Bacaan kita hari ini mengungkapkan keadaan pada zaman Mesias, ketika Yesus memerintah sebagai Raja.
Zaman itu ditandai oleh tidak adanya lagi permusuhan dan kekejaman. Keadaan itu digambarkan oleh perdamaian di antara semua binatang. Serigala tinggal bersama domba, macan tutul berbaring di samping kambing, anak-anak yang menyusu bermain-main dekat ilang ular tedung. Keadaan seperti ini mengingatkan kita tentang kehidupan pertama di Firdaus sebelum manusia jatuh ke dalam dosa.
Mengapa ada perdamaian yang sempurna seperti itu? Karena Yesus telah menjadi Raja Damai. Perdamaian memang merupakan hal yang sulit didapat. Tetapi hal itu kini hadir karena pengenalan akan Tuhan. Ketika Kristus, Sang Raja Damai, memerintah, terjadilah perubahan dalam wilayah tabiat manusia dan mengubah perilaku semua binatang. Karena itu pada zaman Mesias tidak ada permusuhan. Keselamatan hanya di dalam satu nama (ayat10).
Manusia pada dasarnya merindukan kehidupan yang damai. Damai dengan sesama dan damai dengan lingkungan. Mengapa demikian? Karena manusia diciptakan Allah sebagai makhluk yang tertinggi dan hidup dalam damai. Sejak manusia jatuh dalam dosa, rusaklah kehidupan damai itu. Manusia hanya dapat hidup dalam perdamaian, ketika Yesus, raja Damai memerintah hidup dan kehidupannya. Di tengah dunia yang sarat dengan permusuhan, kebencian, fitnah, terror dan berbagai kekerasan, kita merindukan suasana Firdaus hadir lagi di tengah keluarga, di tempat kerja, di Gereja, dan di tengah bangsa dan negara.
Dalam minggu-minggu Advent ini, mari mengundang Sang Raja Damai hadir dalam kehidupan kita sehingga kedamaian Firdaus hadir kembali dalam hidup kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar