30 Desember 2009

PENGHARAPAN YANG MEMBUAHKAN KEBAHAGIAAN

Bacaan dari kitab Lukas 2: 28 – 35

Jika kita dijanjikan sesuatu yang berharga maka biasanya kita menantikannya dengan penuh harap. Bila pada akhirnya janji itu terpenuhi maka sukacita dan kebahagiaan akan terungkap lewat ekspresi wajah, kata-kata maupun tindakan kita. Singkatnya, kegembiraan menjadi amat sangat sehingga tanpa sadar, seakan-akan hal lain menjadi tidak penting.

Simeon dalam kestiaan penantian akan terwujudnya wahyu Tuhan, benar-benar merasakan suatu kebahagiaan yang amat sangat. Ia memuji Tuhan, bersukacita dan mengangakat Yesus ke atas dan mengatakan: ‘Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel." Mata imannya telah memandang Sang Mesias. Dalam keyakinan penuh ia telah berjumpa bahkan menggendong Sang Juru Selamat. Mau apa lagi? Semua itu sudah cukup baginya dan ia sangat bersyukur. Simeon setia berpegang pada janji Tuhan, ia terus mencari wajah Tuhan dan meyakini Firman-Nya.

Yusuf dan Maria menjadi heran atas apa yang mereka saksikan. Maria ibu Yesus dinubuatkan akan mengalami suatu rasa sakit yang luar biasa (tertusuk pedang tajam). Nubuat akan tibanya suatu masa di mana sebagai ibu ia harus menyaksikan penyiksaan dan penderitaan Yesus guna menebus dosa manusia. Dua pernyataan Simeon (ayat 34-35) merupakan gambaran keselamatan universal yang akan diwartakan Yesus Kristus, termasuk mengenai perlunya penderitaan dalam perutusan mesias. Janji itu telah terwujud dan keselamatan itu telah kita peroleh. Keselamatan dan karya penebusan itu adalah suatu anugerah, maka bersyukurlah dan hiduplah dalam iman pengharapan kepada Tuhan sampai Ia datang kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar