Ada pola sederhana yang bisa dicermati dalam perikop kita. Saat Firaun terancam, dia berbaik-baik dan berjanji bagi Musa dan Harun tentang Israel. Tetapi saat ancaman selesai, dia dengan gampang melupakan janjinya dan kembali mengeraskan hati. Pola seperti ini kita alami sepanjang kehidupan, termasuk mungkin sepanjang hari ini.
Sayang sekali, bahwa sering pola ini bukan hanya dianut oleh orang orang ‘diluar' persekutuan. Pola ini sering dianut oleh orang orang yang kita pandang seiman. Atau mungkin sekali kita sebagai pribadi juga menganut pola seperti ini. Ketika terancam, kita berbaik-baik. Ketika ancaman mengendor, kita jadi makin arogan. Kita lalu menjadi tidak konsisten. Lain dihati, lain di bibir, lain dipikir.
Terhadap pola tingkah manusia yang salah, kita melihat juga ‘pola' Tuhan yang tegas. Hukumannya makin lama makin berat. Maka jelaslah bahwa tanpa pertobatan, kita setiap hari menambah bencana dalam kehidupan. Sebuah pertobatan bisa menghentikan bukan hanya satu hukuman, melainkan satu rangkaian hukuman. Betapa tidak bijaksananya menunda pertobatan. Sebab itu hanya menambah malapetaka yang sebetulnya tidak usah terjadi.
Ketika akan mengakhiri hari ini, kita sadar akan banyaknya kekurangan yang memerlukan penyempurnaan dari Tuhan. Banyak kesalahan yang perlu dibawa pada Tuhan untuk beroleh pengampunan. Namun kita tidak pernah dapat memastikan bagian mana dalam perilaku kita yang berakibat baik bagi sesama dan yang membuat orang lain memuji nama Tuhan. Kita juga tidak dapat memastikan hal mana saja yang kita lakukan hari ini yang akan berakibat serius bagi masa depan. Jadi, sebelum mengakhiri hari ini, mari menyerahkan segala kuatir kepada Tuhan. Sebab hanya Dia yang mempedulikan kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar