekakanlah iman anda dengan segera. Maka anda pun akan segera menyaksikan bagaimana Tuhan menjawab doa-doa anda dengan begitu luar biasa, bahkan memenuhi anda dengan berkat-berkatNya yang melimpah.

Bersihkan sumbatan dan segera merdekakan iman kita lewat pengampunan

MENGAPA KEBANGKITAN KRISTUS PENTING ?

Kebangkitan Kristus penting adanya karena beberapa penyebab :
 
Pertama, kebangkitan menyaksikan kuasa Allah yang luar biasa dahsyatnya. Mempercayai kebangkitan adalah mempercayai Allah. Kalau Allah itu ada, dan Dia menciptakan alam semesta dan berkuasa atasnya, Dia memiliki kuasa untuk membangkitkan orang mati. Jikalau Dia tidak memiliki kuasa seperti itu, Dia bukanlah Allah yang layak untuk diimani dan disembah. Hanya Dia sang Pencipta hidup yang dapat membangkitkan kembali dari kematian, hanya Dia yang dapat memulihkan dari kengerian kematian, dan hanya Dia yang dapat menyingkirkan sengat yang adalah kematian itu, dan kemenangan dari kubur. Dengan membangkitkan Yesus dari antara kubur, Allah mengingatkan kita kedaulatanNya yang mutlak atas dosa dan kematian.

Kedua, kebangkitan Yesus adalah kesaksian akan kebangkitan umat manusia, yang adalah merupakan ciri dasar dari iman Kristen. Berbeda dengan agama-agama lainnya, keKristenan belaka yang memiliki pendiri yang melampaui kematian dan yang menjanjikan bahwa para pengikutNya juga akan demikian. Semua agama (palsu) lainnya didirikan oleh manusia dan nabi yang semuanya berakhir di dalam kuburan. Sebagai orang-orang Kristen kita mendapat penghiburan dalam fakta bahwa Allah kita menjadi manusia, mati bagi dosa-dosa kita, dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Kubur tidak dapat menahanNya. Dia hidup dan sekarang duduk di sebelah kanan Allah Bapa di surga. Gereja yang hidup memiliki Kepala yang hidup.

Dalam 1 Korintus 15 Paulus menjelaskan secara detil pentingnya kebangkitan Kristus. Beberapa orang di Korintus tidak percaya pada kebangkitan orang mati, dan dalam pasal ini Paulis memberikan enam konsekwensi yang parah kalau tidak ada kebangkitan: 1) pemberitaan akan Kristus tidak ada artinya (ayat 14); 2) iman dalam Kristus tidak ada gunanya (ayat 14); 3) semua saksi dan pemberita kebangkitan adalah pendusta (ayat 15); 4) tidak ada yang akan ditebus dari dosa (ayat 17); 5) orang-orang percaya pada zaman dulu semua binasa (ayat 18); dan 6) orang-orang Kristen adalah orang yang paling dikasihani di seluruh dunia (ayat 19). Namun Kristus yang sudah bangkit dari antara orang mati dan “telah menjadi buah sulung dari semua yang tertidur” (ayat 20), menjadi jaminan bahwa kita juga akan mengikuti Dia dalam kebangkitan.

Firman Allah yang diinspirasikan menjamin kebangkitan orang-orang percaya pada kedatangan Yesus Kristus untuk TubuhNya (Gereja) pada saat pengangkatan orang percaya. Pengharapan dan jaminan semacam ini diungkapkan dalam nyanyian agung mengenai kemenangan yang ditulis oleh Paulus dalam 1 Korintus 15:155, “Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?"” Bagaimanakah ayat-ayat penutup ini berhubungan dengan pentingnya kebangkitan? Paulus menjawab, “… jerih payahmu tidaklah sia-sia” (ayat 58). Dia mengingatkan kita bahwa karena kita tahu kita akan dibangkitkan kepada kehidupan yang baru maka kita mampu menanggung penganiayaan dan bahaya demi untuk Kristus (ayat 29-31) sebagaimana yang dialami oleh Kristus, dan juga oleh ribuan martir sepanjang sejarah yang dengan senang hati memberikan hidup dalam dunia ini untuk hidup kekal melalui kebangkitan.

Kebangkitan adalah kemenangan agung dan mulia bagi setiap orang percaya dalam Yesus Kristus yang mati, dikuburkan, dan bangkit pada hari ketiga sesuai dengan Kitab Suci. Dan Dia datang kembali! Orang-orang yang mati di dalam Kristus akan dibangkitkan, dan mereka yang masih tinggal dan hidup pada saat kedatanganNya akan diubah dan menerima tubuh baru yang dimuliakan (1 Tesalonika 4:13-18). Mengapa kebangkitan Yesus Kristus penting? Kebangkitan Yesus mendemonstrasikan bahwa Allah menerima pengorbanan Yesus bagi kita. Hal itu membuktikan bahwa Allah berkuasa untuk membangkitkan kita dari antara orang mati. Hal itu menjamin bahwa mereka yang percaya pada Kristus tidak akan tinggal mati, namun akan dibangkitkan kepada kehidupan kekal. Inilah pengharapan agung kita!

28 November 2009

MENGHUJAT KEPADA ROH KUDUS ADALAH DOSA KEKAL

Bacalah Markus 3 : 20 - 30

Tugas utama Tuhan Yesus adalah memberitakan Kerajaan Allah atau pemerintahan Allah. Tugas itu dilakukan dengan mengajar dan melakukan mujizat kepada semua orang yang dijumpai-Nya. Kuasa yang mengurapi Tuhan Yesus dalam tugas-Nya adalah Roh Kudus. Tidak aneh jika dikatakan bahwa orang banyak selalu takjub ketika mendengar ajaran dan melihat tanda ajaib yang dilakukan oleh Yesus.

Para ahli Taurat sebagai pengajar Israel tidak memiliki sikap dan tindakan mengajar seperti itu. Karena itu mereka berupaya menghasut orang banyak dengan menuduh yang sembarangan. Dalam bacaan kita tampak bahwa para ahli Taurat menuduh Yesus mempergunakan kuasa Beelzebul (penghulu setan) ketika mengusir setan dari orang yang kerasukan. Ini artinya mereka tidak mengakui kuasa yang mengurapi Yesus dalam melaksanakan tugas-Nya. Tuduhan para ahli Taurat ini, oleh Yesus dinilai sebagai penghujatan kepada Roh Kudus; dan bagi Yesus, itu dosa yang tidak terampuni (ayat 29).

Roh kudus berperan untuk MENGINSAFKAN dunia dan manusia akan dosa, kebenaran dan penghakiman" (Yoh.16:8). Peranan-Nya nyata dalam tutur, laku dan tindakan Yesus yang dilanjutkan oleh para Rasul dan kemudian oleh Gereja. Bagaimana seseorang insaf akan dosa-dosanya dan bertobat lalu hidup dalam kebenaran karena sadar akan penghakiman kekal, semua adalah karya Roh Kudus. Jadi kalau tidak insaf, tidak bertobat serta tidak hidup dalam kebenaran, itu sama dengan menolak karya Roh Kudus. Akibatnya tidak akan bebas dari penghakiman dan hukuman kekal. Apalagi menuduh Roh Kudus yang mengurapi Yesus dalam seluruh kata dan tindakan-Nya sebagai roh setan; ‘alama'; bahaya! Nah, supaya kita terhindar dari tindakan menghujat Roh Kudus maka jangan pernah menuduh atau menghujat siapapun, apalagi menghujat Firman yang diberitakan oleh para hamba yang diurapi Tuhan.

PERTOBATAN MENANGKAL KESULITAN

Bacalah Keluaran 8: 1-32


Ada pola sederhana yang bisa dicermati dalam perikop kita. Saat Firaun terancam, dia berbaik-baik dan berjanji bagi Musa dan Harun tentang Israel. Tetapi saat ancaman selesai, dia dengan gampang melupakan janjinya dan kembali mengeraskan hati. Pola seperti ini kita alami sepanjang kehidupan, termasuk mungkin sepanjang hari ini.

Sayang sekali, bahwa sering pola ini bukan hanya dianut oleh orang orang ‘diluar' persekutuan. Pola ini sering dianut oleh orang orang yang kita pandang seiman. Atau mungkin sekali kita sebagai pribadi juga menganut pola seperti ini. Ketika terancam, kita berbaik-baik. Ketika ancaman mengendor, kita jadi makin arogan. Kita lalu menjadi tidak konsisten. Lain dihati, lain di bibir, lain dipikir.

Terhadap pola tingkah manusia yang salah, kita melihat juga ‘pola' Tuhan yang tegas. Hukumannya makin lama makin berat. Maka jelaslah bahwa tanpa pertobatan, kita setiap hari menambah bencana dalam kehidupan. Sebuah pertobatan bisa menghentikan bukan hanya satu hukuman, melainkan satu rangkaian hukuman. Betapa tidak bijaksananya menunda pertobatan. Sebab itu hanya menambah malapetaka yang sebetulnya tidak usah terjadi.

Ketika akan mengakhiri hari ini, kita sadar akan banyaknya kekurangan yang memerlukan penyempurnaan dari Tuhan. Banyak kesalahan yang perlu dibawa pada Tuhan untuk beroleh pengampunan. Namun kita tidak pernah dapat memastikan bagian mana dalam perilaku kita yang berakibat baik bagi sesama dan yang membuat orang lain memuji nama Tuhan. Kita juga tidak dapat memastikan hal mana saja yang kita lakukan hari ini yang akan berakibat serius bagi masa depan. Jadi, sebelum mengakhiri hari ini, mari menyerahkan segala kuatir kepada Tuhan. Sebab hanya Dia yang mempedulikan kita.

MENANG ATAS COBAAN

Bacalah Matius 4: 1-10

Hidup tak pernah sepi dari godaan dan cobaan. Bagaikan gelombang di laut yang selalu bergulung, entah dari mana asalnya. Demikianlah kehidupan, godaan dan cobaan datang silih berganti. Yang satu belum usai tetapi yang lain sudah datang menghadang.

Hidup dekat dengan Tuhan ternyata tak lepas dari godaan dan cobaan. Bahkan semakin dekat dengan Tuhan semakin banyak pula godaan dan cobaan. Iblis tak pernah menyerah. Ia seperti singa yang selalu siap menerkam. Kalau kita lengah sedikit saja iblis segera memangsa kita.

Tidak hanya kita manusia, Yesus pun dicobai iblis. Serangannya bertubi-tubi, tetapi Yesus selalu sigap. Pertama, soal kebutuhan akan makanan (ayat 3). Serangan ini Ia patahkan dengan kekuatan firman Allah(ayat 4). Iblis pun kalah karena hidup manusia tidak bergantung pada hal jasmaniah semata tetapi lebih pada hal yang rohaniah.  
Kedua, soal percaya kepada Allah (ayat`6). Serangan ini pun dipatahkan Yesus. Percaya kepada Allah tidak perlu pembuktian. Iblis kalah lagi.  
Ketiga, soal kenikmatan dunia (ayat`8). Ini pun tak mempan. Yesus tak mau diperhamba oleh kenikmatan dunia. Ia hanya mau menjadi hamba Allah dengan menyembahnya.

Kebutuhan jasmani memang perlu tetapi jangan sampai kita mendewa-dewakan materi sehingga melupakan Allah. Penuhilah kebutuhan jasmani dengan cara-cara yang berkenan kepada Allah. Ia pasti mengaruniakan hidup yang berkelimpahan bagi kita. Sebagaimana Allah telah menyerahkan Putra-Nya bagi kita -Ia juga yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi rela menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia? (Roma 8:32). Hanya di dalam Dia hidup kita diberkati dan hanya Dia-lah Allah yang patut disembah dan dimuliakan.

MEMELIHARA IMAN

Bacalah Matius 16: 5-12
 

Alkisah ada suatu desa yang diserang wabah penyakit. Seorang ayah dan ibu beserta anaknya yang masih bayi lari ke hutan menghindari wabah penyakit tersebut. Konon si ayah dan si ibu meninggal dunia dan anaknya yang masih bayi ditemukan oleh seekor orang utan betina. Bayi manusia itu ikut menyusu pada orang utan betina bersama anak-anaknya yang lain. Ketika menjadi besar ia hidup sebagaimana layaknya seekor orang utan. Ia bertelanjang, melompat dari satu pohon ke pohon lainnya, makan segala yang ada di hutan dan tidak dapat berbicara. Lingkungan sangat mempengaruhi bahkan ikut membentuk seseorang, begitu juga pergaulan sehari-hari. "Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik" (1 Kor. 15:33).

Begitulah Tuhan Yesus mengingatkan para murid-Nya supaya berhati-hati terhadap orang Farisi dan Saduki. Ajaran mereka yang tidak mempercayai adanya kebangkitan dapat merusak iman. Iman Kristen bertumpu sepenuhnya pada kebangkitan Kristus. "Sebab jika benar orang mati tidak dibangkitkan, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Dan Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu" (1 Kor.15: 16-17).

Saat ini masih banyak orang yang tidak percaya bahwa Yesus sungguh-sungguh telah disalibkan dan kemudian bangkit. Dikatakan bahwa yang disalibkan itu bukan Yesus tetapi orang lain. Lebih lanjut diceritakan bahwa Yesus menyingkir ke India dan hidup sampai tua disana. Cerita ini adalah dongeng yang tidak jelas kebenarannya dan lebih daripada itu, bertentangan dengan apa yang tertulis dalam kitab suci. Sebagai pengikut Kristus dewasa ini kita pun harus selalu waspada dan memelihara iman kita supaya tidak terpengaruh ajaran-ajaran yang menyesatkan. Jadilah seperti ikan di laut yang hidup di air yang asin tetapi tidak pernah menjadi asin.

24 November 2009

TEGASLAH TERHADAP PERTENGKARAN

Ayat bacaan: Amsal 17:14
"Memulai pertengkaran adalah seperti membuka jalan air; jadi undurlah sebelum perbantahan mulai."


pertengkaranBulan Maret kemarin kita dikejutkan dengan tragedi Situ Gintung. Hujan deras yang turun membuat tanggul tidak mampu menahan dorongan air. Tanggul pun bobol, bencana banjir bandang terjadi. Hanya dalam waktu singkat 2,1 juta meter kubik air pun melanda rumah-rumah penduduk yang berada di bawah tanggul. Berulang-ulang berita ditayangkan di TV terasa mengiris hati. Bayangkan bagaimana rasanya orang tua kehilangan anak, anak kehilangan orang tua, kehilangan sanak saudara. Hanya dalam waktu yang sangat singkat, hanya dalam hitungan menit, tiba-tiba begitu banyak orang kehilangan harta, saudara, anak, keluarga, teman dan juga nyawa. Musibah bisa terjadi begitu mendadak. Ketika tanggul jebol, tidak ada satupun orang yang sanggup menghentikan limpahan air deras yang menyeruak keluar dari tembok yang retak itu dalam waktu singkat.

Lihatlah betapa mengerikannya bencana yang bisa diakibatkan oleh pecahnya tanggul yang bertugas menahan air. Seperti itulah bahaya pertengkaran menurut firman Tuhan. Alkitab menggambarkan memulai pertengkaran sama seperti membobol dinding penahan air. Jika tanggul terbuka, meski sedikit saja pada awalnya, air pasti akan terus mendorong tanggul, memperbesar retaknya sehingga air akan memancar semakin deras dan menenggelamkan sekitarnya. Tidak lagi terkendali, liar dan ganas, berpotensi menghancurkan orang lain dan tentunya diri kita sendiri. "Memulai pertengkaran adalah seperti membuka jalan air; jadi undurlah sebelum perbantahan mulai." (Amsal 17:14). Tidak sembarangan Tuhan mengingatkan bahaya pertengkaran, karena ini merupakan satu dari masalah yang paling umum terdapat dalam kehidupan, bahkan sering menyerang orang-orang percaya. Kita tidak sadar dan membiarkan hal ini masuk kemana-mana. Di rumah, di tempat kerja, di kampus, sekolah, lingkungan rumah bahkan gereja sekalipun tidak luput dari bahaya pertengkaran ini.

Tentu saja tidak seorangpun di antara kita dengan sengaja membiarkannya masuk. Kita tidak pernah bangun di pagi hari dan langsung berkata, "saya mau bertengkar hari ini, yang besar sekalian.." Tidak. Yang terjadi biasanya adalah kita tidak waspada dan membiarkan kekesalan kecil hinggap pada diri kita, kemudian membiarkannya terus membesar hingga tidak terkendali, seperti tanggul jebol. Tanpa sadar, kita sudah masuk ke dalam sebuah pertengkaran yang sulit dikendalikan. Begitu banyak rumah tangga yang hancur akibat tingginya frekuensi pertengkaran di rumah. Rumah tidak lagi nyaman. Suasana panas, saling benci. "Tapi saya manusia, bukan robot, wajar dong jika merasa kesal dengan perlakuan pasangan kita, tetangga atau teman pada suatu ketika?" Tentu saja. Ada saatnya mungkin kita merasa kesal dengan perilaku seseorang, yang paling dekat sekalipun. Namun kita harus mampu mengendalikannya sebelum menjadi besar. Apa yang saya lakukan jika terjadi perselisihan kecil dengan istri saya? Saya akan berusaha diam dan menarik diri dari potensi pertengkaran. Saya menenangkan diri, ia pun demikian. Setelah reda, sebuah pelukan hangat biasanya akan mengakhiri kejengkelan. Setidaknya kami berdua berkomitmen untuk mengakhiri perselisihan sebelum pergi tidur. Sebuah anjuran yang mirip terdapat dalam kitab Efesus. "Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu" (Efesus 4:26). And it works really well.

Pertengkaran bisa berawal dari berbagai sebab yang biasanya dimulai dengan perselisihan akan hal kecil. Yakobus mengatakan bahwa pertengkaran berasal dari nafsu duniawi yang ada dalam diri kita. "Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu? Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi." (Yakobus 1:4-5a). Menyimpan kekesalan atau sakit hati berlarut-larut pun berpotensi menimbulkan pertengkaran. "Sebab, kalau susu ditekan, mentega dihasilkan, dan kalau hidung ditekan, darah keluar, dan kalau kemarahan ditekan, pertengkaran timbul." (Amsal 30:33). Selain itu, ego, keangkuhan, sikap tidak mau kalah dan lain-lain pun bisa menimbulkan pertengkaran. Karena itulah kita diminta untuk bisa memaafkan orang dengan segera dan bersikap rendah hati, mau belajar untuk lebih memahami dan menerima orang lain apa adanya. Tidak ada manusia yang sempurna. Masalah yang timbul bisa diselesaikan baik-baik pada saat yang tepat, tidak terburu-buru. Alkitab juga mencatat fakta yang menarik dan memang benar: orang yang suka bertengkar biasanya juga suka pada pelanggaran atau dosa. "Siapa suka bertengkar, suka juga kepada pelanggaran, siapa memewahkan pintunya mencari kehancuran." (Amsal 17:19).

Jika kita terbiasa untuk lekas emosi, mudah naik pitam untuk hal-hal yang kecil sekalipun, ini saatnya untuk mulai belajar menghilangkannya. Bersikap tegaslah terhadap pertengkaran. Jangan membiarkannya merusak hidup kita sendiri dan orang lain. Mungkin perlu waktu, tapi setidaknya kita harus mulai dari sekarang. Ambillah sebuah komitmen bahwa dengan kuasa Tuhan, tidak akan ada hal yang bisa merampas sukacita dari diri kita, termasuk kekesalan yang bisa mengarah kepada pertengkaran. Sedini mungkin kita harus terus menjaga agar tanggul pertahanan emosi kita tetap kuat sehingga tidak bisa dijebol oleh kemarahan yang pada suatu saat tidak lagi bisa kita kendalikan. Ingatlah penyesalan biasanya datang terlambat, oleh karenanya kita harus senantiasa menjaga kestabilan emosi kita dan tidak cepat menuruti emosi dalam diri kita. Jika mengontrol emosi terasa sulit, mintalah Roh Kudus membantu kita dalam mengatasinya. Cepat lakukan itu sebelum kita mulai berbuat dosa. Selain itu ingatlah bahwa amarah manusia itu tidaklah pernah menyenangkan hati Tuhan. "Sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah." (Yakobus 1:20). Firman Tuhan juga berkata "Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!" (Roma 12:18). Selagi masih sadar dan masih bisa mengendalikan emosi, redamlah segera sebelum semuanya menjadi runyam. Tolaklah emosi sejak awal, dan katakan pada diri anda bahwa anda ingin berjalan dalam sejahtera dan damai sukacita Tuhan hari ini. Selain itu baik bagi kesehatan, anda pun akan merasa heran betapa hidup ini ternyata lebih indah jika dijalani tanpa emosi atau pertengkaran.


Don't open something we can't control. Jangan buka pintu pertengkaran yang nantinya tidak bisa kita kendalikan

2012 ???

Misalkan Dunia Berakhir
Setelah menghancurkan dunia dengan serangan alien (Independence Day, 1996) dan gebyuran gelombang pasang akibat pemanasan global (The Day After Tomorrow, 2004), Roland Emmerich kembali menjungkirbalikkan dunia. Kali ini ia menggelontorkan air bah---semacam kisah Nuh dalam latar modern.

Judul dua film kiamatnya itu mengacu pada latar waktu terjadinya peristiwa. Begitu juga dengan judul film terbarunya ini: 2012. Nah, ini angka tahun yang menarik.

Kalau anda rajin menyambangi toko buku, sejumlah judul yang bertopik 2012 siap menunggu Anda. Bagi yang aktif berselancar di internet, fenomena 2012 telah lama menjadi bahan silang pendapat. Usai nonton film Knowing, yang klimaksnya menampilkan leburnya dunia, seorang wanita di sebelah teman saya langsung nyeletuk, “Mas sudah siap menghadapi 2012?”

Ada apa dengan tahun 2012?

Berakhirnya Siklus Agung
Tahun 2012 mengacu pada suatu ramalan suku Maya. Suku yang pernah hidup di selatan Meksiko atau Guatemala pada abad keempat dan kelima ini dikenal menguasai ilmu falak dan sistem penanggalan. Melalui pengamatan benda-benda langit dengan mata telanjang, mereka mampu mampu melakukan kalkulasi dengan taraf akurasi yang tinggi.
Menurut mereka, keberadaan dunia ini berlangsung dalam suatu Siklus Agung. Dunia yang tengah berjalan saat ini siklusnya dimulai pada 11 atau 13 Agustus 3114 Sebelum Masehi dan diperkirakan akan berakhir pada 21 atau 23 Desember 2012 Masehi. Itu dia!
Berakhirnya suatu siklus antara lain ditandai dengan memuncaknya aktivitas matahari. Menjelang tanggal gawat itu, konon, akan muncul gelombang galaksi dahsyat yang mengakibatkan terhentinya semua kegiatan di muka bumi. Itulah yang ditafsirkan sebagian pengamat, antara lain Michael D. Coe dalam buku The Maya (1966), sebagai “kiamat”. Berakhirnya siklus itu menandakan musnahnya dunia yang kita kenal sekarang ini.
Tidak semua kalangan sepakat. Kebanyakan penganut gerakan New Age memaknainya secara kontemplatif sebagai seruan untuk mencegah kerusakan bumi. Berakhirnya siklus tadi berkaitan dengan ”pergeseran kesadaran” secara global. Mereka menafsirkan ramalan suku Maya itu sebagai bagian dari suatu evolusi rohani, yang pada akhirnya akan membawa dunia ini memasuki suatu Zaman Baru. Daniel Pinchbeck, misalnya, menyatakan, "Ketika ‘langit terbuka’ dan energi kosmis dibiarkan mengalir ke segenap penjuru Planet kecil kita, kita akan diangkat ke taraf yang lebih tinggi melalui vibrasinya.”

Induk Segala Malapetaka
Film 2012 yang dirilis pada 13 November 2009 tampaknya sejalan dengan pendapat terakhir. Tagline yang tertera pada trailer-nya berbunyi: The end is just the beginning. Jadi, sudah bisa ditebak, bakal ada penyintas di akhir filmnya.
Namun, awalnya bukan ramalan suku Maya itu yang memikat Roland Emmerich. Ia bahkan tadinya sempat tidak berminat lagi menggarap film malapetaka. Sampai suatu saat ia dan Harald Kloser, penulis skenario, mendapatkan suatu ide yang dirasanya layak difilmkan. ”Itu sebenarnya cerita paling kuno yang suka kita perbincangkan. Itu kisah air bah, dan bagaimana menyelamatkan diri darinya---seperti penceritaan kembali kisah bahtera Nuh secara modern. Cerita itu terlalu sayang untuk dilewatkan. Itu benar-benar induk dari segala malapetaka.”
Baru kemudian ia mengenal kalender suku Maya, yang akan berakhir pada 2012 itu, dan mendapatkan bahan untuk menceritakan kembali kisah air bah tadi. ”Itu membuat orang percaya bahwa cerita ini nyata,” katanya.
Film ini menampilkan malapetaka global yang membawa pada kehancuran dunia. Orang-orang dari berbagai penjuru dunia, dari berbagai latar belakang, dari berbagai agama, berjuang untuk menyelamatkan diri. Sebuah badan yang dibentuk oleh pemerintah AS, Institute for Human Continuity, berusaha menggunakan kapal dalam upaya penyelamatan.
Di tengah kekalutan itu, tampillah Jackson Curtis (John Cusack), seorang duda cerai penulis fiksi ilmiah yang kadang-kadang bekerja sebagai sopir limosin. Ia memiliki pengetahuan berdasarkan ramalan kuno untuk memastikan bahwa umat manusia tidak sepenuhnya musnah akibat malapetaka tersebut.
Film ini juga menampilkan Danny Glover sebagai Presiden AS berkulit hitam dan Thandie Newton sebagai putrinya. Chietel Ejiofor berperan sebagai Adrian Helmsley, penasihat keilmuan bagi presiden, dan Woody Harrelson sebagai Charlie Frost, pria yang meramalkan kesudahan dunia dan karenanya dianggap gila.
Namun, bintang utama film ini tak lain ialah Planet Bumi. Dengan efek khusus yang mengesankan, ditopang biaya sebesar 200 juta dolar, 2012 menampilkan bumi yang berguncang hebat, seperti anjing yang mengibas-ngibaskan air dari tubuhnya. Maka, setelah bumi dihajar empasan badai matahari, diaduk-aduk gempa, dijatuhi hujan meteor, dilalap air bah, entah bagaimana masih ada sekelompok manusia yang sukses menyelamatkan diri, siap memulai kehidupan baru.
Tak ayal Sony Pictures Entertaiment gencar memasarkan film ini, salah satunya dengan memanfaatkan internet. Mereka membangun situs lembaga fiktif, blog berisi berita-berita seputar fenomena 2012, sampai laman buku Farewell Atlantis yang diklaim sebagai karya Jackson Curtis. Di situs Institute for Human Continuity, misalnya, ada lotere untuk menjadi bagian dari orang-orang yang terselamatkan dari kehancuran global dan polling untuk memilih pemimpin dunia pasca-2012.

Penghiburan yang Lebih Besar
Benarkah dunia akan berakhir pada 21 Desember 2012?
May be yes, may be no---dengan bandul lebih condong ke arah no.
Bila Tuhan memilih mengakhiri riwayat dunia pada tanggal yang diramalkan tersebut, itu sepenuhnya wewenang dan kedaulatan-Nya. Tetapi, kemungkinan besar hal itu tidak akan terjadi. Tentang kesudahan dunia, firman Tuhan memperhadapkan kita pada misteri: hari itu akan datang seperti pencuri. Tuhan Yesus pun menolak untuk menyingkapkan misteri itu kepada para murid.
Kalau misteri itu ternyata bisa diramalkan, ya sudah enggak seru lagi, kan? Lagi pula, catatan sejarah penuh dengan berbagai ramalan hari kiamat yang nyatanya meleset.
Tentang bagaimana dunia akan berakhir, Alkitab juga tidak memaparkan rangkaian kejadian spesifik. Wahyu, kitab yang secara khusus membahas “kiamat”, banyak memuat gambaran simbolis tentang apa yang akan terjadi pada akhir zaman. Simbol-simbol yang pelik dan melahirkan beragam tafsiran.
Alkitab tampaknya tidak meminta kita untuk mencemaskan kapan dan bagaimana persisnya dunia akan berakhir. Alkitab memilih untuk menyediakan penghiburan dan pengharapan yang jauh lebih besar. Caranya? Dengan membocorkan “skor final pertandingan”!
Sejumlah mahasiswa kristiani bermain basket di lapangan kampusnya. Pak Haryo, tukang kebun setempat, duduk di tepi lapangan, asyik membaca Alkitab. “Baca apa, Pak?” tanya seorang mahasiswa. “Kitab Wahyu,” jawab Pak Haryo. “Kitab Wahyu? Memangnya Bapak mengerti isinya?” tanya mahasiswa itu lagi. “Yah, menurut kitab ini, Tuhan Yesus pada akhirnya menang.”
Pak Haryo menyampaikan tafsiran yang ringkas, lugas, dan jitu. Berita kitab tulisan Yohanes ini menegaskan bahwa Yesus Kristus akan datang kembali, Iblis akan dihukum, dan semua orang akan diadili untuk menerima kehidupan kekal atau kebinasaan kekal. Singkatnya, kitab terakhir dalam Alkitab ini memaparkan kemenangan final Tuhan Yesus atas musuh-Nya.
Dengan membocorkan hasil akhir tersebut, pesan kitab Wahyu jadi sangat relevan bagi kehidupan kita saat ini. Ya, saat ini dan di sini, bukan di sana dan nanti!
Kitab Wahyu seolah-olah menyatakan, “Begitulah kesudahan dunia ini. Apakah engkau memercayainya? Kalau percaya, lalu bagaimana engkau akan menjalani kehidupan saat ini---hari demi hari? Apakah engkau akan hidup sebagai orang-orang yang berada di pihak Sang Pemenang?”
Bagaimana kita bisa berada di pihak Sang Pemenang? Bersukacitalah! Dalam perkara ini, Wahyu tidak membiarkan kita berteka-teki. Wahyu menegaskan kembali berita Injil: bahwa orang-orang yang telah ditebus-Nya akan turut mengambil bagian dalam kemenangan tersebut. Wahyu 12:11, misalnya, secara khusus menunjukkan tiga hal yang memampukan orang-orang kudus menjadi pemenang.
Darah Anak Domba. Dasar kemenangan mereka ialah Kristus dan karya penebusan-Nya di kayu salib. Setiap orang yang berpaut kepada Yesus Kristus akan mampu melawan dan menundukkan Iblis. Mereka menerima kemenangan ini bukan oleh kekuatan sendiri, melainkan semata-mata oleh anugerah Allah.
Perkataan kesaksian. Aktivitas iman mereka ialah memberitakan firman Allah, baik melalui perkataan maupun perbuatan. Dengan memahami, memercayai, dan menerapkan firman Allah secara konsisten, orang percaya akan mampu membungkam dakwaan dan godaan Iblis.
Tidak mengasihi nyawa sampai ke dalam maut. Inilah sikap iman yang menjungkalkan Iblis. Orang percaya menyadari hidup ini hanya sementara, sekaligus tempat pelatihan dan persiapan menuju kekekalan. Mereka siap untuk mengorbankan waktu, tenaga, harta, dan bahkan jika perlu nyawa, demi menyebarluaskan firman Allah. Mereka berpendirian bahwa hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.
Kitab Wahyu, dengan demikian, menantang kita untuk hidup dalam kekudusan. Kita menolak untuk mengambil bagian dalam kesia-siaan dosa dengan merenungkan, “Akankah saya melakukannya seandainya Dia datang kembali hari ini?” Di sisi lain, kita terus bekerja dan melayani dengan tekun, sebagai ungkapan syukur atas anugerah keselamatan-Nya, seolah-olah Dia baru akan datang kembali seribu tahun lagi!