Pelangi merupakan simbol dari kesetiaan dan cinta kasih Allah bagi seluruh isi dunia. Setelah peristiwa air bah yang menunjuk pada bumi yang sudah penuh oleh dosa, maka Allah menghadirkan pelangi sebagai tanda perjanjian-Nya dengan Nuh beserta seluruh keturunannya, lebih dari itu dengan semua manusia dan makhluk hidup lainnya yang telah diciptakan-Nya. Ia berjanji bahwa Ia tidak akan pernah lagi menghancurkan bumi ini (Kej. 9). Pelangi juga mengingatkan kita tentang kesungguhan Allah untuk memenuhi atau menggenapi janji-janji-Nya. Palungan memberi arti pada perlawatan Allah kepada manusia, supaya mereka tidak binasa, di mana Allah telah memberikan Anak-Nya yang tunggal, yang lahir di Betlehem untuk memberikan hidup-Nya bagi manusia supaya mereka tidak binasa (Yoh. 3 : 16). Pelangi juga mau menyimbolkan tentang pembebasan/penebusan yang sekaligus telah diberikan lewat kelahiran Anak Allah tersebut, yang diperuntukkan tidak saja bagi orang-orang pilihan, tetapi terutama lebih menunjuk kepada semua orang dan seluruh ciptaan.Pelangi dan palungan hendak mengungkapkan suatu tema besar tentang kasih dan kesetiaan Allah terhadap dunia ini.
30 November 2009
ARTI LOGO NATAL
Pelangi merupakan simbol dari kesetiaan dan cinta kasih Allah bagi seluruh isi dunia. Setelah peristiwa air bah yang menunjuk pada bumi yang sudah penuh oleh dosa, maka Allah menghadirkan pelangi sebagai tanda perjanjian-Nya dengan Nuh beserta seluruh keturunannya, lebih dari itu dengan semua manusia dan makhluk hidup lainnya yang telah diciptakan-Nya. Ia berjanji bahwa Ia tidak akan pernah lagi menghancurkan bumi ini (Kej. 9). Pelangi juga mengingatkan kita tentang kesungguhan Allah untuk memenuhi atau menggenapi janji-janji-Nya. Palungan memberi arti pada perlawatan Allah kepada manusia, supaya mereka tidak binasa, di mana Allah telah memberikan Anak-Nya yang tunggal, yang lahir di Betlehem untuk memberikan hidup-Nya bagi manusia supaya mereka tidak binasa (Yoh. 3 : 16). Pelangi juga mau menyimbolkan tentang pembebasan/penebusan yang sekaligus telah diberikan lewat kelahiran Anak Allah tersebut, yang diperuntukkan tidak saja bagi orang-orang pilihan, tetapi terutama lebih menunjuk kepada semua orang dan seluruh ciptaan.Pelangi dan palungan hendak mengungkapkan suatu tema besar tentang kasih dan kesetiaan Allah terhadap dunia ini.
SELALU TETAP BERSYUKUR
Ayat bacaan: Mazmur 52:11
======================
Sejauh mana kita mampu untuk terus bersyukur dan mengimani dengan sungguh-sungguh bahwa Tuhan sungguh baik ketika kita sedang mengalami masalah? Adalah mudah untuk bersyukur ketika kita sedang dalam kondisi nyaman dan baik, namun ketika kita sedang dalam kesulitan, katakanlah sedang menderita sakit, terkadang sulit bagi kita untuk mengucap syukur. Kecenderungan manusia adalah mendesak Tuhan untuk sesegera mungkin melepaskan kita dari beban masalah dan sakit penyakit. Tetapi ketika kita belum juga lepas, mampukah kita terus bersyukur memuliakan Tuhan? Saya benar-benar merasa terharu lewat seorang bapak yang masih setia melayani di gereja di mana saya bertumbuh, meskipun ia sedang menderita penyakit yang tidak main-main, yaitu kanker.
Dunia ini hanya sementara, tapi Surga itu kekal
======================
"Aku hendak bersyukur kepada-Mu selama-lamanya, sebab Engkaulah yang bertindak; karena nama-Mu baik, aku hendak memasyhurkannya di depan orang-orang yang Kaukasihi!"
Penyakit kanker yang diderita beliau mengharuskannya bolak balik ke Singapura untuk menjalani kemoterapi. Dari hasil pemeriksaan terakhir, diketahui bahwa kankernya sudah menyebar ke beberapa bagian tubuh. Namun lihatlah bagaimana reaksinya. Ia masih terus setia melayani! Dan ia terus bersaksi bahwa Tuhan itu baik. Ia terus percaya Tuhan akan selalu memberikan yang terbaik kepadanya, Tuhan akan selalu menguatkan dirinya untuk tetap teguh dalam pelayanan. Ketika sebagian orang sudah menyerah, putus asa dan tidak lagi memiliki minat untuk melakukan apapun, ia tetap setia tampil di depan melakukan pekerjaan Tuhan. Ini sebuah sikap yang sungguh mengagumkan. Saya terharu dan merasa sangat diberkati lewat keteladanannya. Sakit atau tidak, ia tetap tampil seperti tanpa beban. Ia tetap bersukacita, ia tetap tersenyum, meski apa yang sedang ia derita sangatlah serius. Melihat dirinya hari Minggu kemarin, saya pun teringat akan ayat-ayat dalam Mazmur yang berasal dari keteguhan iman Daud. Daud tidak pernah berhenti untuk bersyukur dalam kondisi seterjepit apapun.
Daud pada suatu kali mengatakan "Aku hendak bersyukur kepada-Mu selama-lamanya, sebab Engkaulah yang bertindak; karena nama-Mu baik, aku hendak memasyhurkannya di depan orang-orang yang Kaukasihi!" (Mazmur 52:11). Dalam banyak kesempatan lain pun Daud berulang kali menyatakan ucapan syukurnya. Tidak gampang untuk bisa mencapai tingkat seperti Daud, karena seringkali rasa sakit itu menyiksa, penderitaan terasa berat, beban masalah melemahkan diri maupun rohani kita. Itu lumrah terjadi. Namun janganlah kita menyerah dan menuruti segala kelemahan daging itu. Bagaimana caranya? Paulus mengajarkan caranya yaitu dengan mengarahkan fokus pandangan ke arah yang tepat. "Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal." (2 Korintus 4:18) Inilah kunci bagaimana Paulus dan rekan-rekannya tidak tawar hati meski mereka kerap mengalami penyiksaan dan penderitaan dalam menjalankan pelayanan mereka. Paulus dan rekan-rekan sepelayanannya tidak memfokuskan diri mereka kepada sesuatu yang kelihatan, hal-hal duniawi, namun mereka terus fokus mengarahkan pandangan kepada yang tidak kelihatan, kepada perkara-perkara Surgawi, segala sesuatu yang mengarah kepada kekekalan. Paulus dan kawan-kawan tahu bahwa mengarahkan pandangan hanya kepada yang kelihatan hanyalah akan membuat mereka lemah dan kemudian menyerah. Namun mengarahkan pandangan kepada kehidupan yang kekal kelak dimana Yesus bertahta, itu akan membuat mereka terus bersemangat dan tidak kehilangan harapan. Dalam suratnya untuk jemaat Kolose, ia mengulangi hal ini. "Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah." (Kolose 3:1). Dan dengan tegas ia berkata "Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi." (ay 2). Ini sebuah kunci penting yang patut kita teladani dalam menjalani hidup.
Ada sebuah kalimat yang pernah saya baca bunyinya begini. "Rasa sakit itu sifatnya pasti, namun menderita itu adalah pilihan". Kedagingan kita memang membuat kita harus merasakan rasa sakit, namun apakah kita menderita atau tetap bersukacita, itu adalah sebuah pilihan. Apa yang dikatakan Paulus menjadi begitu relevan, bahwa tidaklah tepat untuk mengarahkan fokus kepada hal-hal di dunia yang hanya sementara sifatnya. Mengarahkan kepada kekekalan, dimana tidak lagi ada penderitaan dan isak tangis, dimana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah, itu jauh lebih penting. Dan untuk menuju kesana, kita harus tetap fokus kepada hal tersebut. Untuk itu, hendaklah kita senantiasa mengucap syukur dalam segala hal, baik suka maupun duka, senang maupun susah, sehat maupun sakit. "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu." (1 Tesalonika 5:18). Tidak ada yang mustahil bagi Allah, namun di atas itu semua, rencanaNya tetap yang terbaik bagi kita. Apapun itu. Allah itu setia, dan telah menyediakan segalanya sesuai janjiNya. Sementara hidup ini hanya sementara, kekekalan itu lebih berguna. Itulah tampaknya yang menjadi pegangan iman dari sang bapak yang tengah menderita kanker untuk tetap terus bersukacita dan tidak henti-hentinya bersyukur mengatakan bahwa Tuhan itu baik. Baik bapak itu maupun kita, teruslah berjuang dengan pengharapan penuh dipenuhi ucapan syukur hingga akhir agar segala yang dijanjikan Tuhan tidak menguap sia-sia.
Dunia ini hanya sementara, tapi Surga itu kekal
MENGAPA SAYA HARUS PERCAYA PADA KEBANGKITAN KRISTUS ?
Adalah merupakan fakta yang sudah cukup buktinya bahwa Yesus dihukum mati di depan umum di Yudea pada abad pertama AD, di bawah pemerintahan Pontius Pilatus, dengan cara di salib, atas permintaan dari Mahkamah Agama Yahudi. Kesaksian sejarah non-Kristen dari Flavius Josephus, Cornelius Tacitus, Lucian dari Samosata, Maimonides, dan bahkan dari Mahkamah Agama Yahudi mendukung kesaksian dari orang-orang Kristen mula-mula mengenai aspek historis penting dari kematian Yesus Kristus.
Mengenai kebangkitanNya, ada beberapa bukti yang kuat. Ahli hukum dan negarawan internasional Sir Lionel Luckhoo (tercatat dalam Guinness Book of World Records untuk keberhasilannya dalam membela 245 kasus pembunuhan secara berturut-turut) menjadi lambang dari antusiasme dan keyakinan Kristen akan kuatnya bukti kebangkitan ketika dia menulis, “Saya memiliki pengalaman lebih dari 42 tahun sebagai pengacara di berbagai penjuru dunia dan masih praktek secara aktif hingga hari ini. Saya beruntung bahwa berkali-kali saya sukses dalam pengadilan dan dengan tegas saya harus katakan bahwa bukti dari kebangkitan Yesus Kristus begitu banyak dan kuat sehingga harus diterima tanpa ada keraguan sama sekali.”
Tidak mengherankan bahwa masyarakat sekuler menanggapi bukti-bukti itu secara apatis sesuai dengan sikap mereka yang bersiteguh dengan komitmen kepada metodologi naturalisme. Bagi mereka yang asing dengan istilah ini, metodologi naturalisme adalah usaha manusia untuk menjelaskan segala sesuatu berdasarkan alasan-alasan alamiah dan hanya alasan-alasan alamiah semata-mata. Jikalau apa yang dianggap sebagai peristiwa historis bertentangan dengan penjelasan alamiah (misalnya mujizat kebangkitan), para sarjana sekuler umumnya memperlakukannya dengan skeptisisme yang berlebihan, tanpa memperdulikan bukti yang sekuat apapun.
Dalam pandangan kami, sikap bersiteguh sedemikian terhadap penyebab-penyebab alamiah sekalipun tidak didukung oleh bukti-bukti yang cukup adalah merupakan sikap yang tidak kondusif terhadap penelitian yang tidak berpihak. Kami sepaham dengan Dr. Wehner von Braun dan banyak lagi yang lainnya yang tetap percaya bahwa memaksakan kecenderungan filosofi populer kepada bukti-bukti yang ada menghalangi obyektifitas. Dalam kata-kata dari Dr. Von Braun, “Dipaksa untuk percaya pada hanya satu kesimpulan … adalah pelanggaran terhadap obyektifitas sains itu sendiri.”
Setelah mengatakan demikian, mari kita menelaah beberapa bukti yang mendukung kebangkitan.
Bukti pertama mengenai kebangkitan Kristus
Mari kita mulai dengan kesaksian yang sungguh-sungguh dari para saksi mata. Para apologis Kristen yang mula-mula mengutip ratusan saksi mata, beberapa dari mereka mencatat pengalaman-pengalaman mereka sendiri. Banyak dari para saksi mata ini dengan sukarela dan tekad bulat mengalami penganiayaan yang panjang dan kematian daripada menyangkali kesaksian mereka. Fakta-fakta ini membuktikan kesungguhan mereka, tidak mungkin mereka menipu. Menurut catatan sejarah (Kisah Rasul 4:1-17; Surat Plini kepada Trajan X, 96, dll) kebanyakan orang Kristen dapat mengakhiri penderitaan mereka dengan menyangkali iman mereka. Namun kebanyakan justru memilih untuk menjalani penderitaan mereka dan tetap memberitakan kebangkitan Kristus sampai akhir hayat mereka.
Memang harus diakui bahwa sekalipun mati syahid itu mengagumkan, namun tidak betul-betul merupakan sesuatu yang kuat. Hal itu tidak meneguhkan kepercayaan sebaliknya lebih menekankan pada si orang percaya (dengan menunjukkan kesungguhan mereka dengan cara yang dapat dibuktikan). Apa yang membuat para martir Kristen mula-mula ini luar biasa adalah karena mereka tahu apakah yang mereka percaya itu benar atau tidak. Mereka benar-benar melihat Yesus hidup lagi setelah kematianNya atau sama sekali tidak. Ini yang luar biasa. Kalau semua ini hanya merupakan kebohongan, mengapa begitu banyak yang tetap mempertahankannya dalam keadaan yang mereka harus tanggung? Mengapa mereka terus berpegang pada dusta yang begitu merugikan dan bersedia menanggung penganiayaan, penjara, siksa dan kematian?
Walaupun tidak diragukan bahwa para pembajak pada peristiwa 11 September 2001 percaya pada apa yang mereka katakan (dibuktikan dengan kerelaan mereka untuk mati demi kepercayaan mereka) mereka tidak tahu dan tidak dapat tahu apakah semua itu benar atau tidak. Mereka beriman pada tradisi yang diwariskan kepada mereka secara turun temurun. Sebaliknya orang-orang Kristen mula-mula yang menjadi martir adalah orang-orang dari generasi pertama. Mereka melihat sendiri apa yang mereka katakan mereka lihat atau mereka sama sekali tidak melihatnya.
Dari antara para saksi yang paling menonjol adalah para Rasul. Secara kelompok mereka mengalami perubahan yang drastis setelah penampakan Kristus setelah dibangkitkan. Begitu Yesus disalib, mereka menyembunyikan diri dalam ketakutan. Setelah kebangkitan, mereka turun ke jalan, dengan berani memberitakan kebangkitan sekalipun harus mengalami penganiayaan yang makin berat. Bagaimana kita menjelaskan perubahan yang begitu mendadak dan drastis? Jelas bukan karena keuntungan finansial. Para Rasul mengorbankan segalanya, termasuk hidup mereka, demi untuk memberitakan kebangkitan.
Bukti kedua mengenai kebangkitan Kristus.
Bukti kedua berhubungan dengan pertobatan dari sekelompok orang yang ragu, yang paling menonjol adalah Paulus dan Yakobus. Menurut pengakuannya sendiri Paulus adalah seorang penganiaya gereja mula-mula yang keji. Setelah apa yang digambarkannya sebagai pertemuan dengan Kristus yang bangkit, Paulus mengalami perubahan yang mendadak dan drastis, dari penganiaya yang keji menjadi salah seorang pembela gereja yang paling tangguh dan pandai. Sama seperti orang-orang Kristen lainnya, Paulus mengalami penganiayaan, kekurangan, cambuk, pemenjaraan dan dieksekusi karena komitmennya yang tidak goyah terhadap kebangkitan Kristus.
Yakobus adalah seorang skeptik walaupun tidak melakukan kekerasan seperti Paulus. Pertemuannya dengan Kristus yang bangkit mengubah dia menjadi orang percaya yang sulit untuk ditiru, bahkan menjadi pemimpin gereja di Yerusalem. Hingga hari ini kita masih memiliki apa yang secara umum diterima oleh para sarjana sebagai salah satu dari surat-suratnya kepada gereja mula-mula. Sama seperti Paulus, Yakobus bersedia menderita dan mati demi kesaksiannya, suatu fakta yang membuktikan kesungguhan imannya (lihat Kisah Para Rasul dan Antiquities of Jews XX, ix, 1 yang ditulis oleh Josephus).
Bukti ketiga dan keempat mengenai kebangkitan Kristus.
Berikut ini adalah tiga penjelasan yang paling umum.
Pertama, para murid mencuri tubuh Yesus. Kalau memang demikian, mereka akan tahu bahwa kebangkitan itu hanya merupakan suatu cerita bohong. Karena itu mereka tidak mungkin bersedia menderita dan mati untuk itu (lihat bukti pertama mengenai kesungguhan dari kesaksian para saksi mata). Semua saksi mata akan tahu bahwa mereka tidak betul-betul melihat Kristus bangkit dan karena itu mereka sudah berdusta. Dengan begitu banyak orang yang bersekongkol, salah seorang pasti akan mengaku, kalau bukan untuk mengakhiri penderitaannya, maka untuk mengakhiri penderitaan dari teman-teman dan keluarganya. Generasi Kristen yang pertama dianiaya dengan sangat kejam, khususnya setelah kebakaran di Roma pada tahun 64 AD (kebakaran yang katanya diperintahkan oleh Nero untuk menyediakan ruang untuk memperbesar istananya, tapi dituduhkan pada orang-orang Kristen di Roma untuk membebaskan diri sendiri). Sebagaimana dikisahkan oleh sejarahwan Roma, Cornelius Tacitus, dalam Annals of Imperial Rome (diterbitkan satu generasi setelah kebakaran itu)
“Nero menyalahkan dan dengan amat kejam menganiaya lapisan masyarakat yang paling dibenci, yaitu mereka yang disebut orang-orang Kristen oleh masyarakat umum. Pada masa pemerintaahan Tiberius, Kristus, sumber dari panggilan itu, menderita hukuman yang amat keji dalam tangan salah seorang penguasa kita, yaitu Pontius Pilatus, dan tahyul yang paling jahat yang untuk sementara terkendali kembali membara, bukan saja di Yudea, sumber kejahatan yang pertama, tapi juga di Roma, di mana segala hal yang najis dan memalukan dari seluruh dunia berdatangan dan menjadi populer. Seturut dengan itu, mula-mula mereka yang mengaku bersalah ditangkap, dan berdasarkan informasi dari mereka, khalayak ramaipun didakwa, bukan karena membakar kota, namun karena kejahatan melawan kemanusiaan. Sesudah matipun, mereka masih dihina dengan sangat. Mereka dipakaikan kulit binatang liar dan kemudian dicabik-cabik oleh anjing hingga mati, atau dipaku di salib, atau dibakar dengan api dan dijadikan penerangan malam ketika kegelapan tiba.” (Annals, XV, 44).
Nero menggunakan orang-orang Kristen yang dia bakar hidup-hidup sebagai penerangan untuk pesta-pesta taman yang diselenggarakannya. Menghadapi penderitaan dan kesakitan yang luar biasa seperti ini pasti akan ada yang mengakui kebenaran. Namun demikian, faktanya kita tidak mendapatkan catatan apapun bahwa ada orang Kristen mula-mula yang menyangkali iman mereka demi untuk mengakhiri penderitaan mereka. Sebaliknya kita mendapatkan berbagai kisah mengenai penampakan sesudah kebangkitan dan ratusan saksi mata yang bersedia menderita dan mati karenanya.
Jikalau para murid tidak mencuri tubuh Kristus, bagaimana kita menjelaskan kubur kosong? Ada yang mengatakan bahwa Kristus pura-pura mati dan belakangan melarikan diri dari kuburan. Ini sama sekali tidak masuk akal. Menurut para saksi mata, Kristus dipukuli, disiksa, dicambuk dan ditikam. Dia menderita luka dalam, kehilangan darah dalam jumlah besar, tidak bisa bernafas dan ditikam dengan tombak. Tidak ada dasar untuk percaya bahwa Yesus Kristus (atau siapapun) dapat lolos dari penderitaan seperti itu, pura-pura mati, berbaring dalam kubur selama tiga hari tiga malam tanpa mendapat perawatan medis, makanan atau air, menyingkirkan batu besar yang menutupi kuburnya, lari tanpa meninggalkan bekas (tanpa meninggalkan jejak darah), meyakinkan ratusan saksi mata bahwa dia bangkit dari kematian dan sehal walafiat, dan kemudian menghilang tanpa bekas. Pemikiran semacam ini sangat tidak masuk akal.
Bukti kelima mengenai kebangkitan Kristus.
Akhirnya, bukti kelima berhubungan dengan keanehan dari kesaksian para saksi mata. Dalam semua kisah utama mengenai kebangkitan, para wanita disebut sebagai para saksi yang pertama dan utama. Hal ini merupakan cara yang ganjil karena dalam budaya Roma dan Yahudi kuno para wanita sangat dipandang remeh. Kesaksian mereka dianggap tidak penting dan dapat diabaikan. Mengingat akan hal ini, sangat tidak mungkin bahwa pencipta cerita palsu dalam abad pertama Yahudi mau memilih wanita sebagai saksi-saksi utama. Dari sekian banyak murid-murid pria yang mengaku bertemu dengan Yesus yang bangkit, kalau saja semua itu adalah kebohongan dan kisah kebangkitan adalah penipuan, mengapa justru saksi-saksi yang paling diremehkan dan tidak dipercaya yang dipilih?
Dr. William Lane Craig menjelaskan, “Ketika Anda memahami peranan wanita dalam masyarakat Yahudi di abad pertama, luar biasa sekali bahwa kisah mengenai kubur kosong menampilkan wanita sebagai yang pertama-tama menemukan kubur kosong. Wanita menempati tingkatan yang sangat rendah dalam strata sosial di abad pertama Palestina. Ada pepatah kuno yang mengatakan “Lebih baik kata-kata Torat dibakar daripada diberikan kepada wanita,” dan “Diberkatilah dia yang mendapatkan anak laki-laki, namun celakalah dia yang mendapatkan anak perempuan.” Kesaksian para wanita dianggap tidak ada gunanya sehingga mereka tidak diizinkan untuk bertindak sebagai saksi dalam sistim pengadilan Yahudi. Dalam terang ini, sangatlah luar biasa bahwa para saksi utama dari kubur kosong adalah para wanita ini. … Semua kisah legenda pada jama belakangan pasti akan menggambarkan murid-murid laki-laki yang menemukan kubur itu, misalnya Petrus atau Yohanes. Fakta bahwa para wanita adalah saksi mula-mula dari kubur kosong dapat dijelaskan dengan penuh kepastian bahwa kenyataannya, suka atau tidak suka, merekalah yang menemukan kubur kosong! Hal ini memperlihatkan bahwa para penulis Injil dengan setia mencatat apa yang terjadi sekalipun itu memalukan. Hal ini membuktikan sifat historis dari tradisi ini dan bukan sebagai legenda. (Dr. William Lane Craig, dikutip oleh Lee Strobel, The Case for Christ, Grand Rapids: Zondervan, 1998, hal. 293.
Ringkasan
Bukti-bukti ini: kesungguhan yang nyata dari para saksi mata (dan dalam hal para Rasul, perubahan yang drastis dan tak terduga), pertobatan dan kesungguhan dari para antagonis dan orang-orang skeptik yang kemudian mati syahid, fakta mengenai kubur kosong, kesaksian dari musuh mengenai kubur kosong, fakta bahwa semua peristiwa ini terjadi di Yerusalem di mana kepercayaan mengenai kebangkitan muncul dan berkembang, kesaksian dari para wanita, makna dari kesaksian mereka dalam konteks sejarah; semua ini secara kuat menyaksikan sifat historis dari kebangkitan. Kami mendorong para pembaca untuk mempertimbangkan bukti-bukti ini. Apa yang dikatakan oleh bukti-bukti ini kepada Anda? Setelah merenungkannya, kami dengan penuh ketekadan mendukung pernyataan dari Sir Lionel:“
“Bukti dari kebangkitan Yesus Kristus begitu banyak dan kuat sehingga harus diterima tanpa ada keraguan sama sekali.”
Bukti ketiga dan keempat berhubungan dengan kesaksian dari para musuh mengenai kubur kosong dan fakta bahwa kepercayaan mengenai kebangkitan berakar di Yerusalem. Yesus dihukum mati di depan umum dan dikuburkan di Yerusalem. Adalah tidak mungkin untuk kepercayaan mengenai kebangkitannya dapat berakar di Yerusalem sementara tubuhnya masih tergeletak di dalam kubur yang dapat digali kembali oleh Sanhedrin, diperlihatkan kepada umum, dan dengan demikian membuktikan kepalsuan kebangkitannya. Sebaliknya, Sanhedrin menuduh para murid telah mencuri tubuh Yesus, nampaknya untuk menjelaskan hilangnya tubuh Yesus (dan kubur kosong). Bagaimana kita dapat menjelaskan fakta mengenai kubur kosong?
Berikut ini adalah tiga penjelasan yang paling umum.
Pertama, para murid mencuri tubuh Yesus. Kalau memang demikian, mereka akan tahu bahwa kebangkitan itu hanya merupakan suatu cerita bohong. Karena itu mereka tidak mungkin bersedia menderita dan mati untuk itu (lihat bukti pertama mengenai kesungguhan dari kesaksian para saksi mata). Semua saksi mata akan tahu bahwa mereka tidak betul-betul melihat Kristus bangkit dan karena itu mereka sudah berdusta. Dengan begitu banyak orang yang bersekongkol, salah seorang pasti akan mengaku, kalau bukan untuk mengakhiri penderitaannya, maka untuk mengakhiri penderitaan dari teman-teman dan keluarganya. Generasi Kristen yang pertama dianiaya dengan sangat kejam, khususnya setelah kebakaran di Roma pada tahun 64 AD (kebakaran yang katanya diperintahkan oleh Nero untuk menyediakan ruang untuk memperbesar istananya, tapi dituduhkan pada orang-orang Kristen di Roma untuk membebaskan diri sendiri). Sebagaimana dikisahkan oleh sejarahwan Roma, Cornelius Tacitus, dalam Annals of Imperial Rome (diterbitkan satu generasi setelah kebakaran itu)
“Nero menyalahkan dan dengan amat kejam menganiaya lapisan masyarakat yang paling dibenci, yaitu mereka yang disebut orang-orang Kristen oleh masyarakat umum. Pada masa pemerintaahan Tiberius, Kristus, sumber dari panggilan itu, menderita hukuman yang amat keji dalam tangan salah seorang penguasa kita, yaitu Pontius Pilatus, dan tahyul yang paling jahat yang untuk sementara terkendali kembali membara, bukan saja di Yudea, sumber kejahatan yang pertama, tapi juga di Roma, di mana segala hal yang najis dan memalukan dari seluruh dunia berdatangan dan menjadi populer. Seturut dengan itu, mula-mula mereka yang mengaku bersalah ditangkap, dan berdasarkan informasi dari mereka, khalayak ramaipun didakwa, bukan karena membakar kota, namun karena kejahatan melawan kemanusiaan. Sesudah matipun, mereka masih dihina dengan sangat. Mereka dipakaikan kulit binatang liar dan kemudian dicabik-cabik oleh anjing hingga mati, atau dipaku di salib, atau dibakar dengan api dan dijadikan penerangan malam ketika kegelapan tiba.” (Annals, XV, 44).
Nero menggunakan orang-orang Kristen yang dia bakar hidup-hidup sebagai penerangan untuk pesta-pesta taman yang diselenggarakannya. Menghadapi penderitaan dan kesakitan yang luar biasa seperti ini pasti akan ada yang mengakui kebenaran. Namun demikian, faktanya kita tidak mendapatkan catatan apapun bahwa ada orang Kristen mula-mula yang menyangkali iman mereka demi untuk mengakhiri penderitaan mereka. Sebaliknya kita mendapatkan berbagai kisah mengenai penampakan sesudah kebangkitan dan ratusan saksi mata yang bersedia menderita dan mati karenanya.
Jikalau para murid tidak mencuri tubuh Kristus, bagaimana kita menjelaskan kubur kosong? Ada yang mengatakan bahwa Kristus pura-pura mati dan belakangan melarikan diri dari kuburan. Ini sama sekali tidak masuk akal. Menurut para saksi mata, Kristus dipukuli, disiksa, dicambuk dan ditikam. Dia menderita luka dalam, kehilangan darah dalam jumlah besar, tidak bisa bernafas dan ditikam dengan tombak. Tidak ada dasar untuk percaya bahwa Yesus Kristus (atau siapapun) dapat lolos dari penderitaan seperti itu, pura-pura mati, berbaring dalam kubur selama tiga hari tiga malam tanpa mendapat perawatan medis, makanan atau air, menyingkirkan batu besar yang menutupi kuburnya, lari tanpa meninggalkan bekas (tanpa meninggalkan jejak darah), meyakinkan ratusan saksi mata bahwa dia bangkit dari kematian dan sehal walafiat, dan kemudian menghilang tanpa bekas. Pemikiran semacam ini sangat tidak masuk akal.
Bukti kelima mengenai kebangkitan Kristus.
Akhirnya, bukti kelima berhubungan dengan keanehan dari kesaksian para saksi mata. Dalam semua kisah utama mengenai kebangkitan, para wanita disebut sebagai para saksi yang pertama dan utama. Hal ini merupakan cara yang ganjil karena dalam budaya Roma dan Yahudi kuno para wanita sangat dipandang remeh. Kesaksian mereka dianggap tidak penting dan dapat diabaikan. Mengingat akan hal ini, sangat tidak mungkin bahwa pencipta cerita palsu dalam abad pertama Yahudi mau memilih wanita sebagai saksi-saksi utama. Dari sekian banyak murid-murid pria yang mengaku bertemu dengan Yesus yang bangkit, kalau saja semua itu adalah kebohongan dan kisah kebangkitan adalah penipuan, mengapa justru saksi-saksi yang paling diremehkan dan tidak dipercaya yang dipilih?
Dr. William Lane Craig menjelaskan, “Ketika Anda memahami peranan wanita dalam masyarakat Yahudi di abad pertama, luar biasa sekali bahwa kisah mengenai kubur kosong menampilkan wanita sebagai yang pertama-tama menemukan kubur kosong. Wanita menempati tingkatan yang sangat rendah dalam strata sosial di abad pertama Palestina. Ada pepatah kuno yang mengatakan “Lebih baik kata-kata Torat dibakar daripada diberikan kepada wanita,” dan “Diberkatilah dia yang mendapatkan anak laki-laki, namun celakalah dia yang mendapatkan anak perempuan.” Kesaksian para wanita dianggap tidak ada gunanya sehingga mereka tidak diizinkan untuk bertindak sebagai saksi dalam sistim pengadilan Yahudi. Dalam terang ini, sangatlah luar biasa bahwa para saksi utama dari kubur kosong adalah para wanita ini. … Semua kisah legenda pada jama belakangan pasti akan menggambarkan murid-murid laki-laki yang menemukan kubur itu, misalnya Petrus atau Yohanes. Fakta bahwa para wanita adalah saksi mula-mula dari kubur kosong dapat dijelaskan dengan penuh kepastian bahwa kenyataannya, suka atau tidak suka, merekalah yang menemukan kubur kosong! Hal ini memperlihatkan bahwa para penulis Injil dengan setia mencatat apa yang terjadi sekalipun itu memalukan. Hal ini membuktikan sifat historis dari tradisi ini dan bukan sebagai legenda. (Dr. William Lane Craig, dikutip oleh Lee Strobel, The Case for Christ, Grand Rapids: Zondervan, 1998, hal. 293.
Ringkasan
Bukti-bukti ini: kesungguhan yang nyata dari para saksi mata (dan dalam hal para Rasul, perubahan yang drastis dan tak terduga), pertobatan dan kesungguhan dari para antagonis dan orang-orang skeptik yang kemudian mati syahid, fakta mengenai kubur kosong, kesaksian dari musuh mengenai kubur kosong, fakta bahwa semua peristiwa ini terjadi di Yerusalem di mana kepercayaan mengenai kebangkitan muncul dan berkembang, kesaksian dari para wanita, makna dari kesaksian mereka dalam konteks sejarah; semua ini secara kuat menyaksikan sifat historis dari kebangkitan. Kami mendorong para pembaca untuk mempertimbangkan bukti-bukti ini. Apa yang dikatakan oleh bukti-bukti ini kepada Anda? Setelah merenungkannya, kami dengan penuh ketekadan mendukung pernyataan dari Sir Lionel:“
“Bukti dari kebangkitan Yesus Kristus begitu banyak dan kuat sehingga harus diterima tanpa ada keraguan sama sekali.”
HATI YANG MURNI
Ayat bacaan: Matius 5:8
====================
"Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah."
Apa yang ada di dalam hati kita ketika kita mengulurkan tangan kita untuk membantu orang-orang yang kekurangan, ketika kita melayani Tuhan dan melakukan pekerjaanNya? Banyak yang melayani, namun tidak seluruhnya memiliki kondisi hati yang sesuai dengan apa yang dikehendaki Tuhan. Ada orang yang dengan tulus sungguh-sungguh melayani karena mengasihi Tuhan, tapi ada pula orang yang melayani karena ingin membesarkan dirinya sendiri. Ingin terlihat hebat, ingin terlihat rohani, ingin menonjolkan kemampuan dan sebagainya. Ada pula yang karena ingin menarik perhatian kekasihnya, karena paksaan orang tua, ingin mendapat pujian dan lain-lain. Ada pula yang melayani karena hanya ingin mendapatkan upah dari Tuhan. Betapa banyaknya motivasi yang bisa menjadi dasar dari pelayanan dan perbuatan yang kita lakukan untuk orang lain. Tuhan tentu menghargai pelayanan kita, namun itu hanya terjadi apabila kita melakukannya dengan tulus, dengan hati yang murni.
Alami kebaikan, penyertaan, berkat dan perlindungan Tuhan lewat hati yang tulus, bersih, suci dan murni.
====================
"Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah."
Salah satu ucapan Kristus dari rangkaian kotbahNya di atas bukit yang terkenal berbunyi seperti berikut: "Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah." (Matius 5:8). Dalam bahasa Inggrisnya, kata hati suci ini disebutkan dengan "pure heart". Hati yang murni akan membuat kita melihat Allah. Melihat kuasa-kuasaNya, melihat jalan-jalanNya, melihat petunjukNya dan melihat rencanaNya. Ini sejalan dengan apa yang ditulis oleh Daud. "Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia." (Mazmur 24:4-5). Sesungguhnya Tuhan menyediakan upah kepada orang-orang yang memiliki ketulusan, kemurnian atau kesucian hati. Ada berkat dan keadilan serta keselamatan yang diberikan Tuhan kepada orang-orang yang demikian. Tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, termasuk menipu diri sendiri dan orang lain atau bahkan berpikir untuk bisa mengelabui Tuhan. Orang-orang yang memiliki ketulusan untuk melakukan firman Tuhan, menolong sesama, mengasihi sesama, melayani tanpa pamrih, bukan karena berharap apa-apa dan ingin terlihat seperti apa di mata orang, tapi hanya karena Allah, orang-orang seperti inilah yang akan menikmati perlindungan dari Tuhan dan berbagai berkat-berkatNya yang tercurah dari langit.
Hati yang tulus dan suci ini bisa kita dapatkan lewat pengenalan kita secara pribadi akan Tuhan, lewat firman-firmanNya yang tertulis dalam alkitab dan juga lewat doa-doa kita secara pribadi dengan Tuhan. Bergaul akrab dengan Tuhan, tinggal di dalam hadiratNya, semua ini akan membuat kita bisa memiliki sebentuk hati yang mengasihi Tuhan lebih dari segalanya. Bukan sekedar doa karena rutinitas, karena terpaksa, atau karena sekedar kewajiban saja, bukan pula doa yang berupa hafalan. Mencurahkan isi hati kita secara total kepada Tuhan dengan sejujur-jujurnya akan sangat berbeda dibandingkan doa berbentuk hafalan atau sekedar rutinitas semata. Disitulah kita akan mengalami proses pencucian dan pemurnian hati. Hari demi hari kita akan semakin terbentuk menjadi pribadi berkarakter yang kuat berakar pada Kristus. Dan hari demi hari kita pun akan semakin mampu melayani dengan ketulusan dan kemurnian hati. Inilah yang akan bernilai di hadapan Tuhan.
Tuhan tidak menyukai orang-orang yang munafik dalam hal apapun. Dalam hal memberi: "Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu." (Matius 6:2-4). Dalam hal berdoa: "Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya....Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan." (ay 5,7). Atau dalam hal berpuasa: "Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya." (ay 16). Munafik bertolak belakang dengan tulus dan murni, karena dalam kemunafikan ada begitu banyak motivasi yang tersembunyi di balik layar yang mencemarkan hati kita.
Mari hari ini kita sama-sama memeriksa hati kita. Sudahkah kita memiliki hati yang tulus, suci dan murni dalam menjalani hidup? Apakah kita sudah melayani dengan tulus ikhlas hanya karena Tuhan dan bukan hal-hal yang memegahkan diri kita sendiri? Pemazmur mengatakan "Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya." (Mazmur 73:1). Sesungguhnya ada berkat-berkat dan perlindungan yang disediakan Tuhan kepada orang-orang yang tulus dan bersih hati ini. Itu adalah anugerah Tuhan yang dengan sendirinya akan datang kepada orang seperti ini tanpa harus ditagih terlebih dahulu. Dasarkanlah segala sesuatu yang kita lakukan dengan hati yang bersih dan tulus, suci dan murni agar kita bisa merasakan kebaikan Tuhan senantiasa menyertai kita dalam hidup. Karena akan sia-sia saja kita berbuat baik dan melayani apabila hati kita masih mengalami polusi dari berbagai limbah yang bukan berasal dari Allah. Munafik akan menerima upah, tulus dan murni pun menerima upah. Tapi upahnya jelas berbeda. Yang mana yang akan kita pilih sungguh tergantung dari bagaimana sikap dan kondisi hati kita. Sungguh tepat jika Salomo pun mengingatkan : "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." (Amsal 4:23). Adakah hati kita masih mengalami pencemaran dari berbagai hal? Mari kita bersihkan dengan lebih bertekun lagi membina hubungan dengan Tuhan. Milikilah hati yang suci, karena hanya dengan demikianlah kita bisa melihat Tuhan.
Alami kebaikan, penyertaan, berkat dan perlindungan Tuhan lewat hati yang tulus, bersih, suci dan murni.
MEMERDEKAKAN IMAN LEWAT PENGAMPUNAN
Ayat bacaan: Markus 11:25
======================
Beberapa hari yang lalu seorang teman bercerita bahwa ia sempat mengalami kesulitan air selama beberapa hari. Setelah ditelusuri, ternyata masalahnya bukanlah dari PAM (Perusahaan Air Minum) seperti yang ia duga sebelumnya. Masalah ternyata muncul akibat terjadinya penyumbatan pada pipa yang menyalurkan air menuju ke rumahnya. Setelah pipa dibersihkan, air pun kembali mengucur dengan baik masuk ke rumahnya. Ketika air tidak mengalir di rumah, biasanya kita akan segera menduga bahwa masalah berasal dari sumbernya, tapi ternyata masalah pun bisa terjadi dari halaman rumah kita sendiri. Keesokan harinya ada teman lain yang mengeluh bahwa doanya tidak juga mendapat jawaban. Dan saya pun teringat akan kisah air mampet di atas.
Bersihkan sumbatan dan segera merdekakan iman kita lewat pengampunan
======================
"Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu."
Ketika kita berdoa dan jawaban tidak kunjung datang, ada banyak di antara kita yang segera menyalahkan Tuhan. Tuhan dianggap tidak tanggap, tidak peduli atau berat sebelah. Tetangga kita doanya dikabulkan, sedangkan kita tidak. Ada beberapa perkara yang menjadi penyebabnya. Bisa jadi memang waktunya belum tiba sesuai dengan waktu Tuhan. Karena firman Tuhan berkata, "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya." (Pengkotbah 3:11a). Yang terbaik tentulah sesuatu yang sesuai dengan waktunya Tuhan. Doa belum dikabulkan bisa jadi juga akibat dosa-dosa yang masih terus kita lakukan. "Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu." (Yesaya 59:1-2). Alasan lainnya? Bisa pula karena perlakuan suami terhadap istrinya belumlah benar. "Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang." (1 Petrus 3:7). Dan satu lagi penghambat doa-doa kita didengar Tuhan adalah ketika kita masih menyimpan dendam dan belum bisa memberikan pengampunan. Inilah yang akan saya angkat untuk renungan hari ini.
Tidak banyak orang yang menyadari betapa eratnya hubungan antara iman dan pengampunan. Yesus pernah mengajarkan mengenai hubungan ini dalam kotbahNya mengenai sebentuk iman yang mampu memindahkan gunung hingga tercampak ke laut. (Markus 11:23). Apa yang dikatakan Yesus pada saat itu sebagai syarat adalah keteguhan hati kita. Tidak bimbang, tetap percaya, maka hal itu akan terjadi. Yesus melanjutkan pula dengan ayat yang sudah begitu kita kenal dengan baik. "Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu." (ay 24). Tapi kemudian lihatlah ayat berikutnya. "Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu." (ay 25). Bahkan kemudian menekankan sekali lagi akan hal sebaliknya "Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu." (ay 26). Sebelum kita berdoa, kita wajib terlebih dahulu mengampuni orang-orang yang masih mengganjal dalam hati kita. Artinya, jangan berdoa dulu sebelum kita melepaskan sakit hati atau dendam yang masih bercokol di dalam hati kita.
Ini adalah sebuah pesan penting. Pasti bukan kebetulan jika Yesus menopang gabungan kedua kalimat itu. Tuhan Yesus ingin kita tahu bahwa membebaskan orang-orang yang bersalah kepada kita adalah dasar utama untuk menerima sesuatu dari Tuhan. Tuhan selalu siap mengampuni kesalahan kita sebesar apapun, dan itu bisa terjadi apabila kita mau mengampuni kesalahan orang. "Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga." (Matius 6:14). Fakta menarik dikemukakan Yesus lewat sandingan ayat antara menerima apa yang kita doakan dengan memberikan pengampunan kepada orang-orang yang sudah menyakiti kita. Fakta itu adalah: Jangan berharap doa kita didengar jika kita masih menyimpan sakit hati dan dendam terhadap orang lain. Kita tidak akan dapat memperoleh pengabulan doa dan dendam dalam hati kita sekaligus.
Tuhan memberikan pengampunan yang tidak terbatas, dan kita pun seharusnya demikian terhadap sesama kita. Menyimpan dendam dalam diri kita, selain akan menimbulkan berbagai penyakit dan membuat kita tidak bisa melangkah maju, tapi juga membuat doa-doa kita terhalang, membelenggu iman kita sehingga tidak bisa tumbuh bahkan menghilangkan kesempatan kita untuk menerima pengampunan dari Tuhan. Sungguh perihal pengampunan ini memegang peranan penting bagi pertumbuhan iman kita dan sangat menentukan terhadap apakah doa kita terhalang atau bisa menemukan jawaban. Tidak mudah memang, apalagi jika kita mengandalkan kekuatan diri sendiri untuk memberikan pengampunan. Hampir-hampir mustahil, terutama ketika apa yang dilakukan seseorang menyisakan trauma dan penderitaan yang harus kita pikul untuk waktu yang lama. Tapi sudah menjadi perintah Tuhan bagi kita untuk bisa mengampuni, dan karena itulah kita wajib mentaatinya. Kekuatan kita mungkin terbatas, tapi serahkanlah kepada Tuhan dan mintalah Roh Kudus untuk menguatkan diri kita hingga membuat kita sanggup memberikan pengampunan. Diri kita sendiri mungkin tidak sanggup, tapi bersama Roh Kudus kita pasti sanggup.
Sesungguhnya Tuhan tidak sabar untuk menyatakan kasihNya kepada kita. Dia tidak sabar untuk menjawab doa-doa kita yang tetap menanti-nantikan Dia tanpa putus pengharapan. "Sebab itu TUHAN menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih-Nya kepada kamu; sebab itu Ia bangkit hendak menyayangi kamu. Sebab TUHAN adalah Allah yang adil; berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia!" (Yesaya 30:18). Jika anda telah berdoa untuk sesuatu dan tidak kunjung memperoleh jawaban, tidak ada salahnya untuk kembali memeriksa hati anda. Jika anda menemui ganjalan terhadap seseorang, memiliki sakit hati atau dendam, bereskanlah itu terlebih dahulu. Mintalah Roh Kudus untuk membantu anda mengeluarkannya dari hati anda. Buanglah sumbatan pada saluran iman anda. Bebaskan iman anda dari belenggu kepahitan, sakit hati dan dendam, merdekakanlah iman anda dengan segera. Maka anda pun akan segera menyaksikan bagaimana Tuhan menjawab doa-doa anda dengan begitu luar biasa, bahkan memenuhi anda dengan berkat-berkatNya yang melimpah.
Bersihkan sumbatan dan segera merdekakan iman kita lewat pengampunan
MENGAPA KEBANGKITAN KRISTUS PENTING ?
Kebangkitan Kristus penting adanya karena beberapa penyebab :
Pertama, kebangkitan menyaksikan kuasa Allah yang luar biasa dahsyatnya. Mempercayai kebangkitan adalah mempercayai Allah. Kalau Allah itu ada, dan Dia menciptakan alam semesta dan berkuasa atasnya, Dia memiliki kuasa untuk membangkitkan orang mati. Jikalau Dia tidak memiliki kuasa seperti itu, Dia bukanlah Allah yang layak untuk diimani dan disembah. Hanya Dia sang Pencipta hidup yang dapat membangkitkan kembali dari kematian, hanya Dia yang dapat memulihkan dari kengerian kematian, dan hanya Dia yang dapat menyingkirkan sengat yang adalah kematian itu, dan kemenangan dari kubur. Dengan membangkitkan Yesus dari antara kubur, Allah mengingatkan kita kedaulatanNya yang mutlak atas dosa dan kematian.
Kedua, kebangkitan Yesus adalah kesaksian akan kebangkitan umat manusia, yang adalah merupakan ciri dasar dari iman Kristen. Berbeda dengan agama-agama lainnya, keKristenan belaka yang memiliki pendiri yang melampaui kematian dan yang menjanjikan bahwa para pengikutNya juga akan demikian. Semua agama (palsu) lainnya didirikan oleh manusia dan nabi yang semuanya berakhir di dalam kuburan. Sebagai orang-orang Kristen kita mendapat penghiburan dalam fakta bahwa Allah kita menjadi manusia, mati bagi dosa-dosa kita, dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Kubur tidak dapat menahanNya. Dia hidup dan sekarang duduk di sebelah kanan Allah Bapa di surga. Gereja yang hidup memiliki Kepala yang hidup.
Dalam 1 Korintus 15 Paulus menjelaskan secara detil pentingnya kebangkitan Kristus. Beberapa orang di Korintus tidak percaya pada kebangkitan orang mati, dan dalam pasal ini Paulis memberikan enam konsekwensi yang parah kalau tidak ada kebangkitan: 1) pemberitaan akan Kristus tidak ada artinya (ayat 14); 2) iman dalam Kristus tidak ada gunanya (ayat 14); 3) semua saksi dan pemberita kebangkitan adalah pendusta (ayat 15); 4) tidak ada yang akan ditebus dari dosa (ayat 17); 5) orang-orang percaya pada zaman dulu semua binasa (ayat 18); dan 6) orang-orang Kristen adalah orang yang paling dikasihani di seluruh dunia (ayat 19). Namun Kristus yang sudah bangkit dari antara orang mati dan “telah menjadi buah sulung dari semua yang tertidur” (ayat 20), menjadi jaminan bahwa kita juga akan mengikuti Dia dalam kebangkitan.
Firman Allah yang diinspirasikan menjamin kebangkitan orang-orang percaya pada kedatangan Yesus Kristus untuk TubuhNya (Gereja) pada saat pengangkatan orang percaya. Pengharapan dan jaminan semacam ini diungkapkan dalam nyanyian agung mengenai kemenangan yang ditulis oleh Paulus dalam 1 Korintus 15:155, “Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?"” Bagaimanakah ayat-ayat penutup ini berhubungan dengan pentingnya kebangkitan? Paulus menjawab, “… jerih payahmu tidaklah sia-sia” (ayat 58). Dia mengingatkan kita bahwa karena kita tahu kita akan dibangkitkan kepada kehidupan yang baru maka kita mampu menanggung penganiayaan dan bahaya demi untuk Kristus (ayat 29-31) sebagaimana yang dialami oleh Kristus, dan juga oleh ribuan martir sepanjang sejarah yang dengan senang hati memberikan hidup dalam dunia ini untuk hidup kekal melalui kebangkitan.
Kebangkitan adalah kemenangan agung dan mulia bagi setiap orang percaya dalam Yesus Kristus yang mati, dikuburkan, dan bangkit pada hari ketiga sesuai dengan Kitab Suci. Dan Dia datang kembali! Orang-orang yang mati di dalam Kristus akan dibangkitkan, dan mereka yang masih tinggal dan hidup pada saat kedatanganNya akan diubah dan menerima tubuh baru yang dimuliakan (1 Tesalonika 4:13-18). Mengapa kebangkitan Yesus Kristus penting? Kebangkitan Yesus mendemonstrasikan bahwa Allah menerima pengorbanan Yesus bagi kita. Hal itu membuktikan bahwa Allah berkuasa untuk membangkitkan kita dari antara orang mati. Hal itu menjamin bahwa mereka yang percaya pada Kristus tidak akan tinggal mati, namun akan dibangkitkan kepada kehidupan kekal. Inilah pengharapan agung kita!
28 November 2009
MENGHUJAT KEPADA ROH KUDUS ADALAH DOSA KEKAL
Bacalah Markus 3 : 20 - 30
Tugas utama Tuhan Yesus adalah memberitakan Kerajaan Allah atau pemerintahan Allah. Tugas itu dilakukan dengan mengajar dan melakukan mujizat kepada semua orang yang dijumpai-Nya. Kuasa yang mengurapi Tuhan Yesus dalam tugas-Nya adalah Roh Kudus. Tidak aneh jika dikatakan bahwa orang banyak selalu takjub ketika mendengar ajaran dan melihat tanda ajaib yang dilakukan oleh Yesus.
Para ahli Taurat sebagai pengajar Israel tidak memiliki sikap dan tindakan mengajar seperti itu. Karena itu mereka berupaya menghasut orang banyak dengan menuduh yang sembarangan. Dalam bacaan kita tampak bahwa para ahli Taurat menuduh Yesus mempergunakan kuasa Beelzebul (penghulu setan) ketika mengusir setan dari orang yang kerasukan. Ini artinya mereka tidak mengakui kuasa yang mengurapi Yesus dalam melaksanakan tugas-Nya. Tuduhan para ahli Taurat ini, oleh Yesus dinilai sebagai penghujatan kepada Roh Kudus; dan bagi Yesus, itu dosa yang tidak terampuni (ayat 29).
Roh kudus berperan untuk MENGINSAFKAN dunia dan manusia akan dosa, kebenaran dan penghakiman" (Yoh.16:8). Peranan-Nya nyata dalam tutur, laku dan tindakan Yesus yang dilanjutkan oleh para Rasul dan kemudian oleh Gereja. Bagaimana seseorang insaf akan dosa-dosanya dan bertobat lalu hidup dalam kebenaran karena sadar akan penghakiman kekal, semua adalah karya Roh Kudus. Jadi kalau tidak insaf, tidak bertobat serta tidak hidup dalam kebenaran, itu sama dengan menolak karya Roh Kudus. Akibatnya tidak akan bebas dari penghakiman dan hukuman kekal. Apalagi menuduh Roh Kudus yang mengurapi Yesus dalam seluruh kata dan tindakan-Nya sebagai roh setan; ‘alama'; bahaya! Nah, supaya kita terhindar dari tindakan menghujat Roh Kudus maka jangan pernah menuduh atau menghujat siapapun, apalagi menghujat Firman yang diberitakan oleh para hamba yang diurapi Tuhan.
PERTOBATAN MENANGKAL KESULITAN
Bacalah Keluaran 8: 1-32
Ada pola sederhana yang bisa dicermati dalam perikop kita. Saat Firaun terancam, dia berbaik-baik dan berjanji bagi Musa dan Harun tentang Israel. Tetapi saat ancaman selesai, dia dengan gampang melupakan janjinya dan kembali mengeraskan hati. Pola seperti ini kita alami sepanjang kehidupan, termasuk mungkin sepanjang hari ini.
Sayang sekali, bahwa sering pola ini bukan hanya dianut oleh orang orang ‘diluar' persekutuan. Pola ini sering dianut oleh orang orang yang kita pandang seiman. Atau mungkin sekali kita sebagai pribadi juga menganut pola seperti ini. Ketika terancam, kita berbaik-baik. Ketika ancaman mengendor, kita jadi makin arogan. Kita lalu menjadi tidak konsisten. Lain dihati, lain di bibir, lain dipikir.
Terhadap pola tingkah manusia yang salah, kita melihat juga ‘pola' Tuhan yang tegas. Hukumannya makin lama makin berat. Maka jelaslah bahwa tanpa pertobatan, kita setiap hari menambah bencana dalam kehidupan. Sebuah pertobatan bisa menghentikan bukan hanya satu hukuman, melainkan satu rangkaian hukuman. Betapa tidak bijaksananya menunda pertobatan. Sebab itu hanya menambah malapetaka yang sebetulnya tidak usah terjadi.
Ketika akan mengakhiri hari ini, kita sadar akan banyaknya kekurangan yang memerlukan penyempurnaan dari Tuhan. Banyak kesalahan yang perlu dibawa pada Tuhan untuk beroleh pengampunan. Namun kita tidak pernah dapat memastikan bagian mana dalam perilaku kita yang berakibat baik bagi sesama dan yang membuat orang lain memuji nama Tuhan. Kita juga tidak dapat memastikan hal mana saja yang kita lakukan hari ini yang akan berakibat serius bagi masa depan. Jadi, sebelum mengakhiri hari ini, mari menyerahkan segala kuatir kepada Tuhan. Sebab hanya Dia yang mempedulikan kita.
MENANG ATAS COBAAN
Bacalah Matius 4: 1-10
Hidup tak pernah sepi dari godaan dan cobaan. Bagaikan gelombang di laut yang selalu bergulung, entah dari mana asalnya. Demikianlah kehidupan, godaan dan cobaan datang silih berganti. Yang satu belum usai tetapi yang lain sudah datang menghadang.
Hidup dekat dengan Tuhan ternyata tak lepas dari godaan dan cobaan. Bahkan semakin dekat dengan Tuhan semakin banyak pula godaan dan cobaan. Iblis tak pernah menyerah. Ia seperti singa yang selalu siap menerkam. Kalau kita lengah sedikit saja iblis segera memangsa kita.
Tidak hanya kita manusia, Yesus pun dicobai iblis. Serangannya bertubi-tubi, tetapi Yesus selalu sigap. Pertama, soal kebutuhan akan makanan (ayat 3). Serangan ini Ia patahkan dengan kekuatan firman Allah(ayat 4). Iblis pun kalah karena hidup manusia tidak bergantung pada hal jasmaniah semata tetapi lebih pada hal yang rohaniah.
Kedua, soal percaya kepada Allah (ayat`6). Serangan ini pun dipatahkan Yesus. Percaya kepada Allah tidak perlu pembuktian. Iblis kalah lagi.
Ketiga, soal kenikmatan dunia (ayat`8). Ini pun tak mempan. Yesus tak mau diperhamba oleh kenikmatan dunia. Ia hanya mau menjadi hamba Allah dengan menyembahnya.
Kebutuhan jasmani memang perlu tetapi jangan sampai kita mendewa-dewakan materi sehingga melupakan Allah. Penuhilah kebutuhan jasmani dengan cara-cara yang berkenan kepada Allah. Ia pasti mengaruniakan hidup yang berkelimpahan bagi kita. Sebagaimana Allah telah menyerahkan Putra-Nya bagi kita -Ia juga yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi rela menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia? (Roma 8:32). Hanya di dalam Dia hidup kita diberkati dan hanya Dia-lah Allah yang patut disembah dan dimuliakan.
MEMELIHARA IMAN
Bacalah Matius 16: 5-12
Alkisah ada suatu desa yang diserang wabah penyakit. Seorang ayah dan ibu beserta anaknya yang masih bayi lari ke hutan menghindari wabah penyakit tersebut. Konon si ayah dan si ibu meninggal dunia dan anaknya yang masih bayi ditemukan oleh seekor orang utan betina. Bayi manusia itu ikut menyusu pada orang utan betina bersama anak-anaknya yang lain. Ketika menjadi besar ia hidup sebagaimana layaknya seekor orang utan. Ia bertelanjang, melompat dari satu pohon ke pohon lainnya, makan segala yang ada di hutan dan tidak dapat berbicara. Lingkungan sangat mempengaruhi bahkan ikut membentuk seseorang, begitu juga pergaulan sehari-hari. "Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik" (1 Kor. 15:33).
Begitulah Tuhan Yesus mengingatkan para murid-Nya supaya berhati-hati terhadap orang Farisi dan Saduki. Ajaran mereka yang tidak mempercayai adanya kebangkitan dapat merusak iman. Iman Kristen bertumpu sepenuhnya pada kebangkitan Kristus. "Sebab jika benar orang mati tidak dibangkitkan, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Dan Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu" (1 Kor.15: 16-17).
Saat ini masih banyak orang yang tidak percaya bahwa Yesus sungguh-sungguh telah disalibkan dan kemudian bangkit. Dikatakan bahwa yang disalibkan itu bukan Yesus tetapi orang lain. Lebih lanjut diceritakan bahwa Yesus menyingkir ke India dan hidup sampai tua disana. Cerita ini adalah dongeng yang tidak jelas kebenarannya dan lebih daripada itu, bertentangan dengan apa yang tertulis dalam kitab suci. Sebagai pengikut Kristus dewasa ini kita pun harus selalu waspada dan memelihara iman kita supaya tidak terpengaruh ajaran-ajaran yang menyesatkan. Jadilah seperti ikan di laut yang hidup di air yang asin tetapi tidak pernah menjadi asin.
24 November 2009
TEGASLAH TERHADAP PERTENGKARAN
Ayat bacaan: Amsal 17:14
Bulan Maret kemarin kita dikejutkan dengan tragedi Situ Gintung. Hujan deras yang turun membuat tanggul tidak mampu menahan dorongan air. Tanggul pun bobol, bencana banjir bandang terjadi. Hanya dalam waktu singkat 2,1 juta meter kubik air pun melanda rumah-rumah penduduk yang berada di bawah tanggul. Berulang-ulang berita ditayangkan di TV terasa mengiris hati. Bayangkan bagaimana rasanya orang tua kehilangan anak, anak kehilangan orang tua, kehilangan sanak saudara. Hanya dalam waktu yang sangat singkat, hanya dalam hitungan menit, tiba-tiba begitu banyak orang kehilangan harta, saudara, anak, keluarga, teman dan juga nyawa. Musibah bisa terjadi begitu mendadak. Ketika tanggul jebol, tidak ada satupun orang yang sanggup menghentikan limpahan air deras yang menyeruak keluar dari tembok yang retak itu dalam waktu singkat.
"Memulai pertengkaran adalah seperti membuka jalan air; jadi undurlah sebelum perbantahan mulai."
Lihatlah betapa mengerikannya bencana yang bisa diakibatkan oleh pecahnya tanggul yang bertugas menahan air. Seperti itulah bahaya pertengkaran menurut firman Tuhan. Alkitab menggambarkan memulai pertengkaran sama seperti membobol dinding penahan air. Jika tanggul terbuka, meski sedikit saja pada awalnya, air pasti akan terus mendorong tanggul, memperbesar retaknya sehingga air akan memancar semakin deras dan menenggelamkan sekitarnya. Tidak lagi terkendali, liar dan ganas, berpotensi menghancurkan orang lain dan tentunya diri kita sendiri. "Memulai pertengkaran adalah seperti membuka jalan air; jadi undurlah sebelum perbantahan mulai." (Amsal 17:14). Tidak sembarangan Tuhan mengingatkan bahaya pertengkaran, karena ini merupakan satu dari masalah yang paling umum terdapat dalam kehidupan, bahkan sering menyerang orang-orang percaya. Kita tidak sadar dan membiarkan hal ini masuk kemana-mana. Di rumah, di tempat kerja, di kampus, sekolah, lingkungan rumah bahkan gereja sekalipun tidak luput dari bahaya pertengkaran ini.
Tentu saja tidak seorangpun di antara kita dengan sengaja membiarkannya masuk. Kita tidak pernah bangun di pagi hari dan langsung berkata, "saya mau bertengkar hari ini, yang besar sekalian.." Tidak. Yang terjadi biasanya adalah kita tidak waspada dan membiarkan kekesalan kecil hinggap pada diri kita, kemudian membiarkannya terus membesar hingga tidak terkendali, seperti tanggul jebol. Tanpa sadar, kita sudah masuk ke dalam sebuah pertengkaran yang sulit dikendalikan. Begitu banyak rumah tangga yang hancur akibat tingginya frekuensi pertengkaran di rumah. Rumah tidak lagi nyaman. Suasana panas, saling benci. "Tapi saya manusia, bukan robot, wajar dong jika merasa kesal dengan perlakuan pasangan kita, tetangga atau teman pada suatu ketika?" Tentu saja. Ada saatnya mungkin kita merasa kesal dengan perilaku seseorang, yang paling dekat sekalipun. Namun kita harus mampu mengendalikannya sebelum menjadi besar. Apa yang saya lakukan jika terjadi perselisihan kecil dengan istri saya? Saya akan berusaha diam dan menarik diri dari potensi pertengkaran. Saya menenangkan diri, ia pun demikian. Setelah reda, sebuah pelukan hangat biasanya akan mengakhiri kejengkelan. Setidaknya kami berdua berkomitmen untuk mengakhiri perselisihan sebelum pergi tidur. Sebuah anjuran yang mirip terdapat dalam kitab Efesus. "Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu" (Efesus 4:26). And it works really well.
Pertengkaran bisa berawal dari berbagai sebab yang biasanya dimulai dengan perselisihan akan hal kecil. Yakobus mengatakan bahwa pertengkaran berasal dari nafsu duniawi yang ada dalam diri kita. "Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu? Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi." (Yakobus 1:4-5a). Menyimpan kekesalan atau sakit hati berlarut-larut pun berpotensi menimbulkan pertengkaran. "Sebab, kalau susu ditekan, mentega dihasilkan, dan kalau hidung ditekan, darah keluar, dan kalau kemarahan ditekan, pertengkaran timbul." (Amsal 30:33). Selain itu, ego, keangkuhan, sikap tidak mau kalah dan lain-lain pun bisa menimbulkan pertengkaran. Karena itulah kita diminta untuk bisa memaafkan orang dengan segera dan bersikap rendah hati, mau belajar untuk lebih memahami dan menerima orang lain apa adanya. Tidak ada manusia yang sempurna. Masalah yang timbul bisa diselesaikan baik-baik pada saat yang tepat, tidak terburu-buru. Alkitab juga mencatat fakta yang menarik dan memang benar: orang yang suka bertengkar biasanya juga suka pada pelanggaran atau dosa. "Siapa suka bertengkar, suka juga kepada pelanggaran, siapa memewahkan pintunya mencari kehancuran." (Amsal 17:19).
Jika kita terbiasa untuk lekas emosi, mudah naik pitam untuk hal-hal yang kecil sekalipun, ini saatnya untuk mulai belajar menghilangkannya. Bersikap tegaslah terhadap pertengkaran. Jangan membiarkannya merusak hidup kita sendiri dan orang lain. Mungkin perlu waktu, tapi setidaknya kita harus mulai dari sekarang. Ambillah sebuah komitmen bahwa dengan kuasa Tuhan, tidak akan ada hal yang bisa merampas sukacita dari diri kita, termasuk kekesalan yang bisa mengarah kepada pertengkaran. Sedini mungkin kita harus terus menjaga agar tanggul pertahanan emosi kita tetap kuat sehingga tidak bisa dijebol oleh kemarahan yang pada suatu saat tidak lagi bisa kita kendalikan. Ingatlah penyesalan biasanya datang terlambat, oleh karenanya kita harus senantiasa menjaga kestabilan emosi kita dan tidak cepat menuruti emosi dalam diri kita. Jika mengontrol emosi terasa sulit, mintalah Roh Kudus membantu kita dalam mengatasinya. Cepat lakukan itu sebelum kita mulai berbuat dosa. Selain itu ingatlah bahwa amarah manusia itu tidaklah pernah menyenangkan hati Tuhan. "Sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah." (Yakobus 1:20). Firman Tuhan juga berkata "Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!" (Roma 12:18). Selagi masih sadar dan masih bisa mengendalikan emosi, redamlah segera sebelum semuanya menjadi runyam. Tolaklah emosi sejak awal, dan katakan pada diri anda bahwa anda ingin berjalan dalam sejahtera dan damai sukacita Tuhan hari ini. Selain itu baik bagi kesehatan, anda pun akan merasa heran betapa hidup ini ternyata lebih indah jika dijalani tanpa emosi atau pertengkaran.
Don't open something we can't control. Jangan buka pintu pertengkaran yang nantinya tidak bisa kita kendalikan
2012 ???
Misalkan Dunia Berakhir
Setelah menghancurkan dunia dengan serangan alien (Independence Day, 1996) dan gebyuran gelombang pasang akibat pemanasan global (The Day After Tomorrow, 2004), Roland Emmerich kembali menjungkirbalikkan dunia. Kali ini ia menggelontorkan air bah---semacam kisah Nuh dalam latar modern.
Judul dua film kiamatnya itu mengacu pada latar waktu terjadinya peristiwa. Begitu juga dengan judul film terbarunya ini: 2012. Nah, ini angka tahun yang menarik.
Kalau anda rajin menyambangi toko buku, sejumlah judul yang bertopik 2012 siap menunggu Anda. Bagi yang aktif berselancar di internet, fenomena 2012 telah lama menjadi bahan silang pendapat. Usai nonton film Knowing, yang klimaksnya menampilkan leburnya dunia, seorang wanita di sebelah teman saya langsung nyeletuk, “Mas sudah siap menghadapi 2012?”
Ada apa dengan tahun 2012?
Berakhirnya Siklus Agung
Tahun 2012 mengacu pada suatu ramalan suku Maya. Suku yang pernah hidup di selatan Meksiko atau Guatemala pada abad keempat dan kelima ini dikenal menguasai ilmu falak dan sistem penanggalan. Melalui pengamatan benda-benda langit dengan mata telanjang, mereka mampu mampu melakukan kalkulasi dengan taraf akurasi yang tinggi.
Menurut mereka, keberadaan dunia ini berlangsung dalam suatu Siklus Agung. Dunia yang tengah berjalan saat ini siklusnya dimulai pada 11 atau 13 Agustus 3114 Sebelum Masehi dan diperkirakan akan berakhir pada 21 atau 23 Desember 2012 Masehi. Itu dia!
Berakhirnya suatu siklus antara lain ditandai dengan memuncaknya aktivitas matahari. Menjelang tanggal gawat itu, konon, akan muncul gelombang galaksi dahsyat yang mengakibatkan terhentinya semua kegiatan di muka bumi. Itulah yang ditafsirkan sebagian pengamat, antara lain Michael D. Coe dalam buku The Maya (1966), sebagai “kiamat”. Berakhirnya siklus itu menandakan musnahnya dunia yang kita kenal sekarang ini.
Tidak semua kalangan sepakat. Kebanyakan penganut gerakan New Age memaknainya secara kontemplatif sebagai seruan untuk mencegah kerusakan bumi. Berakhirnya siklus tadi berkaitan dengan ”pergeseran kesadaran” secara global. Mereka menafsirkan ramalan suku Maya itu sebagai bagian dari suatu evolusi rohani, yang pada akhirnya akan membawa dunia ini memasuki suatu Zaman Baru. Daniel Pinchbeck, misalnya, menyatakan, "Ketika ‘langit terbuka’ dan energi kosmis dibiarkan mengalir ke segenap penjuru Planet kecil kita, kita akan diangkat ke taraf yang lebih tinggi melalui vibrasinya.”
Induk Segala Malapetaka
Film 2012 yang dirilis pada 13 November 2009 tampaknya sejalan dengan pendapat terakhir. Tagline yang tertera pada trailer-nya berbunyi: The end is just the beginning. Jadi, sudah bisa ditebak, bakal ada penyintas di akhir filmnya.
Namun, awalnya bukan ramalan suku Maya itu yang memikat Roland Emmerich. Ia bahkan tadinya sempat tidak berminat lagi menggarap film malapetaka. Sampai suatu saat ia dan Harald Kloser, penulis skenario, mendapatkan suatu ide yang dirasanya layak difilmkan. ”Itu sebenarnya cerita paling kuno yang suka kita perbincangkan. Itu kisah air bah, dan bagaimana menyelamatkan diri darinya---seperti penceritaan kembali kisah bahtera Nuh secara modern. Cerita itu terlalu sayang untuk dilewatkan. Itu benar-benar induk dari segala malapetaka.”
Baru kemudian ia mengenal kalender suku Maya, yang akan berakhir pada 2012 itu, dan mendapatkan bahan untuk menceritakan kembali kisah air bah tadi. ”Itu membuat orang percaya bahwa cerita ini nyata,” katanya.
Film ini menampilkan malapetaka global yang membawa pada kehancuran dunia. Orang-orang dari berbagai penjuru dunia, dari berbagai latar belakang, dari berbagai agama, berjuang untuk menyelamatkan diri. Sebuah badan yang dibentuk oleh pemerintah AS, Institute for Human Continuity, berusaha menggunakan kapal dalam upaya penyelamatan.
Di tengah kekalutan itu, tampillah Jackson Curtis (John Cusack), seorang duda cerai penulis fiksi ilmiah yang kadang-kadang bekerja sebagai sopir limosin. Ia memiliki pengetahuan berdasarkan ramalan kuno untuk memastikan bahwa umat manusia tidak sepenuhnya musnah akibat malapetaka tersebut.
Film ini juga menampilkan Danny Glover sebagai Presiden AS berkulit hitam dan Thandie Newton sebagai putrinya. Chietel Ejiofor berperan sebagai Adrian Helmsley, penasihat keilmuan bagi presiden, dan Woody Harrelson sebagai Charlie Frost, pria yang meramalkan kesudahan dunia dan karenanya dianggap gila.
Namun, bintang utama film ini tak lain ialah Planet Bumi. Dengan efek khusus yang mengesankan, ditopang biaya sebesar 200 juta dolar, 2012 menampilkan bumi yang berguncang hebat, seperti anjing yang mengibas-ngibaskan air dari tubuhnya. Maka, setelah bumi dihajar empasan badai matahari, diaduk-aduk gempa, dijatuhi hujan meteor, dilalap air bah, entah bagaimana masih ada sekelompok manusia yang sukses menyelamatkan diri, siap memulai kehidupan baru.
Tak ayal Sony Pictures Entertaiment gencar memasarkan film ini, salah satunya dengan memanfaatkan internet. Mereka membangun situs lembaga fiktif, blog berisi berita-berita seputar fenomena 2012, sampai laman buku Farewell Atlantis yang diklaim sebagai karya Jackson Curtis. Di situs Institute for Human Continuity, misalnya, ada lotere untuk menjadi bagian dari orang-orang yang terselamatkan dari kehancuran global dan polling untuk memilih pemimpin dunia pasca-2012.
Penghiburan yang Lebih Besar
Benarkah dunia akan berakhir pada 21 Desember 2012?
May be yes, may be no---dengan bandul lebih condong ke arah no.
Bila Tuhan memilih mengakhiri riwayat dunia pada tanggal yang diramalkan tersebut, itu sepenuhnya wewenang dan kedaulatan-Nya. Tetapi, kemungkinan besar hal itu tidak akan terjadi. Tentang kesudahan dunia, firman Tuhan memperhadapkan kita pada misteri: hari itu akan datang seperti pencuri. Tuhan Yesus pun menolak untuk menyingkapkan misteri itu kepada para murid.
Kalau misteri itu ternyata bisa diramalkan, ya sudah enggak seru lagi, kan? Lagi pula, catatan sejarah penuh dengan berbagai ramalan hari kiamat yang nyatanya meleset.
Tentang bagaimana dunia akan berakhir, Alkitab juga tidak memaparkan rangkaian kejadian spesifik. Wahyu, kitab yang secara khusus membahas “kiamat”, banyak memuat gambaran simbolis tentang apa yang akan terjadi pada akhir zaman. Simbol-simbol yang pelik dan melahirkan beragam tafsiran.
Alkitab tampaknya tidak meminta kita untuk mencemaskan kapan dan bagaimana persisnya dunia akan berakhir. Alkitab memilih untuk menyediakan penghiburan dan pengharapan yang jauh lebih besar. Caranya? Dengan membocorkan “skor final pertandingan”!
Sejumlah mahasiswa kristiani bermain basket di lapangan kampusnya. Pak Haryo, tukang kebun setempat, duduk di tepi lapangan, asyik membaca Alkitab. “Baca apa, Pak?” tanya seorang mahasiswa. “Kitab Wahyu,” jawab Pak Haryo. “Kitab Wahyu? Memangnya Bapak mengerti isinya?” tanya mahasiswa itu lagi. “Yah, menurut kitab ini, Tuhan Yesus pada akhirnya menang.”
Pak Haryo menyampaikan tafsiran yang ringkas, lugas, dan jitu. Berita kitab tulisan Yohanes ini menegaskan bahwa Yesus Kristus akan datang kembali, Iblis akan dihukum, dan semua orang akan diadili untuk menerima kehidupan kekal atau kebinasaan kekal. Singkatnya, kitab terakhir dalam Alkitab ini memaparkan kemenangan final Tuhan Yesus atas musuh-Nya.
Dengan membocorkan hasil akhir tersebut, pesan kitab Wahyu jadi sangat relevan bagi kehidupan kita saat ini. Ya, saat ini dan di sini, bukan di sana dan nanti!
Kitab Wahyu seolah-olah menyatakan, “Begitulah kesudahan dunia ini. Apakah engkau memercayainya? Kalau percaya, lalu bagaimana engkau akan menjalani kehidupan saat ini---hari demi hari? Apakah engkau akan hidup sebagai orang-orang yang berada di pihak Sang Pemenang?”
Bagaimana kita bisa berada di pihak Sang Pemenang? Bersukacitalah! Dalam perkara ini, Wahyu tidak membiarkan kita berteka-teki. Wahyu menegaskan kembali berita Injil: bahwa orang-orang yang telah ditebus-Nya akan turut mengambil bagian dalam kemenangan tersebut. Wahyu 12:11, misalnya, secara khusus menunjukkan tiga hal yang memampukan orang-orang kudus menjadi pemenang.
Darah Anak Domba. Dasar kemenangan mereka ialah Kristus dan karya penebusan-Nya di kayu salib. Setiap orang yang berpaut kepada Yesus Kristus akan mampu melawan dan menundukkan Iblis. Mereka menerima kemenangan ini bukan oleh kekuatan sendiri, melainkan semata-mata oleh anugerah Allah.
Perkataan kesaksian. Aktivitas iman mereka ialah memberitakan firman Allah, baik melalui perkataan maupun perbuatan. Dengan memahami, memercayai, dan menerapkan firman Allah secara konsisten, orang percaya akan mampu membungkam dakwaan dan godaan Iblis.
Tidak mengasihi nyawa sampai ke dalam maut. Inilah sikap iman yang menjungkalkan Iblis. Orang percaya menyadari hidup ini hanya sementara, sekaligus tempat pelatihan dan persiapan menuju kekekalan. Mereka siap untuk mengorbankan waktu, tenaga, harta, dan bahkan jika perlu nyawa, demi menyebarluaskan firman Allah. Mereka berpendirian bahwa hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.
Kitab Wahyu, dengan demikian, menantang kita untuk hidup dalam kekudusan. Kita menolak untuk mengambil bagian dalam kesia-siaan dosa dengan merenungkan, “Akankah saya melakukannya seandainya Dia datang kembali hari ini?” Di sisi lain, kita terus bekerja dan melayani dengan tekun, sebagai ungkapan syukur atas anugerah keselamatan-Nya, seolah-olah Dia baru akan datang kembali seribu tahun lagi!
PATUHLAH MULAI HARI INI
Ayat bacaan: Amsal 29:1
====================
Ada banyak orang yang ketakutan dikejar-kejar perasaan bersalah. Ada orang yang merasa bahwa kesalahan yang pernah mereka buat tidak akan pernah bisa dimaafkan. Biasanya mereka akan sulit melangkah menatap hari depan. Bahkan ada sebagian orang yang tidak lagi tahan dengan siksaan perasaan mereka dan memilih jalan pintas yang fatal dengan mengakhiri hidupnya. Di sisi lain, ada orang-orang yang sudah begitu terbiasa melakukan kesalahan, sehingga mereka tidak lagi merasa terganggu dengan itu. Berapa sering kita diingatkan Tuhan ketika berbuat kesalahan? Apakah itu lewat hati nurani, lewat Firman yang kita baca, lewat kotbah, lewat orang lain dan lain-lain, sesungguhnya setiap manusia baik-baik, siapapun mereka, biasanya akan sulit hidup tenang ketika melakukan suatu kesalahan. Saya katakan baik-baik karena ada kalanya seseorang mulai kehilangan kontrol atas dirinya, tidak lagi merasa bersalah atau menyesal setelah melakukan sesuatu yang jahat. Hati bisa membeku dan membatu, membuat kejahatan menjadi hal yang biasa. Hal ini bisa terjadi apabila kita terus mengabaikan peringatan Tuhan.
Jangan keraskan hati, jangan tunda lagi jika mendengar suara Tuhan
====================
"Siapa bersitegang leher, walaupun telah mendapat teguran, akan sekonyong-konyong diremukkan tanpa dapat dipulihkan lagi."
Sebagian orang mempunyai pemikiran keliru bahwa mereka bisa menunda-nunda untuk mematuhi peringatan Tuhan. Betapa kelirunya kita jika mengira bahwa bila pengarahan Roh Kudus menghampiri kita, kita dapat mengabaikannya dulu dan kemudian mematuhinya kelak sekehendak hati mereka. Mereka tahu mereka tidak melakukan hal yang benar, gaya hidupnya tidak benar, tapi mereka berpikir untuk membiarkan itu buat sementara waktu, dan nanti pada saatnya, entah kapan, mereka akan membereskannya dengan Tuhan. Jika anda memiliki pemikiran seperti itu, berhati-hatilah. Sebab firman Tuhan hari ini berkata "Siapa bersitegang leher, walaupun telah mendapat teguran, akan sekonyong-konyong diremukkan tanpa dapat dipulihkan lagi." (Amsal 29:1). Dalam bahasa Inggris, kata 'bersitegang leher' disebutkan sebagai "hardens his neck", mengeraskan leher mereka, atau dalam bahasa alkitab yang cukup terkenal dikatakan sebagai "tegar tengkuk".
Ketika kita mendapat teguran dan memilih untuk mengeraskan leher kita, mengabaikan teguran itu dan terus melanjutkan perbuatan tidak benar, maka yang terjadi adalah hati kita bisa menjadi keras. Bukan karena anugerah Tuhan tidak sampai menjangkau kita, bukan pula Tuhan menolak mengampuni kita jika kita berbalik padaNya, tapi dosalah yang sudah mengeraskan hati kita hingga kita tidak lagi dapat mendengar suaraNya memanggil, mengingatkan dan menegur kita. Tidak heran jika dikatakan "sedangkan orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan." (2 Timotius 3:13). Terbiasa jahat akan membuat orangbertambah jahat. Orang yang terbiasa sesat akan semakin sesat, saling menyesatkan dan disesatkan. Semua itu karena tidak ada lagi kontrol dalam diri mereka akibat kerasnya dosa yang sudah membatu menutupi hatinya.
Bangsa Israel di masa lalu adalah contoh konkrit mengenai ini. Betapa marahnya Tuhan kepada mereka yang tidak tahu berterimakasih, tidak tahu bersyukur dan terus menerus mengecewakan Tuhan. Dibebaskan dari perbudakan, mereka malah sinis karena merasa sulit untuk melalui padang gurun di alam kemerdekaan. Diberikan tanah terjanji yang begitu subur dan melimpah madunya bukannya bersyukur tapi malah menolak. Eh, setelah menerima, mereka malah merasa karena mereka luar biasa hebatnya maka mereka bisa mendapatkan itu. Keterlaluan bukan? Inilah bentuk kekerasan tengkuk orang Israel yang terus saja melakukan kesalahan demi kesalahan. Tidak salah jika Tuhan kemudian marah kepada mereka. Lihat bagaimana murkanya Tuhan ketika menghardik mereka yang tidak kunjung berubah. "Jadi ketahuilah, bahwa bukan karena jasa-jasamu TUHAN, Allahmu, memberikan kepadamu negeri yang baik itu untuk diduduki. Sesungguhnya engkau bangsa yang tegar tengkuk!" (Ulangan 9:6).
Alasan demi alasan mungkin kita kemukakan sebagai pembelaan diri untuk tidak mematuhi Tuhan saat ini. Alasan masih muda, belum waktunya, sedang enak-enaknya menikmati yang ditawarkan dunia, ingin balas dendam kepada seseorang, dan sebagainya, itu dipakai untuk meminta kelonggaran untuk berbalik jalan kembali kepada Tuhan. Tapi ingatlah bahwa tidak menjadi soal apapun alasan yang kita pakai untuk tidak mematuhi Tuhan. Ketidaktaatan itu akan tetap merugikan kita. Itu akan terus mengeraskan hati kita, sehingga jika tidak cepat diatasi hati kita pun bisa tertutup kerak dosa tebal yang membuat kita tidak lagi bisa mendengar kata Tuhan. Dan jika itu sudah kronis, ayat bacaan hari ini memberikan gambaran keras, "sekonyong-konyong diremukkan tanpa dapat dipulihkan lagi." Kita bisa dibinasakan dengan tiba-tiba tanpa dapat diobati. Mengerikan.
Oleh karena itu, hendaklah kita mengambil apa yang dialami bangsa Israel dengan konsekuensi yang harus mereka tanggung sebagai pembelajaran. Jangan bermain api, nanti bisa terbakar. Jangan bermain-main dengan dosa nanti bisa menyesal. Begitu hati kita lumpuh, kita pun akan habis sia-sia dalam penyesalan tanpa akhir. Jika hari ini anda masih mendengar teguran dan peringatan Tuhan, jangan tunda lagi. Berbaliklah segera. Firman Tuhan berkata: "Sebab itu, seperti yang dikatakan Roh Kudus: "Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman pada waktu pencobaan di padang gurun" (Ibrani 3:7-8). Jangan keraskan terus hati, karena itu akan membangkitkan amarah Allah seperti halnya yang terjadi pada bangsa Israel di jaman Musa. "di mana nenek moyangmu mencobai Aku dengan jalan menguji Aku, sekalipun mereka melihat perbuatan-perbuatan-Ku, empat puluh tahun lamanya. Itulah sebabnya Aku murka kepada angkatan itu, dan berkata: Selalu mereka sesat hati, dan mereka tidak mengenal jalan-Ku," (ay 9-10). Berbaliklah segera, mulailah untuk hidup benar dan saling menasihatilah satu sama lain. "Tetapi nasihatilah seorang akan yang lain setiap hari, selama masih dapat dikatakan "hari ini", supaya jangan ada di antara kamu yang menjadi tegar hatinya karena tipu daya dosa." (ay 13). Tuhan memang terus siap memberikan pengampunan dan sudah berjanji untuk memutihkan dosa kita, tidak lagi mengingat-ingat dosa kita dan membuangnya sejauh timur dari barat, tapi jika kita terus menunda-nunda, ada saat dimana kesempatan itu tidak lagi ada. Jika Tuhan hari ini mengingatkan kita, janganlah menunda dengan mengira bahwa lebih mudah melakukannya kemudian. Itu tidak akan pernah lebih mudah, yang ada malah akan menjadi lebih sulit. Jika Roh Kudus hari ini mengoreksi kita, ikutilah segera petunjukNya. Lakukan hari ini juga dan jangan tunggu lebih lama. Jagalah hati kita untuk tetap lembut untuk bisa mendengar dan mematuhi serta melaksanakan petunjuk Tuhan.
Jangan keraskan hati, jangan tunda lagi jika mendengar suara Tuhan
KRISTEN KAPAL SELAM
Sabtu, 26 November 2005 saya sedang menonton televisi di salah satu stasiun televisi Indonesia. Saat itu sedang terjadi dialog antara dua pendeta. Salah satu pendeta berkata bahwa Tuhan Yesus telah datang menemuinya dan memerintahkannya untuk merayakan Natal secara besar-besaran di Indonesia, dan akhirnya direalisasikannya dengan mengadakan Natal secara besar-besaran di stadion utama Senayan Sabtu, 4 Desember 2005.
Alkitab Pedoman Hidup Orang Kristen
Hal yang ingin saya garis bawahi di sini adalah bagaimana cara Tuhan Yesus datang kepadanya dengan sebuah perintah! Apakah benar bahwa Yesus telah datang secara khusus kepadanya? Siapa yang bisa menjadi saksinya? Kenapa hanya kepadanya Tuhan Yesus memberikan perintah? Kenapa tidak ada perintah kepada para nabi dan rasul serta bapak-bapak gereja sepanjang sejarah kekristenan di muka bumi? Akan muncul banyak pertanyaan di kepala setiap orang yang masih berpikiran waras, yang akal budinya masih bisa dikendalikan dengan baik.
Yang pertama harus dipahami adalah bahwa pernyataan pendeta tersebut tanpa saksi. Jadi tidak bisa langsung kita katakan bahwa yang datang kepadanya adalah benar-benar Tuhan Yesus. Untung tidak ada pendeta lain yang berkata bahwa Tuhan Yesus datang kepadanya dengan sebuah pesan agar tidak boleh merayakan Natal karena itu tidak tertulis dalam Alkitab! Seandainya ada, sudah pasti memunculkan pertanyaan, “Kok Yesus plin-plan sih?” sebentar bilang agar natal dirayakan secara besar-besaran, tapi sebentar lagi menyuruh agar natal tidak boleh dirayakan! Sebenarnya kita bisa menarik kesimpulan bahwa apa yang dikatakan pendeta tersebut tidak bisa dipercaya.
Alkitab ditulis oleh para rasul dan nabi dengan latar belakang sejarah dan sosial yang berbeda selama kurang lebih 1600 tahun! Semua itu untuk menghasilkan 66 kitab yang terkanonkan menjadi sebuah kitab yang terdiri dari 39 kitab PL dan 27 kitab PB. Itu menjadi patokan bagi semua orang Kristen sejak ditinggal oleh para nabi dan rasul-rasul. Oleh karena tidak ada lagi rasul dan nabi saat ini maka setiap orang Kristen jika ingin mengetahui kehendak Allah bagi dirinya adalah dengan menyelidiki Alkitab (Kis. 17:11) dengan bantuan Roh Kudus yang sudah pasti dimilikinya sejak dia mengambil keputusan untuk menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamatnya (Ef. 1:13). Melalui Alkitablah seseorang bisa mendapat berbagai petunjuk, tidak perlu lagi menunggu sampai Tuhan Yesus datang kepadanya. Bahkan Rasul Paulus memberikan sebuah kesaksian di Alkitab bahwa kepadanyalah Tuhan Yesus terakhir kali menampakkan diri.(1 Kor.15:8). Setelah itu bisa dipastikan bahwa Tuhan Yesus tidak akan datang menampakkan wujud kepada siapapun sampai Dia datang kembali.
Natal Dirisaukan?
Natal akhirnya menjadi polemik di dalam dunia kekristenan! Di mana-mana orang merayakan Natal, bahkan menjadi sebuah pertengkaran. Ada yang mengatakan Natal harus tanggal 25 Desember, ada yang mengatakan sekitar bulan April, ada juga yang mengatakan sekitar bulan Juni-Juli. Sekarang inti dari semua itu adalah bagaimana kita bisa mengetahui kehendak Tuhan melalui Alkitab.
Alkitab tidak pernah memerintahkan orang Kristen untuk merayakan Natal, di Alkitab juga tidak tertulis tanggal yang pasti kapan Yesus lahir. Di dalam Injil Lukas 1:26 memang kita bisa menghitung kalau Kristus lahir sekitar bulan Juni-Juli, tapi tanggalnya juga tidak bisa dipastikan. Memang akan ada hal positif yang bisa kita dapatkan jika natal berlangsung pada bulan Juni, karena dengan demikian tidak akan ada lagi pohon natal, juga tidak akan ada Sinterklas, karena Sinterklas muncul dari cerobong asap pemanas yang tentu tidak digunakan pada bulan Juni. Tidak akan ada boneka salju, tidak ada rusa kutub, tidak akan ada lagu-lagu yang berbicara tentang dingin dan putihnya salju, karena salju tidak turun di bulan Juni!
Kelahiran Sejati
Sebenarnya natal tidak perlu dipermasalahkan! Jangan sampai Natal menjadi batu sandungan bagi orang yang mau mencari kebenaran Firman Tuhan. Yang penting adalah kita bisa memahami bahkan memiliki makna Natal itu, yaitu Yesus Kristus pernah lahir ke dunia mengambil rupa manusia, kemudian mati di atas kayu salib untuk menanggung semua dosa umat manusia, kemudian Dia bangkit untuk mengalahkan maut, kini Dia telah naik ke surga, dan akhirnya barang siapa yang mau percaya bahwa Kristus telah mati baginya, dia akan diselamatkan dari siksa api neraka!
Sekarang yang perlu diperhatikan adalah mengapa ada banyak orang Kristen yang enggan datang berbakti ke gereja? Mengapa sampai muncul istilah “Kristen kapal selam’? yaitu orang-orangyangmengaku Kristen tetapi yang seperti kapal selam, kerjaannya terbenam terus di “dasar lautan”, setelah sekian lama baru naik ke permukaan! Gereja-gereja menjadi penuh pada bulan Desember, bahkan menjadi sesak sampai harus mendirikan tenda darurat. Setelah bulan Desember berlalu merekapun kembali menyelam ke dalam kesibukan duniawinya.
Apakah mereka mengira gereja itu tempat di mana dosa mereka bisa dihapus? Ketahuilah, tidak ada dikatakan di Alkitab bahwa jika pergi ke gereja maka dosa akan terhapus! Hanya dengan mengambil keputusan mengaku diri orang berdosa dan mengundang Yesus ke dalam hati sajalah yang bisa menghapus semua dosa! Kerajinan berbakti ke gereja adalah sebagai bukti dari ucapan syukur atas kasih karunia Allah, di mana dengan berbakti itu orang Kristen bisa memuji Tuhan, memanjatkan doa dan permohonan, dan menyelidiki kebenaran Firman Tuhan! Di dalam persekutuan jemaatlah iman seseorang bisa dibangun dan dalam persekutuan jemaat pula bisa terjalin satu hubungan yang harmonis di antara sesama anggota Tubuh Tuhan!
Bahkan satu peringatan yang tegas dari Rasul Paulus ada tertulis di surat Ibrani 10:25, di mana dikatakan bahwa tidak benar jika seorang Kristen menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah. Sebab Paulus menemukan ada banyak orang yang melakukan hal itu! Jaman sekarang kita juga menemui banyak orang yang melakukan hal itu.
Mungkin ada orang yang berkata, “bukankah lebih baik ditetapkan satu tanggal yang pasti untuk merayakan natal, seperti sekarang ini sehingga masih terbuka kemungkinan bagi orang-orang yang belum kenal Tuhan atau yang lemah iman datang ke gereja?” tapi saya akan berkata bahwa arti kata Natal itu sendiri harus diketahui lebih dulu baru bisa menyimpulkan! Bukankah natal itu berasal dari bahasa latin yaitu ‘Natalis’ yang artinya ‘kelahiran’? dengan demikian natal yang selama ini dirayakan adalah hari kelahiran Yesus ke dunia. Memahami makna Natal dengan sebaik-baiknya, kalau tidak maka akan menjadi orang Kristen “kapal selam.”
Oleh: Ev. Tumbur L.R , B.Th., MBS. (saat ini melayani di Papua)
23 November 2009
KUASA YANG DISEMPURNAKAN
Ayat bacaan: 2 Korintus 12:9
Jika hari ini hidup anda masih relatif jauh dari masalah dengan perjalanan hidup yang juga relatif stabil dan baik-baik saja, bersyukurlah. Karena saya sudah berjumpa dengan banyak orang yang mengalami begitu banyak pengalmaan pahit di masa lalu yang sedemikian rupa sudah merusak percaya diri mereka. Sedikit saja kena lagi, mereka bisa hancur berantakan. Bagaikan tumpukan balok rapuh, tersenggol sedikit saja sudah ambruk. Semua ini karena masalah yang telah menggerogoti hidup mereka sejak lama. Ada pula yang tengah dihantam masalah dari segala penjuru, bertubi-tubi sehingga mental mereka pun menjadi lemah dan remuk. Sungguh, semakin jauh saya melayani, saya semakin melihat bahwa ada begitu banyak masalah kompleks, rumit yang sepertinya tidak punya jalan keluar jika kita pandang dengan mata manusia. Ada begitu banyak orang yang butuh pertolongan. Jangankan pertolongan, untuk didengar saja sudah sulit bukan main bagi mereka. Tidak mudah untuk membantu mereka, karena seringkali kepahitan itu sudah membatu dan sulit untuk dihancurkan dalam waktu singkat.
Begitu kekuatan manusia berakhir, kuasa Tuhan menjadi sempurna
"Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku."
Saya masih melanjutkan tulisan-tulisan kemarin mengenai betapa lemahnya manusia. Memandang ke atas, itu merupakan obat terbaik yang bisa melepaskan kita dari kepungan dari pengaruh negatif yang ada di sekeliling kita, termasuk luka-luka masa lalu dan sebagainya. Untuk melakukan ini pun tidaklah mudah, karena dalam banyak kasus kerak kepahitan itu sudah sangat keras menutupi hati. Hal ini bisa dialami siapa saja. Terkadang kita tidak lagi punya kekuatan untuk mengatasi masalah, sehingga tergoda untuk menyerah kalah. Pada saat seperti itu kekuatan manusia kita berakhir. Kita memang terbatas, dan kita telah berusaha sampai kepada batas tertinggi kemampuan kita. Tapi toh masalah tidak juga selesai.
Mari kita lihat sedikit kisah Paulus dan para rasul lainnya di awal pelayanan mereka. Tidak mudah dan penuh bahaya. Ancaman pembunuhan dan penyiksaan selalu mereka hadapi kemanapun mereka pergi. Pada suatu kali ketika tengah melayani di Listra, Paulus sempat hampir mati. Ketika itu orang-orang Yahudi yang datang dari Antiokhia dan Ikonium berhasil menghasut warga di Listra sehingga mereka pun melempari Paulus dengan batu dan menyeretnya ke luar kota. "Tetapi datanglah orang-orang Yahudi dari Antiokhia dan Ikonium dan mereka membujuk orang banyak itu memihak mereka. Lalu mereka melempari Paulus dengan batu dan menyeretnya ke luar kota, karena mereka menyangka, bahwa ia telah mati." (Kisah Para Rasul 14:19). Dikatakan mereka menyeret tubuhnya setelah dihajar ramai-ramai. Meski tidak disebutkan dengan jelas, sepertinya Paulus sudah babak belur penuh luka. Pada saat itu kekuatan manusiawi Paulus sudah berakhir. Dia sama sekali tidak berdaya lagi, bahkan sampai dikira telah mati. Dia diseret dan dibuang, ditinggalkan di luar kota Listra. Habislah kekuatan manusia Paulus. Tapi apa yang kemudian terjadi? "Akan tetapi ketika murid-murid itu berdiri mengelilingi dia, bangkitlah ia lalu masuk ke dalam kota. Keesokan harinya berangkatlah ia bersama-sama dengan Barnabas ke Derbe." (ay 20). Lihat, ketika kekuatan manusia selesai, mukjizat Tuhan datang. Tidak tahu apakah Paulus sudah mati atau belum pada waktu itu, tapi yang pasti Tuhan ternyata membangkitkan dan menyembuhkannya setelah para murid lain mengelilingi dan mendoakannya. Dengan kata lain, ketika Paulus tidak mempunyai cukup kekuatan manusiawi untuk mengatasi kesulitannya, kuasa Tuhan yang mengerjakan mukjizat ternyata cukup baginya. Kuasa Tuhan membuatnya menjadi pemenang walaupun dia sendiri adalah manusia sama seperti kita yang lemah. Seperti tidak terjadi apa-apa, ia bisa langsung masuk ke dalam kota dan keesokan harinya ia sudah bisa melanjutkan perjalanan bersama Barnabas menuju Derbe.
"Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku." (2 Korintus 12:9). Tuhan mengingatkan Paulus untuk menyadari bahwa sesungguhnya kasih karunia Tuhan itu cukup adanya. Paulus dan kita memang lemah, tapi justru dalam kelemahan itulah kuasa Tuhan menjadi sempurna. Pada saat kita lemah itulah sebenarnya kuasa Tuhan akan segera disempurnakan dalam diri kita. Kita terbatas, tapi Tuhan tidak. Jika kita mengakui bahwa kita ini manusia yang terbatas dan lemah, dan memutuskan untuk bergantung kepada Tuhan ketimbang mengandalkan kekuatan diri sendiri, maka Tuhan yang tidak terbatas itu akan bekerja hingga kuasaNya menjadi sempurna atas kita. Karena alasan itulah Paulus mampu berkata "Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat." (ay 10).
Apakah hari ini anda tengah mengalami krisis? Apakah luka masa lalu terus menyiksa diri anda, merantai kaki anda sehingga tidak bisa melangkah maju? Apakah anda sakit dan obat-obatan sepertinya gagal untuk menyembuhkan anda? Apakah anda tengah terjepit dalam masalah keuangan? Apakah anda merasa gagal melihat keluarga anda berantakan? Apakah kebiasaan buruk anda telah mengikat anda begitu erat? Apakah anda merasa telah mengerahkan seluruh kemampuan tapi belum juga ada hasil yang dicapai? Jangan patah semangat, melainkan bersukacitalah, karena ketika kekuatan manusiawi berakhir, kuasa Tuhan justru menjadi sempurna atas kita! Tuhan Yesus berkata, "Jangan takut, percaya saja!" (Markus 5:36). Ini berbicara mengenai iman yang teguh yang mampu percaya bahwa kemustahilan itu tidak terdapat dalam kamus Tuhan. Jika memang sulit untuk merubah pola pikir dan pandangan kita dengan kemampuan sendiri, ingatlah bahwa sosok Penolong telah dikaruniakan pula kepada kita. Ada kuasa Roh Kudus yang bisa memampukan kita mengubah pandangan, lepas dari belenggu luka masa lalu dan bisa mengalami pemulihan citra diri. Mungkin kita lemah dan tidak mampu, tapi Roh Kuduslah yang akan memampukan. Roh Kudus akan selalu melimpahkan kita dalam pengharapan sehingga tidak lekas menyerah. "Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan." (Roma 15:13). Dan ketika kita menerima kuasa Roh Kudus inilah kita akan mampu menjadi kesaksian bagi semua orang, tentang bagaimana kuasa Tuhan mampu menuntaskan hal yang paling mustahil sekalipun di mata manusia. "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." (Kisah Para Rasul 1:8). Kata "kuasa" dalam versi bahasa Inggris dirinci menjadi "ability, efficiency and might". Kemampuan, efisiensi dan kekuatan. Semua ini sangatlah berguna bagi kita untuk lepas dari beban, dan itu telah disediakan oleh Roh Kudus. Karenanya, apapun masalah yang tengah menimpa anda hari ini, sejauh manapun citra diri anda telah rusak akibat goresan luka masa lalu dan pengalaman pahit, bangkitlah dan percayalah saja! Anugerah Tuhan sesungguhnya cukup bagi anda.
Begitu kekuatan manusia berakhir, kuasa Tuhan menjadi sempurna
21 November 2009
HARGA JUAL YESUS
Oleh : Pdt.Bigman Sirait
Ah, judul ini mungkin terasa sangat mengganggu. Apakah Yesus itu barang, sehingga ada harga jualnya? Atau, kalaupun ada, apakah itu manusiawi, karena manusia sangat berharga, dan tak mungkin ada harga yang bisa dicantumkan pada dirinya. Apalagi berbicara tentang Yesus, Allah yang menjadi manusia (Filipi 2: 5-6), wow, mana bisa! Seharusnya memang tidak bisa, namun kenyataannya memang pahit, Yesus terjual. Bahkan terjual dengan harga yang sangat murah. Kenyataan pahit ini tak bermula dari penjahat kelas berat, atau penjudi ulung, atau, artis kebelet duit. Pahit, karena justru bermula dari orang dalam yang termasuk murid, yang memiliki posisi strategis sebagai bendahara. Sang murid bernama Yudas Iskariot, satu dari antara dua belas rasul yang kemudian san
Nama Yudas sama terkenalnya dengan Petrus dan Yohanes, hanya saja dalam konteks dan kualitas yang sangat berbeda. Yudas Iskariot (Ibrani; Isyqeriyot yang artinya orang Keriot), berasal dari Keriot. Kurang jelas, apakah Keriot tempat asal Yudas adalah Keriot yang di Moab, atau yang di selatan Hebron (dalam Alkitab banyak kota, orang, yang bernama sama). Yudas Iskariot bukan penulis kitab Yudas, hanya namanya saja yang sama.
Nah, kembali kepada Yudas, murid, rasul, bendahara, yang juga pengkhianat. Yudas juga piawai bersilat lidah, satu sisi sepertinya dia peduli dan membela orang miskin, padahal di sisi lain keuntungan dirilah yang dipikirkannya (Yohanes 12:1-8). Ya, Yudas memang “berbakat” sebagai pengkhianat. Entah sudah berapa banyak pelajaran tentang kebenaran yang dia dapat dari Yesus, tapi tak pernah bertumbuh apalagi berbuah.Dalam perumpamaan tentang penabur, Yudas bagaikan benih yang jatuh di tengah semak duri (Matius 13: 22). Episode demi episode mukjizat hebat, disaksikannya, tapi benih kebenaran tak pernah tumbuh dan berbuah dalam hatinya. Hati nurani dibunuhnya, uang menjadi tuannya, maka Yudas telah memilih jalan hidupnya. Yesus dijual seharga 30 keping perak, harga seorang budak (Keluaran 21: 32). Sangat ironis, Yesus, Allah yang menjadi manusia, raja yang menjadi hamba, penebus dosa manusia, sang juru selamat terjual dengan harga yang amat sangat murah.
Namun , di sisi lain, kerelaan Yesus menjadi hamba justru tergenapi dalam pengkhianatan ini. Uang telah membuat Yudas gelap mata. Soal mamon ini tak hanya mewarnai kehidupan duniawi saja, namun juga merata keberbagai sudut kehidupan. Dunia rohani bahkan sering kali lebih duniawi dari dunia itu sendiri. Manusia beragama model Yudas tak pernah habis dari panggung kehidupan. Selalu saja ada generasi pengganti. Sementara pelayan sejati sering kali seperti kehilangan garis. Kegairahan terhadap daya tarik mamon semakin hari semakin menggila. Hal ini tepat seperti lukisan Paulus dalam II Timotius 3: 2, di akhir jaman manusia akan menjadi hamba uang. Manusia kehilangan kendali menjadi tuan atas uang.
Kisah Yudas, mengingatkan kita dengan terang-benderang, bahwa jabatan kerohanian tak serta-merta membuat seseorang imun terhadap godaan uang. Yudas adalah seorang rasul, lebih dari seorang pendeta secara jabatan. Kedekataannya dengan Yesus dalam aktivitas sehari-hari tak bisa dipungkiri, namun tak menjamin kualitas pelayanan. Yudas merasa perlu dan berhak mendapatkan tiga puluh keping perak, sekalipun untuk itu Yesus harus dijual. Sementara Yesus, “rela terjual murah”, asal keselamatan terwujud menjadi kenyatan dalam kehidupan umat. Yudas “beringas” demi uang: “beringas” menjual Yesus, “beringas” dalam baju suci kerasulan. Dan yang tak kalah mengerikan, dia juga “beringas” dalam kemunafikan kepedulian pada kaum papa. Yudas telah mengerahkan seluruh kemampuannya memainkan seluruh jurus pengkhianatan berbaju kerohanian.
Dalam konteks kekinian, ternyata tak kurang panjang barisan pengikut Yudas, sama panjang dengan barisan penjual Yesus. Kini, tak sedikit orang yang sangat bernafsu menabikan atau merasulkan diri, atas nama ketetapan Tuhan. Tak pula kurang orang berjual-beli kebenaran, yang menjual Yesus dengan memutarbalikkan kebenaran. Kebenaran dibuat berpusat pada diri dan menguntungkan diri. Khotbah disampaikan untuk menyenangkan telinga umat, khususnya kamu berduit, untuk memancing duit mereka. “Hamba Tuhan” bajunya, hatinya hamba uang. Istilah “salesman Injil” semakin hari semakin terkenal, seturut terkuaknya gaya hidup banyak “pendeta besar” yang tak kalah dengan selebritis kelas atas.
Banyak orang telah mengambil keuntungan besar dengan mengobral Yesus. Celakanya, semua berjalan tepat waktu, karena market juga dipenuhi manusia bermental hati ahli Taurat. Yang mau tampak benar di arena keseharian, tampak rohani, bersih dan berbudi, sekalipun mereka benci terhadap kejujuran dan kesucian. Karena itu “obral kebenaran” mereka serbu. Mereka suka mengonsumsi produk obral ini, mereka tampak rohani tanpa harus sungguh-sungguh rohani. Cukup dengan kata-kata amin, sedikit kegiatan, dan besarnya sumbangan semua menjadi benar dan “dipakai Tuhan” sesuai label yang diberikan para “hamba Tuhan”. Semakin tinggi bayaran, semakin rohani si pemberi dalam khotbah “hamba Tuhan”. Transaksi jual-beli terus meninggi, limpahan materi mengalir deras ke pundi-pundi “hamba Tuhan”. Gaya hidup supermewah mewarnai sepak terjang mereka atas nama berkat Ilahi, padahal hasil menjual kebenaran.
Yesus dijual dengan mengobral berkat besar, dan menutupi penyangkalan diri apalagi memikul salib sesuai perintah Yesus sendiri. Ya, Yesus dijual dengan mengorupsi, memanipulasi kebenaran, bahkan membangun kebenaran baru atas nama wahyu baru. Maka klaim diri semakin meninggi, dan ini akan diikuti dengan “harga jual” yang juga semakin tinggi. Lagi-lagi Yesus terjual murah. Dan, lagi-lagi yang salah tampaknya benar secara suara, mereka tampaknya mayoritas, sama persis seperti Yesus tersalib. Yesus tampak minoritas, para ahli Taurat-lah yang mayoritas. Dan ini didukung pada kebiasaan kita tentang suara terbayak sebagai yang benar dan menentukan. Menyakitkan, tapi itulah kenyataan. Dosa akan pesta pora, sukses menggaet banyak pengikut, hingga kedatangan Yesus yang kedua kali.
Akankah pencinta kebenaran sejati akan bertahan di tengah polusi jual-beli Yesus? Sebuah pertanyaan yang harus dijawab dengan hidup menjalani kebenaran tanpa kompromi. Berani miskin tanpa harus memiskinkan diri, sebaliknya juga berani kaya tanpa harus memperkaya diri, melainkan berkarya penuh dengan pasrah penuh pada berkat Ilahi. Biarlah aku menerima bagianku yang Tuhanku, bukan apa yang aku mau (Amsal 30: 7-9). Apakah “jual beli Yesus” akan berhenti? Sekali lagi tidak, dan tidak akan! Transaksi akan terus berlangsung, yang penting Anda tak terlibat di sana. Atau, jika sudah terjebak ada di dalam, segera keluar memisahkan diri, jika tak ingin hangus diri. Dijual : Yesus! Tapi, semoga Anda dan saya bukan penjual ataupun pembelinya.
Nah, kembali kepada Yudas, murid, rasul, bendahara, yang juga pengkhianat. Yudas juga piawai bersilat lidah, satu sisi sepertinya dia peduli dan membela orang miskin, padahal di sisi lain keuntungan dirilah yang dipikirkannya (Yohanes 12:1-8). Ya, Yudas memang “berbakat” sebagai pengkhianat. Entah sudah berapa banyak pelajaran tentang kebenaran yang dia dapat dari Yesus, tapi tak pernah bertumbuh apalagi berbuah.Dalam perumpamaan tentang penabur, Yudas bagaikan benih yang jatuh di tengah semak duri (Matius 13: 22). Episode demi episode mukjizat hebat, disaksikannya, tapi benih kebenaran tak pernah tumbuh dan berbuah dalam hatinya. Hati nurani dibunuhnya, uang menjadi tuannya, maka Yudas telah memilih jalan hidupnya. Yesus dijual seharga 30 keping perak, harga seorang budak (Keluaran 21: 32). Sangat ironis, Yesus, Allah yang menjadi manusia, raja yang menjadi hamba, penebus dosa manusia, sang juru selamat terjual dengan harga yang amat sangat murah.
Namun , di sisi lain, kerelaan Yesus menjadi hamba justru tergenapi dalam pengkhianatan ini. Uang telah membuat Yudas gelap mata. Soal mamon ini tak hanya mewarnai kehidupan duniawi saja, namun juga merata keberbagai sudut kehidupan. Dunia rohani bahkan sering kali lebih duniawi dari dunia itu sendiri. Manusia beragama model Yudas tak pernah habis dari panggung kehidupan. Selalu saja ada generasi pengganti. Sementara pelayan sejati sering kali seperti kehilangan garis. Kegairahan terhadap daya tarik mamon semakin hari semakin menggila. Hal ini tepat seperti lukisan Paulus dalam II Timotius 3: 2, di akhir jaman manusia akan menjadi hamba uang. Manusia kehilangan kendali menjadi tuan atas uang.
Kisah Yudas, mengingatkan kita dengan terang-benderang, bahwa jabatan kerohanian tak serta-merta membuat seseorang imun terhadap godaan uang. Yudas adalah seorang rasul, lebih dari seorang pendeta secara jabatan. Kedekataannya dengan Yesus dalam aktivitas sehari-hari tak bisa dipungkiri, namun tak menjamin kualitas pelayanan. Yudas merasa perlu dan berhak mendapatkan tiga puluh keping perak, sekalipun untuk itu Yesus harus dijual. Sementara Yesus, “rela terjual murah”, asal keselamatan terwujud menjadi kenyatan dalam kehidupan umat. Yudas “beringas” demi uang: “beringas” menjual Yesus, “beringas” dalam baju suci kerasulan. Dan yang tak kalah mengerikan, dia juga “beringas” dalam kemunafikan kepedulian pada kaum papa. Yudas telah mengerahkan seluruh kemampuannya memainkan seluruh jurus pengkhianatan berbaju kerohanian.
Dalam konteks kekinian, ternyata tak kurang panjang barisan pengikut Yudas, sama panjang dengan barisan penjual Yesus. Kini, tak sedikit orang yang sangat bernafsu menabikan atau merasulkan diri, atas nama ketetapan Tuhan. Tak pula kurang orang berjual-beli kebenaran, yang menjual Yesus dengan memutarbalikkan kebenaran. Kebenaran dibuat berpusat pada diri dan menguntungkan diri. Khotbah disampaikan untuk menyenangkan telinga umat, khususnya kamu berduit, untuk memancing duit mereka. “Hamba Tuhan” bajunya, hatinya hamba uang. Istilah “salesman Injil” semakin hari semakin terkenal, seturut terkuaknya gaya hidup banyak “pendeta besar” yang tak kalah dengan selebritis kelas atas.
Banyak orang telah mengambil keuntungan besar dengan mengobral Yesus. Celakanya, semua berjalan tepat waktu, karena market juga dipenuhi manusia bermental hati ahli Taurat. Yang mau tampak benar di arena keseharian, tampak rohani, bersih dan berbudi, sekalipun mereka benci terhadap kejujuran dan kesucian. Karena itu “obral kebenaran” mereka serbu. Mereka suka mengonsumsi produk obral ini, mereka tampak rohani tanpa harus sungguh-sungguh rohani. Cukup dengan kata-kata amin, sedikit kegiatan, dan besarnya sumbangan semua menjadi benar dan “dipakai Tuhan” sesuai label yang diberikan para “hamba Tuhan”. Semakin tinggi bayaran, semakin rohani si pemberi dalam khotbah “hamba Tuhan”. Transaksi jual-beli terus meninggi, limpahan materi mengalir deras ke pundi-pundi “hamba Tuhan”. Gaya hidup supermewah mewarnai sepak terjang mereka atas nama berkat Ilahi, padahal hasil menjual kebenaran.
Yesus dijual dengan mengobral berkat besar, dan menutupi penyangkalan diri apalagi memikul salib sesuai perintah Yesus sendiri. Ya, Yesus dijual dengan mengorupsi, memanipulasi kebenaran, bahkan membangun kebenaran baru atas nama wahyu baru. Maka klaim diri semakin meninggi, dan ini akan diikuti dengan “harga jual” yang juga semakin tinggi. Lagi-lagi Yesus terjual murah. Dan, lagi-lagi yang salah tampaknya benar secara suara, mereka tampaknya mayoritas, sama persis seperti Yesus tersalib. Yesus tampak minoritas, para ahli Taurat-lah yang mayoritas. Dan ini didukung pada kebiasaan kita tentang suara terbayak sebagai yang benar dan menentukan. Menyakitkan, tapi itulah kenyataan. Dosa akan pesta pora, sukses menggaet banyak pengikut, hingga kedatangan Yesus yang kedua kali.
Akankah pencinta kebenaran sejati akan bertahan di tengah polusi jual-beli Yesus? Sebuah pertanyaan yang harus dijawab dengan hidup menjalani kebenaran tanpa kompromi. Berani miskin tanpa harus memiskinkan diri, sebaliknya juga berani kaya tanpa harus memperkaya diri, melainkan berkarya penuh dengan pasrah penuh pada berkat Ilahi. Biarlah aku menerima bagianku yang Tuhanku, bukan apa yang aku mau (Amsal 30: 7-9). Apakah “jual beli Yesus” akan berhenti? Sekali lagi tidak, dan tidak akan! Transaksi akan terus berlangsung, yang penting Anda tak terlibat di sana. Atau, jika sudah terjebak ada di dalam, segera keluar memisahkan diri, jika tak ingin hangus diri. Dijual : Yesus! Tapi, semoga Anda dan saya bukan penjual ataupun pembelinya.
Buang Rasa Khawatir, Jangan Tumpuk Harta
Oleh :
Pdt. Bigman Sirait
HARTA adalah anugerah Allah kepada manusia untuk menghidupi hidupnya. Harta adalah sesuatu yang Tuhan sediakan. Di Mazmur 127 dikatakan bahwa ketika kita masih tidur Tuhan sudah menyediakan roti yang kita butuhkan untuk esok pagi. Tapi ayat ini tidak untuk mengajarkan kita tidak perlu bekerja. Ayat ini justru mengajarkan bahwa ada jaminan yang Allah sediakan bagi kita, tetapi Allah mau kita bertindak di dalam kehidupan secara bertanggung jawab, yaitu dengan otak, tenaga, dan talenta yang Tuhan berikan. Itu kita pakai mengelola hidup, untuk mendapatkan apa yang Tuhan sudah sediakan bagi kita.
Kenapa kita khawatir? Karena ada keterbatasan kita di dalam ruang dan waktu. Keterbatasan membuat kita tidak mengetahui apa yang terjadi besok. Menurut hitung-hitungan kita, jika tidak punya uang tidak bisa makan. Kalau tidak punya deposito cukup, berat menyekolahkan anak. Hitungan-hitungan itu memang tidak salah. Dalam keterbatasan, kita berpikir seperti itu. Seluruh yang ada itu bisa kita hitung sedemikian rupa: sebab-akibatnya dan logika jalannya. Dalam keterba-tasan itu kita mampu berhitung dengan jitu dan tepat.
Jadi, masak kita tidak mau belajar pada realita umum yang disebut sebagai anugerah umum common grace. Kalau rajin belajar pasti pintar. Kalau Anda baik, dihargai orang dan banyak sahabat, mereka pasti menolongmu. Secara common grace, semua orang diperlihara oleh kasih Tuhan. Karena Tuhan mengatakan bahwa Dia memberikan matahari bukan hanya untuk orang baik, tetapi juga orang jahat. Maka secara anugerah umum tadi kita sadar ada berkat Tuhan yang mengalir dalam hidup. Tetapi jangan kaitkan ini dengan special grace, keselamatan. Maka dalam common grace tadi, orang bisa belajar, bisa bertumbuh di dalam ke-imanannya, memahami kebenaran kasih setia Allah. Maka di dalam keimanannya itu, ia akan bertumbuh dan makin kuat menaruh harapannya kepada Tuhan, dan pengharapannya itu akan merangsang dia untuk bekerja secara betanggung jawab di hadapan Tuhan.
Jadi, kalau secara umum orang baik membuka peluang masa depan bagi dirinya, apalagi orang yang takut Tuhan. Orang takut Tuhan pasti baik kan? Tapi jangan mengaku percaya Tuhan, tetapi anda terkenal sebagai pekerja yang tidak jujur, tidak suka menolong. Jangan mengaku cinta Yesus tetapi anda dikenal sebagai teman kerja yang tidak bisa diandalkan. Lalu kau berdoa marah-marah sama Tuhan. “Di manakah pemeliharaan-Mu?...” Lalu muncullah rasa khawatirmu tentang hidup ini, maka doamu selalu menuntut apa yang kau perlukan dalam hidupmu. Maka kau melupakan prinsip yang Tuhan ajarkan: “Cari dahulu kerajaan Allah semuanya akan ditambahkan bagimu” (Matius 6: 33). Orang yang mencari kerajaan Allah adalah yang melakukan kehendak-kehendak Allah dalam hidupnya. Maka dia jujur, bisa diandalkan, rekan yang baik dan menyenangkan. Maka dengan sendirinya dia akan mendapatkan penghargaan, bukan?
Nikmati porsi masing-masing
Jadi, mencari kerajaan Allah itu musti diterjemahkan secara praktikal dalam hidup. Jangan dijadikan semacam ayat yang menyembunyikan kesulitan kita dan mencoba lari dan bersembunyi di balik itu. Itu membunuh tanggung jawab kita untuk hidup seperti apa yang Tuhan kehendaki dalam rangka mencari kerajaan itu.
Karena itu mari kita hidup seperti yang Tuhan kehendaki. Cari kerajaan-Nya itu, lakukan kehendak-Nya, jangan sampai salah langkah, salah kaprah. Oleh karena itulah harta yang ada di dalam hidup ini tidak boleh kita khawatirkan. Ke-khawatiran terhadap harta atau hidup ini hanya menunjukkan kesalahpahaman kita tentang arti pemeliharaan Tuhan. Jadi karena itu, jangan kamu khawatir akan hidupmu, apa yang hendak kamu makan atau minum. Jangan khawatir akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup lebih penting dari makanan? Tubuh lebih penting dari pakaian, dan hidup kita dipelihara Tuhan.
Khawatirlah kalau hidupmu tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Khawatirlah kalau kamu bukan mencari kerajaan Tuhan, tetapi mencari kerajaanmu sendiri. Khawatirlah sekalipun dalam pencarian kerajaan itu saudara mempunyai banyak harta benda, karena harta benda itu bisa menjadi malapetaka. Kaya-miskin hanyalah dinamika dalam hidup yang harus disikapi dengan lapang dada. Yang kaya tidak besar kepala. Yang miskin tidak kecil hati, tetapi bagaimana menikmati masing-masing porsi yang Tuhan berikan pada kita. Karena tujuan utama kita bukan bagaimana kita bekerja untuk mendapatkan banyak harta tetapi bagaimana hidup memuliakan Tuhan.
Oleh karena itu tempatkanlah harta itu sebagai alat dalam kehidupan, bukan tujuan utama. Jangan pernah khawatir terhadap hal itu sekalipun manusia riskan atas hal itu, tetapi itulah perjuangan kita melawan rasa khawatir. Selama rasa khawatir itu kita biarkan bertumbuh berkembang bahkan menguasai kehidupan kita maka selama itu kita tidak akan pernah mengalami pertumbuhan iman yang utuh. Selama rasa khawatir itu melanda kehidupan maka selama itu pula kita tidak bisa apa-apa dalam membangun semangat keberimanan.
Karena itu belajarlah untuk membuang rasa khawatir itu dengan hidup bergantung pada Tuhan, bukan dengan menumpuk segala apa yang kau anggap bisa menjamin masa depanmu. Tidak ada yang salah dengan kekayaan. Yang salah sikap terhadap kekayaan. Tak ada yang salah dengan harta. Yang salah sikap terhadap harta itu. Jangan harta menjadi jaminan hidupmu, tetapi Tuhan. Tetapi kalau kau bilang Tuhan jaminan hidupmu, itu harus tampak benar-benar dalam aktivitasmu.
Jangan khawatir tentang apa yang akan kau makan, minum, pakai. Kekhawatiran tidak akan mengubah apa pun, tetapi bersyukurlah di dalam kekhawatiran yang sudah salah itu, toh Tuhan berbelas kasihan, mendidik membimbing menuntun kita. Karena itu mulailah dengan belajar mencari dulu kerajaan Allah supaya kau tidak terjebak dalam lilitan persoalan. v(Diringkas dari kaset khotbah oleh Hans P.Tan)
Langganan:
Komentar (Atom)
