10 Desember 2009

TUHAN MEMPERHATIKAN YANG RENDAH

Lukas 1 : 46 – 55

Ada banyak alasan yang membuat seseorang merasa malu, rendah diri dan minder. Misalnya, sudah lama menikah tetapi belum dikarunia anak atau belum mendapatkan pekerjaan, hidup miskin, cacat dsb. Perasaan demikian membuat kita terkadang menganggap hidup ini tidak lagi berarti. Bagaimana kita menghadapinya?
Memang tidak mudah tetapi bukan berarti tidak mungkin. Cara terbaik adalah melihat keberadaan kita dari sisi Tuhan.

Jika kita melihatnya dengan cara Tuhan, berarti kita yakin bahwa Tuhan sangat menghargai, memperhatikan dan berbuat yang terbaik bagi kita. Ia juga selalu memberikan kasih karuniaNya. Jika demikian, niscya keyakinan kita akan bertumbuh dan pulih kembali, sehingga kita selalu berusaha membuktikan bahwa diri dan hidup kita ini begitu berharga.

Maria merasa malu, rendah diri dan minder karena dianggap sebagai perempuan yang ‘tidak baik' (telah mengandung sebelum menikah dengan Yusuf). Elisabeth pun merasa terhina karena belum memiliki anak. Tuhan membalikkan segalanya dengan memilih dan mengangkat mereka sesuai kasih karuniaNya. Maria telah dipilih Allah untuk melahirkan Sang Juruselamat, yakni Yesus (=Yeshua=penyelamat), tanpa sentuhan seorang laki-laki. Sedangkan Elisabeth dipilih untuk melahirkan sang pembuka jalan, yakni Yohanes Pembaptis. Tidak heran bila Maria memuji kemuliaan Tuhan. Suatu pujian yang agung dalam sejarah kekristenan. Karena itu disebut Magnificant; seakar dengan nyanyian pujian Hana (1 Sam.2:1-10).

Dalam pujian ini, Tuhan diperkenalkan sebagai tokoh pembaru, di segala bidang. Pemahaman Maria yang demikian membuatnya tetap kokoh di tengah berbagai tantangan hidup. Marilah kita ikut menyanyikan pujian yang agung kepada Allah karena Yesus akan datang membaharui seluruh hidup kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar