28 Oktober 2009

Kasih Itu Memberi

Yakobus 2:14-17; 1 Samuel 2:8

Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: "Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!", tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu” (Yakobus 2:15, 16)?

    Menurut konteks di atas Yakobus memberikan pengertian mengenai iman dan perbuatan. Sebab iman tanpa perbuatan itu sia-sia dan tidak berarti. Yang menarik perhatian saya adalah perumpamaan yang dipakai Yakobus. Ia berkata mengenai si kaya dan si miskin.
    
     Suatu hari si miskin sedang mengalami hari buruk. Jualannya di pasar tidak laku. Sudah beberapa hari ini ia tidak berhasil menjual satu barang pun di pasar. Bagi dia tidak makan beberapa hari tidak menjadi masalah, namun bagaimana dengan istri dan anak-anaknya yang kecil? Musim dingin sudah semakin dekat dan ia harus pula menyediakan pakaian hangat. Sanak saudara jauh, lalu ke mana ia harus mencari pertolongan?
    
     Lalu ia memberanikan diri mengetuk pintu tetangganya yang kaya yang sering mengadakan persekutuan doa di rumahnya. Tok..tok… tok..! Pintu diketuk. Badannya masih gemetaran karena sejak kemarin ia hanya minum air putih. Tak lama kemudian tampaklah wajah tetangganya yang memanjang seperti pepaya. “Ada apa?” Tanyanya singkat.
    
     “Tuan, saya membutuhkan pakaian dan makanan. Bisakah tuan memberikannya kepada saya, istri, dan anak-anak saya?”
    Tuan itu menjawab singkat, “Pulang saja dan makanlah yang kenyang dan kenakanlah baju hangat.”
    Brak! Pintu ditutup. Si miskin ini pulang dengan tangan hampa.
    Versi yang cukup panjang ini mengingatkan kita akan kasih dan perbuatan harus berjalan bersama-sama. 
 
    Saya menekankan topik ini, karena banyak orang Kristen yang senang memberikan nasihat dan dorongan supaya orang lain mempunyai iman bahwa Tuhan selalu mencukupi, tetapi tidak pernah mau memberikan sebagian hartanya. Dan bantuan yang sering mereka berikan kepada saudaranya adalah “bingkisan doa”. “Pulang saja ke rumah pak ya, nanti saya akan bantu di dalam doa.” Bukankah kita cuma berkata seperti ini tetapi tidak mau memberi?

Renungan:
    Kasih itu berkorban dan memberi, bukan teori. Kalau Yesus berkata mengenai kasih, maka Ia membuktikannya dengan kematian-Nya di kayu salib. Bukan sekedar harta yang diberikan, tetapi seluruh hidup-Nya. Bukankah anak-anak-Nya juga wajib berbuat di dalam kasih?

Kasih itu seperti matahari di pagi hari yang menerangi bumi ini dan memberikan kehangatan sepanjang hari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar