30 November 2009

HATI YANG MURNI

Ayat bacaan: Matius 5:8
====================
"Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah."


hati yang tulus, murni, suciApa yang ada di dalam hati kita ketika kita mengulurkan tangan kita untuk membantu orang-orang yang kekurangan, ketika kita melayani Tuhan dan melakukan pekerjaanNya? Banyak yang melayani, namun tidak seluruhnya memiliki kondisi hati yang sesuai dengan apa yang dikehendaki Tuhan. Ada orang yang dengan tulus sungguh-sungguh melayani karena mengasihi Tuhan, tapi ada pula orang yang melayani karena ingin membesarkan dirinya sendiri. Ingin terlihat hebat, ingin terlihat rohani, ingin menonjolkan kemampuan dan sebagainya. Ada pula yang karena ingin menarik perhatian kekasihnya, karena paksaan orang tua, ingin mendapat pujian dan lain-lain. Ada pula yang melayani karena hanya ingin mendapatkan upah dari Tuhan. Betapa banyaknya motivasi yang bisa menjadi dasar dari pelayanan dan perbuatan yang kita lakukan untuk orang lain. Tuhan tentu menghargai pelayanan kita, namun itu hanya terjadi apabila kita melakukannya dengan tulus, dengan hati yang murni.

Salah satu ucapan Kristus dari rangkaian kotbahNya di atas bukit yang terkenal berbunyi seperti berikut: "Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah." (Matius 5:8). Dalam bahasa Inggrisnya, kata hati suci ini disebutkan dengan "pure heart". Hati yang murni akan membuat kita melihat Allah. Melihat kuasa-kuasaNya, melihat jalan-jalanNya, melihat petunjukNya dan melihat rencanaNya. Ini sejalan dengan apa yang ditulis oleh Daud. "Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia." (Mazmur 24:4-5). Sesungguhnya Tuhan menyediakan upah kepada orang-orang yang memiliki ketulusan, kemurnian atau kesucian hati. Ada berkat dan keadilan serta keselamatan yang diberikan Tuhan kepada orang-orang yang demikian. Tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, termasuk menipu diri sendiri dan orang lain atau bahkan berpikir untuk bisa mengelabui Tuhan. Orang-orang yang memiliki ketulusan untuk melakukan firman Tuhan, menolong sesama, mengasihi sesama, melayani tanpa pamrih, bukan karena berharap apa-apa dan ingin terlihat seperti apa di mata orang, tapi hanya karena Allah, orang-orang seperti inilah yang akan menikmati perlindungan dari Tuhan dan berbagai berkat-berkatNya yang tercurah dari langit.

Hati yang tulus dan suci ini bisa kita dapatkan lewat pengenalan kita secara pribadi akan Tuhan, lewat firman-firmanNya yang tertulis dalam alkitab dan juga lewat doa-doa kita secara pribadi dengan Tuhan. Bergaul akrab dengan Tuhan, tinggal di dalam hadiratNya, semua ini akan membuat kita bisa memiliki sebentuk hati yang mengasihi Tuhan lebih dari segalanya. Bukan sekedar doa karena rutinitas, karena terpaksa, atau karena sekedar kewajiban saja, bukan pula doa yang berupa hafalan. Mencurahkan isi hati kita secara total kepada Tuhan dengan sejujur-jujurnya akan sangat berbeda dibandingkan doa berbentuk hafalan atau sekedar rutinitas semata. Disitulah kita akan mengalami proses pencucian dan pemurnian hati. Hari demi hari kita akan semakin terbentuk menjadi pribadi berkarakter yang kuat berakar pada Kristus. Dan hari demi hari kita pun akan semakin mampu melayani dengan ketulusan dan kemurnian hati. Inilah yang akan bernilai di hadapan Tuhan.

Tuhan tidak menyukai orang-orang yang munafik dalam hal apapun. Dalam hal memberi: "Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu." (Matius 6:2-4). Dalam hal berdoa: "Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya....Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan." (ay 5,7). Atau dalam hal berpuasa: "Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya." (ay 16). Munafik bertolak belakang dengan tulus dan murni, karena dalam kemunafikan ada begitu banyak motivasi yang tersembunyi di balik layar yang mencemarkan hati kita.

Mari hari ini kita sama-sama memeriksa hati kita. Sudahkah kita memiliki hati yang tulus, suci dan murni dalam menjalani hidup? Apakah kita sudah melayani dengan tulus ikhlas hanya karena Tuhan dan bukan hal-hal yang memegahkan diri kita sendiri? Pemazmur mengatakan "Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya." (Mazmur 73:1). Sesungguhnya ada berkat-berkat dan perlindungan yang disediakan Tuhan kepada orang-orang yang tulus dan bersih hati ini. Itu adalah anugerah Tuhan yang dengan sendirinya akan datang kepada orang seperti ini tanpa harus ditagih terlebih dahulu. Dasarkanlah segala sesuatu yang kita lakukan dengan hati yang bersih dan tulus, suci dan murni agar kita bisa merasakan kebaikan Tuhan senantiasa menyertai kita dalam hidup. Karena akan sia-sia saja kita berbuat baik dan melayani apabila hati kita masih mengalami polusi dari berbagai limbah yang bukan berasal dari Allah. Munafik akan menerima upah, tulus dan murni pun menerima upah. Tapi upahnya jelas berbeda. Yang mana yang akan kita pilih sungguh tergantung dari bagaimana sikap dan kondisi hati kita. Sungguh tepat jika Salomo pun mengingatkan : "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." (Amsal 4:23). Adakah hati kita masih mengalami pencemaran dari berbagai hal? Mari kita bersihkan dengan lebih bertekun lagi membina hubungan dengan Tuhan. Milikilah hati yang suci, karena hanya dengan demikianlah kita bisa melihat Tuhan.

Alami kebaikan, penyertaan, berkat dan perlindungan Tuhan lewat hati yang tulus, bersih, suci dan murni.

MEMERDEKAKAN IMAN LEWAT PENGAMPUNAN

Ayat bacaan: Markus 11:25
======================

"Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu."


memerdekakan iman, pengampunanBeberapa hari yang lalu seorang teman bercerita bahwa ia sempat mengalami kesulitan air selama beberapa hari. Setelah ditelusuri, ternyata masalahnya bukanlah dari PAM (Perusahaan Air Minum) seperti yang ia duga sebelumnya. Masalah ternyata muncul akibat terjadinya penyumbatan pada pipa yang menyalurkan air menuju ke rumahnya. Setelah pipa dibersihkan, air pun kembali mengucur dengan baik masuk ke rumahnya. Ketika air tidak mengalir di rumah, biasanya kita akan segera menduga bahwa masalah berasal dari sumbernya, tapi ternyata masalah pun bisa terjadi dari halaman rumah kita sendiri. Keesokan harinya ada teman lain yang mengeluh bahwa doanya tidak juga mendapat jawaban. Dan saya pun teringat akan kisah air mampet di atas.

Ketika kita berdoa dan jawaban tidak kunjung datang, ada banyak di antara kita yang segera menyalahkan Tuhan. Tuhan dianggap tidak tanggap, tidak peduli atau berat sebelah. Tetangga kita doanya dikabulkan, sedangkan kita tidak. Ada beberapa perkara yang menjadi penyebabnya. Bisa jadi memang waktunya belum tiba sesuai dengan waktu Tuhan. Karena firman Tuhan berkata, "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya." (Pengkotbah 3:11a). Yang terbaik tentulah sesuatu yang sesuai dengan waktunya Tuhan. Doa belum dikabulkan bisa jadi juga akibat dosa-dosa yang masih terus kita lakukan. "Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu." (Yesaya 59:1-2). Alasan lainnya? Bisa pula karena perlakuan suami terhadap istrinya belumlah benar. "Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang." (1 Petrus 3:7). Dan satu lagi penghambat doa-doa kita didengar Tuhan adalah ketika kita masih menyimpan dendam dan belum bisa memberikan pengampunan. Inilah yang akan saya angkat untuk renungan hari ini.

Tidak banyak orang yang menyadari betapa eratnya hubungan antara iman dan pengampunan. Yesus pernah mengajarkan mengenai hubungan ini dalam kotbahNya mengenai sebentuk iman yang mampu memindahkan gunung hingga tercampak ke laut. (Markus 11:23). Apa yang dikatakan Yesus pada saat itu sebagai syarat adalah keteguhan hati kita. Tidak bimbang, tetap percaya, maka hal itu akan terjadi. Yesus melanjutkan pula dengan ayat yang sudah begitu kita kenal dengan baik. "Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu." (ay 24). Tapi kemudian lihatlah ayat berikutnya. "Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu." (ay 25). Bahkan kemudian menekankan sekali lagi akan hal sebaliknya "Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu." (ay 26). Sebelum kita berdoa, kita wajib terlebih dahulu mengampuni orang-orang yang masih mengganjal dalam hati kita. Artinya, jangan berdoa dulu sebelum kita melepaskan sakit hati atau dendam yang masih bercokol di dalam hati kita.

Ini adalah sebuah pesan penting. Pasti bukan kebetulan jika Yesus menopang gabungan kedua kalimat itu. Tuhan Yesus ingin kita tahu bahwa membebaskan orang-orang yang bersalah kepada kita adalah dasar utama untuk menerima sesuatu dari Tuhan. Tuhan selalu siap mengampuni kesalahan kita sebesar apapun, dan itu bisa terjadi apabila kita mau mengampuni kesalahan orang. "Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga." (Matius 6:14). Fakta menarik dikemukakan Yesus lewat sandingan ayat antara menerima apa yang kita doakan dengan memberikan pengampunan kepada orang-orang yang sudah menyakiti kita. Fakta itu adalah: Jangan berharap doa kita didengar jika kita masih menyimpan sakit hati dan dendam terhadap orang lain. Kita tidak akan dapat memperoleh pengabulan doa dan dendam dalam hati kita sekaligus.

Tuhan memberikan pengampunan yang tidak terbatas, dan kita pun seharusnya demikian terhadap sesama kita. Menyimpan dendam dalam diri kita, selain akan menimbulkan berbagai penyakit dan membuat kita tidak bisa melangkah maju, tapi juga membuat doa-doa kita terhalang, membelenggu iman kita sehingga tidak bisa tumbuh bahkan menghilangkan kesempatan kita untuk menerima pengampunan dari Tuhan. Sungguh perihal pengampunan ini memegang peranan penting bagi pertumbuhan iman kita dan sangat menentukan terhadap apakah doa kita terhalang atau bisa menemukan jawaban. Tidak mudah memang, apalagi jika kita mengandalkan kekuatan diri sendiri untuk memberikan pengampunan. Hampir-hampir mustahil, terutama ketika apa yang dilakukan seseorang menyisakan trauma dan penderitaan yang harus kita pikul untuk waktu yang lama. Tapi sudah menjadi perintah Tuhan bagi kita untuk bisa mengampuni, dan karena itulah kita wajib mentaatinya. Kekuatan kita mungkin terbatas, tapi serahkanlah kepada Tuhan dan mintalah Roh Kudus untuk menguatkan diri kita hingga membuat kita sanggup memberikan pengampunan. Diri kita sendiri mungkin tidak sanggup, tapi bersama Roh Kudus kita pasti sanggup.

Sesungguhnya Tuhan tidak sabar untuk menyatakan kasihNya kepada kita. Dia tidak sabar untuk menjawab doa-doa kita yang tetap menanti-nantikan Dia tanpa putus pengharapan. "Sebab itu TUHAN menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih-Nya kepada kamu; sebab itu Ia bangkit hendak menyayangi kamu. Sebab TUHAN adalah Allah yang adil; berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia!" (Yesaya 30:18). Jika anda telah berdoa untuk sesuatu dan tidak kunjung memperoleh jawaban, tidak ada salahnya untuk kembali memeriksa hati anda. Jika anda menemui ganjalan terhadap seseorang, memiliki sakit hati atau dendam, bereskanlah itu terlebih dahulu. Mintalah Roh Kudus untuk membantu anda mengeluarkannya dari hati anda. Buanglah sumbatan pada saluran iman anda. Bebaskan iman anda dari belenggu kepahitan, sakit hati dan dendam, merdekakanlah iman anda dengan segera. Maka anda pun akan segera menyaksikan bagaimana Tuhan menjawab doa-doa anda dengan begitu luar biasa, bahkan memenuhi anda dengan berkat-berkatNya yang melimpah.

Bersihkan sumbatan dan segera merdekakan iman kita lewat pengampunan

MENGAPA KEBANGKITAN KRISTUS PENTING ?

Kebangkitan Kristus penting adanya karena beberapa penyebab :
 
Pertama, kebangkitan menyaksikan kuasa Allah yang luar biasa dahsyatnya. Mempercayai kebangkitan adalah mempercayai Allah. Kalau Allah itu ada, dan Dia menciptakan alam semesta dan berkuasa atasnya, Dia memiliki kuasa untuk membangkitkan orang mati. Jikalau Dia tidak memiliki kuasa seperti itu, Dia bukanlah Allah yang layak untuk diimani dan disembah. Hanya Dia sang Pencipta hidup yang dapat membangkitkan kembali dari kematian, hanya Dia yang dapat memulihkan dari kengerian kematian, dan hanya Dia yang dapat menyingkirkan sengat yang adalah kematian itu, dan kemenangan dari kubur. Dengan membangkitkan Yesus dari antara kubur, Allah mengingatkan kita kedaulatanNya yang mutlak atas dosa dan kematian.

Kedua, kebangkitan Yesus adalah kesaksian akan kebangkitan umat manusia, yang adalah merupakan ciri dasar dari iman Kristen. Berbeda dengan agama-agama lainnya, keKristenan belaka yang memiliki pendiri yang melampaui kematian dan yang menjanjikan bahwa para pengikutNya juga akan demikian. Semua agama (palsu) lainnya didirikan oleh manusia dan nabi yang semuanya berakhir di dalam kuburan. Sebagai orang-orang Kristen kita mendapat penghiburan dalam fakta bahwa Allah kita menjadi manusia, mati bagi dosa-dosa kita, dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Kubur tidak dapat menahanNya. Dia hidup dan sekarang duduk di sebelah kanan Allah Bapa di surga. Gereja yang hidup memiliki Kepala yang hidup.

Dalam 1 Korintus 15 Paulus menjelaskan secara detil pentingnya kebangkitan Kristus. Beberapa orang di Korintus tidak percaya pada kebangkitan orang mati, dan dalam pasal ini Paulis memberikan enam konsekwensi yang parah kalau tidak ada kebangkitan: 1) pemberitaan akan Kristus tidak ada artinya (ayat 14); 2) iman dalam Kristus tidak ada gunanya (ayat 14); 3) semua saksi dan pemberita kebangkitan adalah pendusta (ayat 15); 4) tidak ada yang akan ditebus dari dosa (ayat 17); 5) orang-orang percaya pada zaman dulu semua binasa (ayat 18); dan 6) orang-orang Kristen adalah orang yang paling dikasihani di seluruh dunia (ayat 19). Namun Kristus yang sudah bangkit dari antara orang mati dan “telah menjadi buah sulung dari semua yang tertidur” (ayat 20), menjadi jaminan bahwa kita juga akan mengikuti Dia dalam kebangkitan.

Firman Allah yang diinspirasikan menjamin kebangkitan orang-orang percaya pada kedatangan Yesus Kristus untuk TubuhNya (Gereja) pada saat pengangkatan orang percaya. Pengharapan dan jaminan semacam ini diungkapkan dalam nyanyian agung mengenai kemenangan yang ditulis oleh Paulus dalam 1 Korintus 15:155, “Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?"” Bagaimanakah ayat-ayat penutup ini berhubungan dengan pentingnya kebangkitan? Paulus menjawab, “… jerih payahmu tidaklah sia-sia” (ayat 58). Dia mengingatkan kita bahwa karena kita tahu kita akan dibangkitkan kepada kehidupan yang baru maka kita mampu menanggung penganiayaan dan bahaya demi untuk Kristus (ayat 29-31) sebagaimana yang dialami oleh Kristus, dan juga oleh ribuan martir sepanjang sejarah yang dengan senang hati memberikan hidup dalam dunia ini untuk hidup kekal melalui kebangkitan.

Kebangkitan adalah kemenangan agung dan mulia bagi setiap orang percaya dalam Yesus Kristus yang mati, dikuburkan, dan bangkit pada hari ketiga sesuai dengan Kitab Suci. Dan Dia datang kembali! Orang-orang yang mati di dalam Kristus akan dibangkitkan, dan mereka yang masih tinggal dan hidup pada saat kedatanganNya akan diubah dan menerima tubuh baru yang dimuliakan (1 Tesalonika 4:13-18). Mengapa kebangkitan Yesus Kristus penting? Kebangkitan Yesus mendemonstrasikan bahwa Allah menerima pengorbanan Yesus bagi kita. Hal itu membuktikan bahwa Allah berkuasa untuk membangkitkan kita dari antara orang mati. Hal itu menjamin bahwa mereka yang percaya pada Kristus tidak akan tinggal mati, namun akan dibangkitkan kepada kehidupan kekal. Inilah pengharapan agung kita!

28 November 2009

MENGHUJAT KEPADA ROH KUDUS ADALAH DOSA KEKAL

Bacalah Markus 3 : 20 - 30

Tugas utama Tuhan Yesus adalah memberitakan Kerajaan Allah atau pemerintahan Allah. Tugas itu dilakukan dengan mengajar dan melakukan mujizat kepada semua orang yang dijumpai-Nya. Kuasa yang mengurapi Tuhan Yesus dalam tugas-Nya adalah Roh Kudus. Tidak aneh jika dikatakan bahwa orang banyak selalu takjub ketika mendengar ajaran dan melihat tanda ajaib yang dilakukan oleh Yesus.

Para ahli Taurat sebagai pengajar Israel tidak memiliki sikap dan tindakan mengajar seperti itu. Karena itu mereka berupaya menghasut orang banyak dengan menuduh yang sembarangan. Dalam bacaan kita tampak bahwa para ahli Taurat menuduh Yesus mempergunakan kuasa Beelzebul (penghulu setan) ketika mengusir setan dari orang yang kerasukan. Ini artinya mereka tidak mengakui kuasa yang mengurapi Yesus dalam melaksanakan tugas-Nya. Tuduhan para ahli Taurat ini, oleh Yesus dinilai sebagai penghujatan kepada Roh Kudus; dan bagi Yesus, itu dosa yang tidak terampuni (ayat 29).

Roh kudus berperan untuk MENGINSAFKAN dunia dan manusia akan dosa, kebenaran dan penghakiman" (Yoh.16:8). Peranan-Nya nyata dalam tutur, laku dan tindakan Yesus yang dilanjutkan oleh para Rasul dan kemudian oleh Gereja. Bagaimana seseorang insaf akan dosa-dosanya dan bertobat lalu hidup dalam kebenaran karena sadar akan penghakiman kekal, semua adalah karya Roh Kudus. Jadi kalau tidak insaf, tidak bertobat serta tidak hidup dalam kebenaran, itu sama dengan menolak karya Roh Kudus. Akibatnya tidak akan bebas dari penghakiman dan hukuman kekal. Apalagi menuduh Roh Kudus yang mengurapi Yesus dalam seluruh kata dan tindakan-Nya sebagai roh setan; ‘alama'; bahaya! Nah, supaya kita terhindar dari tindakan menghujat Roh Kudus maka jangan pernah menuduh atau menghujat siapapun, apalagi menghujat Firman yang diberitakan oleh para hamba yang diurapi Tuhan.

PERTOBATAN MENANGKAL KESULITAN

Bacalah Keluaran 8: 1-32


Ada pola sederhana yang bisa dicermati dalam perikop kita. Saat Firaun terancam, dia berbaik-baik dan berjanji bagi Musa dan Harun tentang Israel. Tetapi saat ancaman selesai, dia dengan gampang melupakan janjinya dan kembali mengeraskan hati. Pola seperti ini kita alami sepanjang kehidupan, termasuk mungkin sepanjang hari ini.

Sayang sekali, bahwa sering pola ini bukan hanya dianut oleh orang orang ‘diluar' persekutuan. Pola ini sering dianut oleh orang orang yang kita pandang seiman. Atau mungkin sekali kita sebagai pribadi juga menganut pola seperti ini. Ketika terancam, kita berbaik-baik. Ketika ancaman mengendor, kita jadi makin arogan. Kita lalu menjadi tidak konsisten. Lain dihati, lain di bibir, lain dipikir.

Terhadap pola tingkah manusia yang salah, kita melihat juga ‘pola' Tuhan yang tegas. Hukumannya makin lama makin berat. Maka jelaslah bahwa tanpa pertobatan, kita setiap hari menambah bencana dalam kehidupan. Sebuah pertobatan bisa menghentikan bukan hanya satu hukuman, melainkan satu rangkaian hukuman. Betapa tidak bijaksananya menunda pertobatan. Sebab itu hanya menambah malapetaka yang sebetulnya tidak usah terjadi.

Ketika akan mengakhiri hari ini, kita sadar akan banyaknya kekurangan yang memerlukan penyempurnaan dari Tuhan. Banyak kesalahan yang perlu dibawa pada Tuhan untuk beroleh pengampunan. Namun kita tidak pernah dapat memastikan bagian mana dalam perilaku kita yang berakibat baik bagi sesama dan yang membuat orang lain memuji nama Tuhan. Kita juga tidak dapat memastikan hal mana saja yang kita lakukan hari ini yang akan berakibat serius bagi masa depan. Jadi, sebelum mengakhiri hari ini, mari menyerahkan segala kuatir kepada Tuhan. Sebab hanya Dia yang mempedulikan kita.

MENANG ATAS COBAAN

Bacalah Matius 4: 1-10

Hidup tak pernah sepi dari godaan dan cobaan. Bagaikan gelombang di laut yang selalu bergulung, entah dari mana asalnya. Demikianlah kehidupan, godaan dan cobaan datang silih berganti. Yang satu belum usai tetapi yang lain sudah datang menghadang.

Hidup dekat dengan Tuhan ternyata tak lepas dari godaan dan cobaan. Bahkan semakin dekat dengan Tuhan semakin banyak pula godaan dan cobaan. Iblis tak pernah menyerah. Ia seperti singa yang selalu siap menerkam. Kalau kita lengah sedikit saja iblis segera memangsa kita.

Tidak hanya kita manusia, Yesus pun dicobai iblis. Serangannya bertubi-tubi, tetapi Yesus selalu sigap. Pertama, soal kebutuhan akan makanan (ayat 3). Serangan ini Ia patahkan dengan kekuatan firman Allah(ayat 4). Iblis pun kalah karena hidup manusia tidak bergantung pada hal jasmaniah semata tetapi lebih pada hal yang rohaniah.  
Kedua, soal percaya kepada Allah (ayat`6). Serangan ini pun dipatahkan Yesus. Percaya kepada Allah tidak perlu pembuktian. Iblis kalah lagi.  
Ketiga, soal kenikmatan dunia (ayat`8). Ini pun tak mempan. Yesus tak mau diperhamba oleh kenikmatan dunia. Ia hanya mau menjadi hamba Allah dengan menyembahnya.

Kebutuhan jasmani memang perlu tetapi jangan sampai kita mendewa-dewakan materi sehingga melupakan Allah. Penuhilah kebutuhan jasmani dengan cara-cara yang berkenan kepada Allah. Ia pasti mengaruniakan hidup yang berkelimpahan bagi kita. Sebagaimana Allah telah menyerahkan Putra-Nya bagi kita -Ia juga yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi rela menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia? (Roma 8:32). Hanya di dalam Dia hidup kita diberkati dan hanya Dia-lah Allah yang patut disembah dan dimuliakan.

MEMELIHARA IMAN

Bacalah Matius 16: 5-12
 

Alkisah ada suatu desa yang diserang wabah penyakit. Seorang ayah dan ibu beserta anaknya yang masih bayi lari ke hutan menghindari wabah penyakit tersebut. Konon si ayah dan si ibu meninggal dunia dan anaknya yang masih bayi ditemukan oleh seekor orang utan betina. Bayi manusia itu ikut menyusu pada orang utan betina bersama anak-anaknya yang lain. Ketika menjadi besar ia hidup sebagaimana layaknya seekor orang utan. Ia bertelanjang, melompat dari satu pohon ke pohon lainnya, makan segala yang ada di hutan dan tidak dapat berbicara. Lingkungan sangat mempengaruhi bahkan ikut membentuk seseorang, begitu juga pergaulan sehari-hari. "Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik" (1 Kor. 15:33).

Begitulah Tuhan Yesus mengingatkan para murid-Nya supaya berhati-hati terhadap orang Farisi dan Saduki. Ajaran mereka yang tidak mempercayai adanya kebangkitan dapat merusak iman. Iman Kristen bertumpu sepenuhnya pada kebangkitan Kristus. "Sebab jika benar orang mati tidak dibangkitkan, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Dan Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu" (1 Kor.15: 16-17).

Saat ini masih banyak orang yang tidak percaya bahwa Yesus sungguh-sungguh telah disalibkan dan kemudian bangkit. Dikatakan bahwa yang disalibkan itu bukan Yesus tetapi orang lain. Lebih lanjut diceritakan bahwa Yesus menyingkir ke India dan hidup sampai tua disana. Cerita ini adalah dongeng yang tidak jelas kebenarannya dan lebih daripada itu, bertentangan dengan apa yang tertulis dalam kitab suci. Sebagai pengikut Kristus dewasa ini kita pun harus selalu waspada dan memelihara iman kita supaya tidak terpengaruh ajaran-ajaran yang menyesatkan. Jadilah seperti ikan di laut yang hidup di air yang asin tetapi tidak pernah menjadi asin.