30 Desember 2009

PENGHARAPAN YANG MEMBUAHKAN KEBAHAGIAAN

Bacaan dari kitab Lukas 2: 28 – 35

Jika kita dijanjikan sesuatu yang berharga maka biasanya kita menantikannya dengan penuh harap. Bila pada akhirnya janji itu terpenuhi maka sukacita dan kebahagiaan akan terungkap lewat ekspresi wajah, kata-kata maupun tindakan kita. Singkatnya, kegembiraan menjadi amat sangat sehingga tanpa sadar, seakan-akan hal lain menjadi tidak penting.

Simeon dalam kestiaan penantian akan terwujudnya wahyu Tuhan, benar-benar merasakan suatu kebahagiaan yang amat sangat. Ia memuji Tuhan, bersukacita dan mengangakat Yesus ke atas dan mengatakan: ‘Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel." Mata imannya telah memandang Sang Mesias. Dalam keyakinan penuh ia telah berjumpa bahkan menggendong Sang Juru Selamat. Mau apa lagi? Semua itu sudah cukup baginya dan ia sangat bersyukur. Simeon setia berpegang pada janji Tuhan, ia terus mencari wajah Tuhan dan meyakini Firman-Nya.

Yusuf dan Maria menjadi heran atas apa yang mereka saksikan. Maria ibu Yesus dinubuatkan akan mengalami suatu rasa sakit yang luar biasa (tertusuk pedang tajam). Nubuat akan tibanya suatu masa di mana sebagai ibu ia harus menyaksikan penyiksaan dan penderitaan Yesus guna menebus dosa manusia. Dua pernyataan Simeon (ayat 34-35) merupakan gambaran keselamatan universal yang akan diwartakan Yesus Kristus, termasuk mengenai perlunya penderitaan dalam perutusan mesias. Janji itu telah terwujud dan keselamatan itu telah kita peroleh. Keselamatan dan karya penebusan itu adalah suatu anugerah, maka bersyukurlah dan hiduplah dalam iman pengharapan kepada Tuhan sampai Ia datang kembali.

ALLAH MENUNTUN KITA KE TEMPAT YANG AMAN

Bacaan dari kitab Matius 2: 19 – 23

Sama seperti ketika malaikat Tuhan memerintahkan Yusuf untuk menyingkir ke Mesir, demikianlah Allah terus bekerja untuk Yusuf dan keluarganya. Herodes telah mangkat dan situasi telah aman, maka dengan cara yang sama pula Yusuf dibimbing untuk kembali ke Israel dan menetap di Nazareth. Dari kota inilah kemudian nama Yesus selalu dikaitkan sebagai orang dari Nazareth yang berbicara di depan umum pertama kali di Galilea. Namun demikian, masih ada keraguan Yusuf karena Arkhelaus anak Herodes yang memerintah di Yudea, Samaria dan Idumea.

Kekuatiran ini cukup beralasan karena sampai menjelang ajalnya pun Herodes masih memerintah pembantaian atas tokoh-tokoh Yahudi. Dalam penderitaan dan pelarian Yusuf ke Mesir, ia selalu taat dan mendengar perintah Tuhan. Sesungguhnya Yusuf mempunyai alasan untuk memprotes perintah Tuhan. Bukankah bayi Yesus yang akan diselamatkan ini adalah Juruselamat? Mengapa justru Juruselamat harus diselamatkan dengan cara melarikan diri? Jika di masa lalu Allah yang punya kuasa ini selalu mengalahkan musuhnya secara spektakuler, mengapa justru sekarang harus mempergunakan cara yang lemah yaitu "lari"? Alasan-alasan ini logis, tetapi Yusuf tidak mau mempergunakannya. Ia hanya tunduk dan taat pada perintah Tuhan. Ketaatan seperti ini yang kemudian ditunjukkan Yesus kepada Bapa-Nya. Ia rela taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib!

Dalam kehidupan, kita sering diuji dalam soal ketaatan kepada Tuhan. Ketika membutuhkan pertolongan, kita tidak bisa mendikte Tuhan. Dia-lah yang harus memutuskan, bukan kita. Ketaatan yang sejati disertai dengan ketekunan. Bertekunlah mempelajari Firman Tuhan. Bertekunlah juga dalam doa dan ucapan syukur. Sudahkah kita lakukan semuanya ini ? Mari lakukan sekarang...

TUHAN ADALAH JAMINAN MASA DEPAN

Bacaan dari kitab Mazmur 37: 23 – 26

Sebuah pohon pada umunya memiliki akar yang dalamnya kira-kira setinggi pohon tersebut di atas permukaan tanah. Akar inilah yang menunjang pohon tersebut untuk berdiri kokoh. Sebagaimana pada tajuknya ada banyak cabang-cabang, demikian pula di dalam tanah pun terdapat cabang-cabang dari akar tersebut untuk menjaga kestabilan hidup atau sebagai penopang. Bila ada badai, pohon mungkin hanya akan miring karena ditopang oleh sistem perakaran yang baik.

Demikianlah halnya orang-orang benar yang hidupnya bergantung kepada Allah, ia memiliki akar yang kuat. Topangan akar ini akan memberikan perlindungan sehingga tidak mudah jatuh atau roboh. Ketika seseorang baru lahir maka ia berada dalam "ketergantungan" kepada orang lain. Ia bertumbuh menjadi dewasa dan menjadi "mandiri". Dalam kaitan dengan sesama dan lingkungan maka ia akan berada dalam "kesaling-tergantungan". Selanjutnya pada masa tua, kembali ia akan "bergantung" pada pertolongan atau bantuan orang lain. Ini adalah suatu siklus hidup yang akan dialami setiap orang. Bila ia tidak mempersiapkan diri dengan baik maka ia mudah goyah. Kehidupan yang stabil dapat dimulai dari kesehatan yang baik, kepemilikan sumberdaya yang "cukup" serta hidup dalam pola yang teratur dan tidak serakah. Jika hal ini berjalan baik maka ia akan memasuki masa tua dengan sehat atau lebih baik. Ia akan tenang jika anak-anak cucunya berhasil dan melihat mereka berada dalam damai sejahtera. Ini baru kebahagiaan lahir.

Bagaimana dengan kehidupan spiritualnya? Ia harus berada dalam jalan Tuhan. Bersandar dan berserah diri kepada Tuhan serta taat pada perintah-perintahnya. Sekalipun ada gelombang hidup, ia tidak akan jatuh tergeletak, karena tangan Tuhan yang kokoh senantiasa menopang. Sudahkah kita siap memasuki hari-hari baru di tahun 2010 yang belum kita ketahui?

21 Desember 2009

YESUS-LAH JAWABAN

Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau. Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku”  (Mazmur 139:7-10)


Ketika kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi hidup kita, saat kasih karunia Allah tercurah sepenuhnya bagi kita. Anugerah yang hanya diberikan bagi umat perjanjian-Nya diberikan bagi setiap kita yang percaya kepadaNya. Perlindungan yang kekal senantiasa menaungi kita apapun yang kita hadapi dan kita alami. Berbagai masalah dan pencobaan boleh datang menerpa, tetapi Tuhan Allah kita senantiasa memberikan jalan keluar bagi setiap masalah dan persoalan kita.

Ada kalanya kita merasa bahwa beban persoalan kita terlalu berat dan kita memutuskan untuk tidak lagi berdoa ataupun pergi beribadah ke gereja. Tetapi Tuhan Allah tetap setia, Dia senantiasa menuntun dan menjaga setiap umat-Nya agar tidak keluar dari rencana-Nya. Kemanapun kita berusaha lari, Dia ada disana, menunggu kita dengan setia. Kasih-Nya senantiasa mengalir bagi kita. Damai sejahtera-Nya senantiasa menunggu kita.
*courtesy of PelitaHidup.com
Tuhan senantiasa memberikan jawaban bagi setiap masalah kita. Ketika kita tidak dapat menemukan apapun yang menjadi jalan keluar bagi permasalahan, Dia ada untuk memberikan jawaban itu. Yesuslah jawaban. Marilah tetap bersandar kepada Yesus. Bagi Yesus tidak ada yang mustahil (Luk 1:37). Bahkan tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya (Mar 9:23). Jangan lepaskan kepercayaan kita kepada Yesus. Dia tidak pernah terlambat, segala sesuatu akan dijadikan indah tepat pada waktunya (Pkh 3:11).

Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku(Wahyu 3:20)

Janganlah keraskan hatimu, bukalah pintu hatimu, biarkan Yesus masuk dan tinggal di dalam kehidupan kita. Dia akan memberikan jawaban bagi setiap doa-doa kita.

SAMBUTLAH RAJA DAMAI DALAM HATIMU

Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.” Yesaya 9.5

Jauh sebelum Yesus datang ke dunia ini, nubuatan telah disampaikan melalui Nabi Yesaya bahwa akan lahir seorang anak yang akan disebut sebagai: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Nubuatan digenapi dalam Perjanjian Baru dengan lahirnya Yesus ke dunia ini. Tujuannya hanya satu, agar seluruh manusia yang percaya kepada-Nya dapat diselamatkan dari hukuman yang kekal (Yoh 3:16). Seperti yang telah dinubuatkan, Yesus lahir ke dunia ini tidak sekedar menjamin keselamatan manusia pada saat penghakiman terakhir nanti. Tetapi Dia juga memberikan jaminan pemeliharaan selama kita masih hidup di dunia ini.


Berikut beberapa hal yang menjadi bagian kita ketika kita menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat kita:

1. Penasihat Ajaib

Ketika Yesus lahir dalam hidup kita, maka Dia akan menjadi penasihat kita dalam setiap langkah hidup kita. Ketika masalah dan pencobaan datang menerpa kehidupan kita, baik dalam pekerjaan, keluarga, ekonomi, dan lainnya, Tuhan akan hadir bagi kita. Dia akan mencurahkan hikmat-Nya bagi kita, sehingga kita sanggup mencari jalan keluar atas setiap masalah dan problema yang kita hadapi. Dia akan selalu berbicara kepada kita melalui Firman-Nya yang kita baca setiap hari. Melalui Firman-Nya itulah Dia akan memberi banyak nasehat bagi kita, sehingga masalah seberat apapun dapat kita lalui bersama dengan Yesus.

2. Allah yang Perkasa

Ketika Bangsa Israel memasuki Tanah Perjanjian, mereka banyak melakukan peperangan terhadap musuh-musuhnya. Kita dapat melihat begitu banyak campur tangan Tuhan atas Bangsa Israel pada waktu itu. Tangan Tuhan yang perkasa selalu memberikan kemenangan bagi Bangsa Israel, sehingga tidak ada musuh yang terlalu berat bagi mereka untuk dikalahkan, sekalipun musuh yang mereka hadapi adalah raksasa-raksasa yang telah berpengalaman dalam medan peperangan. Demikian juga dalam kehidupan kita, walaupun keadaan yang kita hadapi terlihat tidak mungkin bagi kita untuk dapat mengatasinya, di dalam Yesus segalanya menjadi mungkin. Sebesar apapun masalah yang merintangi, jika kita tinggal bersama Yesus, maka Dia yang akan memberikan kemenangan bagi kita. Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang perkasa. Tidak ada satupun kuasa di dunia ini yang sanggup mengalahkan kuasa Tuhan Allah kita. Bersama Yesus kita lakukan perkara besar.

3. Bapa yang Kekal

Turunnya Yesus ke dunia ini merupakan wujud kasih Bapa yang tak terbatas. Begitu besar kasih-Nya akan dunia ini sehingga Dia rela mengorbankan Anak-Nya yang tunggal, agar kita semua dapat beroleh kasih karunia di dalam Dia. Kasih Bapa kini dapat kita rasakan dalam kehidupan kita. Ketika orang-orang meninggalkan kita, teman-teman melupakan kita, bahkan keluarga sendiri juga memusuhi kita, Bapa di sorga tidak akan meninggalkan kita. Kasih-Nya akan senantiasa menaungi dan merangkul hidup kita. Dia akan menghibur kita, Dia akan memelihara kita, Dia akan memberikan sukacita bagi kehidupan kita. Kasih-Nya akan memulihkan kehidupan kita dari segala kepahitan, amarah, dendam, kebencian, luka, dan segala dosa yang ada. Kasih-Nya akan mengangkat kita dari lubang kebinasaan menuju kehidupan yang kekal. Dia adalah Bapa kita yang kekal.

4. Raja Damai

Saat ini dunia bergejolak dengan begitu hebatnya, krisis melanda hampir seluruh bagian dunia ini, kejahatan semakin bertambah, bencana alam terjadi di mana saja dan kapan saja. Tidak ada tempat yang dapat menjamin keamanan hidup kita, tidak ada seorangpun juga yang dapat menjamin kehidupan kita akan selalu nyaman, bahkan harta kekayaan juga bukan jaminan bahwa hidup kita akan selalu terjamin.Banyak kekuatiran yang muncul dalam pikiran manusia akan apa yang akan terjadi di masa depan mereka. Banyak ketakutan yang timbul dalam hati mereka jika krisis maupun bencana terus terjadi.
*courtesy of PelitaHidup.com
Tetapi ketika kita masuk dan hidup dalam Yesus, maka Dia akan memberikan damai sejahtera bagi hidup kita. Damai sejahteraNya dapat mengatasi segala kekuatiran dan ketakutan yang ada. Damai sejahtera-Nya akan memampukan kita mengatasi segala perkara. Jangan biarkan dunia dan segala kekuatirannya menguasai hidup kita. Sambutlah Yesus dalam hidup kita setiap saat, setiap waktu, setiap hari dan di mana saja kita berada. Biarlah Dia menjadi Raja Damai dalam hidup kita. Immanuel.
.

TAMPIL BEDA

Matius 5: 16
"Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga"

Kita sebagai anak-anak Tuhan harus tampil beda di dunia ini. Kita tampil bukan demi menarik perhatian, melainkan demi Juruselamat kita. Dalam dunia yang penuh kegelapan, orang-orang mencari terang. Ke mana lagi mereka pergi mencari terang Kristus kalau bukan dari para pengikut-Nya ?

Tentu saja, Allah tidak mengharapkan kita pergi sendirian. Ia memperlengkapi kita dengan Roh Kudus dan Firman-Nya untuk membimbing kita. Alkitab mengajarkan kita bahwa dunia akan tahu bahwa kita adalah pengikut Kristus bukan dari kata-kata yang kita ucapkan, melainkan dari kasih yang kita tunjukkan kepada sesama. Kasih Allah akan membuat kita bersinar di dalam dunia ini.

16 Desember 2009

KEPASTIAN JANJI TUHAN

Yeremia 33: 14-18

Dalam perjanjian Tuhan dengan Israel atau Yehuda, seperti telah dikatakan, bahwa Israel atauYehuda berulang-ulang selalu memilih jalan sendiri mengikuti keinginan hatinya dan tidak setia kepada Tuhan dan mengikuti jalan Tuhan. Akibatnya, hubungan perjanjian menjadi rusak. Dan dengan rusaknya perjanjian itu maka terancamlah seluruh kehidupan Israel atau Yehuda; bukan saja manusianya, tetapi kota dan lingkungan alamnya. Kenyataannya bahwa meskipun Israel atau Yehuda tidak setia, Tuhan senantiasa setia memelihara perjanjian itu, sehingga selalu ada harapan bagi Israel atau Yehuda. Dalam hal ini Tuhan itu adil karena Ia tidak pernah meninggalkan janjinya untuk memelihara perjanjian dengan Israel atau Yehuda. Keadilan Tuhan sekaligus menghadirkan kebaikan-Nya untuk memenuhi kehidupan Israel atau Yehuda sehingga damai sejahtera merata ke mana-mana.

Dalam sejarah Israel atau Yehuda, pada zamannya, raja Daudlah yang paling memperlihatkan suasana damai sejahtera dan keadilan itu. Karena itu Tuhan berjanji akan memenuhi janjinya dan menjadikan kehidupan bersama itu dipenuhi keadilannya sehingga mengalami damai dan sejahtera.

Kita mendengar janji Tuhan ini di masa Natal sekarang ini. Keadaan kita memang sama sekali tidak baik, karena banyak kesalahan yang telah kita lakukan. Tetapi kita sukar untuk melihat dan mengakui kesalahan-kesalahan itu, bahkan menyangkalanya. Nah, semakin kita menyangkali kesalahan kita, semakin buruklah keadaan kita.

Sebagai gereja Tuhan kita mengetahui semuanya itu. Karena itu, mari kita membuka diri dan mengakui segala kesalahan kita agar kita boleh hidup lagi dari janji Tuhan, yakni hidup dalam damai sejahtera; bukan putus asa. Sebab janji Tuhan, pasti!

TUHAN DATANG UNTUK MENGHALAU KEJAHATAN DAN KETIDAK-ADILAN

Yesaya 33 : 17 – 19

Kalau seorang raja memerintah dengan adil dan benar sehingga kehidupan seluruh rakyatnya berubah menjadi senang-sentaosa; tidak lagi susah-sengsara maka dua hal yang segera terlintas dalam pikiran rakyatnya adalah: Pertama, mereka akan memuji dan mengagungkan sang raja dengan penuh semarak. Kedua, mereka berharap agar keadaan sejahtera itu tetap berlangsung di negeri selamanya. Hal-hal yang dulu, seperti ketidak-adilan dan kejahatan jangan sampai terjadi lagi; itu artinya, raja harus tetap pada komitmennya untuk selalu memerintah dengan adil dan benar serta mengutamakan kesejahteraan seluruh rakyat.

Dua hal ini juga tampak menjadi harapan bagsa Israel ketika mereka mengalami kehidupan baru di Sion di bawah pemerintahan raja yang adil dan benar. Oleh karena itu, Tuhan melalui Yesaya menyampaikan kepada seluruh rakyat, khusus orang-orang benar, jujur dan adil, yang tetap diam di negeri bahwa semua harapan mereka akan dipenuhi.

Sebagai warga bangsa kita juga berharap agar pemerintah dan kabinet yang baru dapat melakukan keadilan dan kebenaran serta mengutamakan kesejahteraan seluruh rakyat dalam pemerintahannya. Itu artinya, orang-orang yang berlaku tidak adil dan tidak benar harus ditindak, sedangkan orang-orang benar, adil dan jujur harus dilindungi. Dengan begitu pemerintah akan tampil bersemarak di hadapan rakyatnya, dan negeri ini akan aman, damai dan sejahtera selamanya.

Sebagai orang beriman, kita pun yakin bahwa Tuhan Yesus adalah Raja. Dia akan datang, dan kita akan memandang Dia di dalam semarak-Nya. Dia datang untuk membuat hidup kita, dan bahkan bumi ini kembali aman, tenteram, damai dan sejahtera. Jika di sana-sini terdengar berbagai bencana melanda kehidupan bangsa, itu artinya Tuhan Yesus, Raja alam semesta, sedang menegur pemerintah karena mengabaikan kesejahteraan seluruh rakyat dan tidak melakukan keadilan dan kebenaran.

SANG PEMBUKA JALAN TELAH LAHIR

Lukas 1 : 57 – 66

Masa penantian Elisabeth untuk terbebas rasa sedih dan tersingkir karena dianggap tidak bisa melahirkan pun berakhir. Bagi Zakharia, suaminya, itulah juga masa untuk terbebas dari kebisuannya. Genap waktunya, Elisabeth akhirnya melahirkan seorang anak laki-laki sesuai janji Tuhan. Kelahiran anak ini merupakan tanda ajaib dan sukacita bagi kedua orangtuanya, juga sanak keluarga serta para tetangga.

Mereka yang tadinya mengasingkan Elisabeth, ketika mendengar bahwa ia telah melahirkan, langsung datang untuk bersukacita bersamanya. Bukan cuma itu, ketika tiba hari penyunatan dan pemberian nama, mereka juga ingin mewakili Zakharia untuk memberikan nama kepada anak itu, dan mereka mengusulkan nama Zakharia. Elisabeth mulai angkat bicara. Ia keberatan dengan nama yang diusulkan karena ia memahami pangkal kebisuan suaminya, yaitu bahwa anak itu harus diberi nama Yohanes. Kontroversi soal nama akhirnya diputuskan oleh Zakharia yang bisu, dan ia pun menulis nama ‘Yohanes' sesuai yang diusulkan isterinya dan diucapakan malaikat kepadanya. Seketika itu juga kebisuan Zakharia lenyap.

Peristiwa itu menggemparkan seluruh Yudea. Mereka pun merenung dan bertanya, menjadi apa anak ini kelak? Jawabnya, menjadi seperti yang Tuhan mau; bukan yang kita mau. Yohanes terus bertumbuh dalam lindungan tangan Tuhan yang menyertai dan mempersiapkan untuk menjadi Pembuka Jalan bagi Sang Juruselamat, yakni Yesus.

Minggu Adventus IV dan terakhir ini sekaligus menjadi tanda bahwa masa penantian kita pun segera berakhir. Hari kelahiran Yesus Kristus segera kita jelang. Ini artinya bahwa segala yang selama ini menyedihkan dan membisukan kita akan segera lenyap dan digantikan dengan sukacita karena Yesus Kristus yang kita ingat-rayakan kelahiranNya, juga berkenan lahir di hati dan rumah tangga kita. Percayalah akan hal itu.

Damai dan Sukacita Natal diberikan Tuhan bagi kita.

10 Desember 2009

TUHAN MEMPERHATIKAN YANG RENDAH

Lukas 1 : 46 – 55

Ada banyak alasan yang membuat seseorang merasa malu, rendah diri dan minder. Misalnya, sudah lama menikah tetapi belum dikarunia anak atau belum mendapatkan pekerjaan, hidup miskin, cacat dsb. Perasaan demikian membuat kita terkadang menganggap hidup ini tidak lagi berarti. Bagaimana kita menghadapinya?
Memang tidak mudah tetapi bukan berarti tidak mungkin. Cara terbaik adalah melihat keberadaan kita dari sisi Tuhan.

Jika kita melihatnya dengan cara Tuhan, berarti kita yakin bahwa Tuhan sangat menghargai, memperhatikan dan berbuat yang terbaik bagi kita. Ia juga selalu memberikan kasih karuniaNya. Jika demikian, niscya keyakinan kita akan bertumbuh dan pulih kembali, sehingga kita selalu berusaha membuktikan bahwa diri dan hidup kita ini begitu berharga.

Maria merasa malu, rendah diri dan minder karena dianggap sebagai perempuan yang ‘tidak baik' (telah mengandung sebelum menikah dengan Yusuf). Elisabeth pun merasa terhina karena belum memiliki anak. Tuhan membalikkan segalanya dengan memilih dan mengangkat mereka sesuai kasih karuniaNya. Maria telah dipilih Allah untuk melahirkan Sang Juruselamat, yakni Yesus (=Yeshua=penyelamat), tanpa sentuhan seorang laki-laki. Sedangkan Elisabeth dipilih untuk melahirkan sang pembuka jalan, yakni Yohanes Pembaptis. Tidak heran bila Maria memuji kemuliaan Tuhan. Suatu pujian yang agung dalam sejarah kekristenan. Karena itu disebut Magnificant; seakar dengan nyanyian pujian Hana (1 Sam.2:1-10).

Dalam pujian ini, Tuhan diperkenalkan sebagai tokoh pembaru, di segala bidang. Pemahaman Maria yang demikian membuatnya tetap kokoh di tengah berbagai tantangan hidup. Marilah kita ikut menyanyikan pujian yang agung kepada Allah karena Yesus akan datang membaharui seluruh hidup kita.

KEBAIKAN DAN KASIH TUHAN DALAM PERGUMULAN

Mazmur 31 : 24 – 25

Sebelum kita merenungkan bacaan malam ini, cobalah mengambil kertas dan tuliskanlah tahun usia kita, pergumulan yang telah kita lewati dan bagaimana Tuhan menyatakan kasih setia-Nya dalam hidup kita?

Mazmur bacaan kita merupakan doa pemazmur yang amat pribadi, ketika berada dalam pergumulan dan tantangan karena kesusahan, musuh, penyakit dan aliensi. Dalam keadaan seperti itu, pemazmur berpaling kepada Allah.

Kepercayaannya bertambah dalam ketika ia mengingat campur tangan Allah. Jika ia mengingat semua pergumulannya, dirasakan sangat menyakiti hati. Tetapi ketika ia melihat kepada Allah dengan kepercayaan yang diperbaharui terus menerus, ia bahkan mampu memberi semangat kepada orang lain. Seperti pemazmur, kita pun hidup di tengah kenyataan bahwa ada berbagai pergumulan dan tantangan, misalnya: kesusahan, kejahatan, dikhianati/ditinggalkan teman atau orang yang kita kasihi. Apakah yang harus kita lakukan menghadapi kenyataan itu? Berpaling kepada Allah dan berdoalah. Ia bersedia mendengar doa kita, asalkan kita selalu berada dalam persekutuan dengan Dia (Yoh.15:7).

Kalau kita ingat campur tangan Allah dalam hidup kita selama ini, seharusnya kepercayaan kita juga semakin kokoh. Kebaikan dan kasih Tuhan tak pernah dan tidak akan pernah berubah! Hal ini harus dihayati, diyakini dan diperbaharui. Penghayatan iman seperti ini akan menjadikan kita kuat, sehingga kita pun mampu menguatkan orang lain, yang dalam pergumulan berat. Orang yang berharap kepada Tuhan tidak dibiarkanNya. Masa Advent mengingatkan kita akan kasih Allah. Dalam pergumulan yang menyakitkan sekalipun, marilah kita berpaling kepadaNya, menghayati kasihNya, sehingga kita tetap kuat dan mampu menguatkan orang lain juga.

MENOLAK ALLAH APA AKIBATNYA?

Yesaya 7 : 18 – 25

Raja Ahaz menolak nasihat Yesaya untuk bergantung kepada Allah, ketika ia harus berhadapan dengan serangan koalisi raja Israel dan Aram. Raja Ahaz justru berpaling meminta bantuan Asyur. Asyur memang membantu dia. Namun Asyur segera menjadi "pisau cukur" yang tajam (ayat 20) di tangan Allah, untuk mencukur habis umatNya yang memberontak, sombong dan merasa diri kuat. Akibat lainnya adalah tanah yang gersang, akan ditumbuhi putri malu dan rumput sehingga yang menjadi sumber makanan mereka hanyalah ternak dan lebah.
 
Hal yang demikian ini amat menyedihkan. Siapapun di dunia ini yang menolak Allah, pasti akan menerima akibat penolakannya itu. Allah adalah sumber kehidupan yang kita andalkan. Ketika kita berpaling kepada manusia atau apa saja yang kita andalkan dan membelakangi Allah, kita akan kehilangan berkatNya. Pada awalnya mungkin kita merasa berhasil, tetapi keberhasilan di luar Tuhan adalah semu-suatu saat akan menggerogoti ("mencukur") habis kehidupan kita.

Pada masa sekarang ketika manusia semakin mengalami berbagai kemajuan di segala bidang kehidupan, kita harus waspada terhadap kecenderungan manusia modern yang lebih mengandalkan kekuatan manusia daripada mengandalkan Tuhan. Manusia berpikir: "aku kan bisa tanpa Tuhan. Buktinya aku lebih sukses daripada orang-orang yang siang malam berdoa dan membaca FirmanNya.' Hati-hati dengan pemahaman yang demikian. Yesus pernah berkata: Apa untungnya memperoleh seluruh dunia kalau jiwa kita binasa. Tidak ada sesuatu yang ada pada kita yang berasal dari diri kita. Semuanya adalah pemberian Tuhan, yang Ia titipkan agar kita memuliakan namaNya (Rm.11:36). Di mingu-minggu Advent ini kita diingatkan agar selalu mengandalkan Allah saja.

HIDUP YANG DAMAI

Yesaya 11 : 6 – 10

Bacaan kita hari ini mengungkapkan keadaan pada zaman Mesias, ketika Yesus memerintah sebagai Raja.
Zaman itu ditandai oleh tidak adanya lagi permusuhan dan kekejaman. Keadaan itu digambarkan oleh perdamaian di antara semua binatang. Serigala tinggal bersama domba, macan tutul berbaring di samping kambing, anak-anak yang menyusu bermain-main dekat ilang ular tedung. Keadaan seperti ini mengingatkan kita tentang kehidupan pertama di Firdaus sebelum manusia jatuh ke dalam dosa.

Mengapa ada perdamaian yang sempurna seperti itu? Karena Yesus telah menjadi Raja Damai. Perdamaian memang merupakan hal yang sulit didapat. Tetapi hal itu kini hadir karena pengenalan akan Tuhan. Ketika Kristus, Sang Raja Damai, memerintah, terjadilah perubahan dalam wilayah tabiat manusia dan mengubah perilaku semua binatang. Karena itu pada zaman Mesias tidak ada permusuhan. Keselamatan hanya di dalam satu nama (ayat10).

Manusia pada dasarnya merindukan kehidupan yang damai. Damai dengan sesama dan damai dengan lingkungan. Mengapa demikian? Karena manusia diciptakan Allah sebagai makhluk yang tertinggi dan hidup dalam damai. Sejak manusia jatuh dalam dosa, rusaklah kehidupan damai itu. Manusia hanya dapat hidup dalam perdamaian, ketika Yesus, raja Damai memerintah hidup dan kehidupannya. Di tengah dunia yang sarat dengan permusuhan, kebencian, fitnah, terror dan berbagai kekerasan, kita merindukan suasana Firdaus hadir lagi di tengah keluarga, di tempat kerja, di Gereja, dan di tengah bangsa dan negara.

Dalam minggu-minggu Advent ini, mari mengundang Sang Raja Damai hadir dalam kehidupan kita sehingga kedamaian Firdaus hadir kembali dalam hidup kita.

02 Desember 2009

SEMANGAT NATAL

Ayat bacaan: Filipi 2:5
 
"Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus"


semangat natalTidak terasa kita sudah memasuki bulan Desember, dimana kita sebentar lagi akan merayakan Natal. Ini adalah bulan dimana hampir semua orang percaya akan lebih bersemangat dalam bekerja karena sebentar lagi akan ada libur, beberapa pesta atau tukar menukar kado dan berbagai kegiatan-kegiatan yang menggembirakan bersama keluarga dan sahabat-sahabat dekat. Sebagian dari kita mulai mengumpulkan lagu-lagu Natal agar bisa merasakan semangat Natal sejak awal bulan, bahkan mungkin ada sebagian di antara kita yang mulai membayangkan indahnya rumah diterangi kelap kelip pohon natal sebentar lagi. Pergi liburan bersama anak-anak, makan bersama keluarga besar, berkirim kartu ucapan, semua terasa begitu indah. Tidak heran mendekati Natal biasanya senyuman akan lebih mudah dijumpai di kalangan anak-anak Tuhan. Jika anda tinggal di luar negeri seperti Eropa atau sebagian dari Amerika, mungkin anda tengah menantikan turunnya salju yang sangat identik dengan Natal. Pusat-pusat perbelanjaan mulai berbenah dengan dekorasi dan lagu-lagu yang diputar pun tidak akan jauh dari lagu-lagu Natal. Salahkah itu semua? Tentu Tidak. Kelahiran Yesus sudah sepantasnya kita sikapi dengan sukacita. KedatanganNya ke dunia ini membawa misi penting untuk menebus kita semua, sebagai bukti nyata betapa Tuhan mengasihi manusia dan tidak ingin satupun dari kita untuk binasa. Dengan begitu indahnya Alkitab menuliskan firman Tuhan ini: "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yohanes 3:16). Oleh karenanya sukacita hadir di dalam diri kita, dan sebagai manusia tentu kita akan merayakannya melalui berbagai kegiatan yang diisi dengan kegembiraan. Pertanyaannya, apakah semangat Natal hanyalah berbicara atau berkaitan dengan pesta, tukar menukar kado, mendengar dan menyanyikan lagu-lagu Natal dari artis ternama? Jika itu yang menjadi gambaran bagi kita, maka itu tandanya kita belumlah sepenuhnya mengerti apa yang seharusnya menjadi semangat Natal yang sesungguhnya.

Natal adalah saat dimana kita merayakan kelahiran Yesus Kristus ke dunia. Seperti yang saya sebutkan di atas tadi, Natal ada karena kasih Tuhan yang begitu besar atas kita. Tuhan merelakan anakNya yang tunggal turun ke dunia ini, mengambil rupa sama seperti kita, menebus dosa-dosa kita semua agar kita tidak binasa, melainkan bisa memperoleh kehidupan yang kekal. Hubungan kita dengan Tuhan dipulihkan, sehingga hari ini kita bisa "dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia" (Ibrani 4:16), tinggal dan diam di dalam hadirat Tuhan. Ini sesuatu yang luar biasa yang bisa kita nikmati lewat penebusan Kristus. Mari kita lihat bagaimana briliannya Paulus menggambarkan hal ini dalam Filipi 2. "Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus" (Filipi 2:5). Pertama, lihatlah bahwa Yesus tidak menganggap bahwa kesetaraanNya dengan Allah harus dipertahankan. Yesus adalah Allah. Tapi meski demikian, "yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia." (ay 6-7) Yesus mengosongkan diriNya. Maknanya? Dia rela mengambil rupa seorang hamba dan dilahirkan seperti manusia. Kedua, Yesus mau merendahkan diriNya untuk taat sepenuhnya menjalankan misi yang digariskan Tuhan sampai kepada kematianNya di atas kayu salib. Semua dilakukan demi kita semua manusia. "Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib." (ay 8). Ini semua Dia lakukan karena kasih yang begitu besar kepada kita. Dan bagi kita manusia yang telah ditebus, sudah seharusnya kita meneladani apa yang telah diperbuat Kristus kepada sesama kita pula. We think the way He thinks, Tuhan Yesus memikirkan nasib manusia, karena itulah Natal ada. Jika Dia memikirkan nasib kita, tidakkah itu berarti bahwa kita pun harus merepresentasikan itu dengan mengasihi sesama kita juga?

Lewat pertobatan kita, kita meninggalkan kehidupan lama kita yang penuh cacat dan diperbaharui dalam roh dan pikiran kita dan menggantikannya dengan sebentuk hidup sebagai manusia baru yang telah sesuai kehendakNya dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya sesuai kehendak Tuhan. (Efesus 4:22-24). Be constantly renewed in the spirit of your mind. Roh kita sudah diperbaharui, maka pemikiran kita pun seharusnya mengikuti itu. Ironis sekali jika kita yang seharusnya sudah diubahkan menjadi manusia baru tapi masih juga belum bisa menanggalkan berbagai pemikiran-pemikiran lama, masih terpusat pada kepentingan dan hal-hal yang menyenangkan secara pribadi lalu tidak tergerak untuk memikirkan saudara-saudara kita lainnya yang tengah menghadapi pergumulan berat.

Di saat kita merancang berbagai kegiatan seperti pesta, liburan ke luar kota atau ke luar negeri atau bentuk-bentuk perayaan lainnya, ada banyak saudara kita yang mungkin makan sehari sekali saja masih sulit. Ada banyak yang tengah meratap memohon belas kasih akibat beratnya beban hidup. Ketika Yesus sudah melakukan itu semua lewat kedatanganNya ke dunia ini, sudahkah kita merepresentasikan semangat Kristus itu? Apakah kita mau merendahkan diri kita juga untuk berkorban, melayani dan membantu saudara-saudara kita yang sedang menderita? Itulah yang menjadi semangat Natal yang sesungguhnya. Memasuki Natal tahun ini, marilah kita lebih peka dan peduli lagi terhadap sesama kita. Tidak akan ada perayaan Natal jika Kristus tidak datang ke dunia untuk menebus kita. Dia telah mengosongkan diri, mengambil rupa seorang hamba dan taat sampai mati di kayu salib sehingga kita bisa menikmati hadirat Tuhan hari ini dan mendapat jaminan keselamatan dalam kehidupan kekal. Demikian pula seharusnya kita bersikap. Semangat Natal sesungguhnya adalah semangat yang meneladani Kristus, dimana kita mau meluangkan waktu, tenaga dan sebagian dari yang kita miliki untuk membantu sesama kita yang menderita. Mereka pun ada dalam kasih Tuhan, mereka pun terlukis dalam telapak tanganNya dan tergambar dalam ruang mataNya. Tuhan mengasihi mereka sama seperti Tuhan mengasihi kita. Dan jika Tuhan saja mengasihi mereka, kita pun sudah selayaknya mengasihi mereka juga. Membantu mereka yang kekurangan, membagi sukacita dan berkat kepada mereka, sehingga mereka bisa tersenyum dan dapat merayakan kelahiran Kristus bersama kita tanpa harus menangis lagi, itulah semangat Natal yang sesungguhnya. Mari masuki masa Natal dengan semangat Natal yang benar.

Portret semangat Natal sepantasnya tergambar dari kepedulian kita terhadap sesama