24 November 2009

TEGASLAH TERHADAP PERTENGKARAN

Ayat bacaan: Amsal 17:14
"Memulai pertengkaran adalah seperti membuka jalan air; jadi undurlah sebelum perbantahan mulai."


pertengkaranBulan Maret kemarin kita dikejutkan dengan tragedi Situ Gintung. Hujan deras yang turun membuat tanggul tidak mampu menahan dorongan air. Tanggul pun bobol, bencana banjir bandang terjadi. Hanya dalam waktu singkat 2,1 juta meter kubik air pun melanda rumah-rumah penduduk yang berada di bawah tanggul. Berulang-ulang berita ditayangkan di TV terasa mengiris hati. Bayangkan bagaimana rasanya orang tua kehilangan anak, anak kehilangan orang tua, kehilangan sanak saudara. Hanya dalam waktu yang sangat singkat, hanya dalam hitungan menit, tiba-tiba begitu banyak orang kehilangan harta, saudara, anak, keluarga, teman dan juga nyawa. Musibah bisa terjadi begitu mendadak. Ketika tanggul jebol, tidak ada satupun orang yang sanggup menghentikan limpahan air deras yang menyeruak keluar dari tembok yang retak itu dalam waktu singkat.

Lihatlah betapa mengerikannya bencana yang bisa diakibatkan oleh pecahnya tanggul yang bertugas menahan air. Seperti itulah bahaya pertengkaran menurut firman Tuhan. Alkitab menggambarkan memulai pertengkaran sama seperti membobol dinding penahan air. Jika tanggul terbuka, meski sedikit saja pada awalnya, air pasti akan terus mendorong tanggul, memperbesar retaknya sehingga air akan memancar semakin deras dan menenggelamkan sekitarnya. Tidak lagi terkendali, liar dan ganas, berpotensi menghancurkan orang lain dan tentunya diri kita sendiri. "Memulai pertengkaran adalah seperti membuka jalan air; jadi undurlah sebelum perbantahan mulai." (Amsal 17:14). Tidak sembarangan Tuhan mengingatkan bahaya pertengkaran, karena ini merupakan satu dari masalah yang paling umum terdapat dalam kehidupan, bahkan sering menyerang orang-orang percaya. Kita tidak sadar dan membiarkan hal ini masuk kemana-mana. Di rumah, di tempat kerja, di kampus, sekolah, lingkungan rumah bahkan gereja sekalipun tidak luput dari bahaya pertengkaran ini.

Tentu saja tidak seorangpun di antara kita dengan sengaja membiarkannya masuk. Kita tidak pernah bangun di pagi hari dan langsung berkata, "saya mau bertengkar hari ini, yang besar sekalian.." Tidak. Yang terjadi biasanya adalah kita tidak waspada dan membiarkan kekesalan kecil hinggap pada diri kita, kemudian membiarkannya terus membesar hingga tidak terkendali, seperti tanggul jebol. Tanpa sadar, kita sudah masuk ke dalam sebuah pertengkaran yang sulit dikendalikan. Begitu banyak rumah tangga yang hancur akibat tingginya frekuensi pertengkaran di rumah. Rumah tidak lagi nyaman. Suasana panas, saling benci. "Tapi saya manusia, bukan robot, wajar dong jika merasa kesal dengan perlakuan pasangan kita, tetangga atau teman pada suatu ketika?" Tentu saja. Ada saatnya mungkin kita merasa kesal dengan perilaku seseorang, yang paling dekat sekalipun. Namun kita harus mampu mengendalikannya sebelum menjadi besar. Apa yang saya lakukan jika terjadi perselisihan kecil dengan istri saya? Saya akan berusaha diam dan menarik diri dari potensi pertengkaran. Saya menenangkan diri, ia pun demikian. Setelah reda, sebuah pelukan hangat biasanya akan mengakhiri kejengkelan. Setidaknya kami berdua berkomitmen untuk mengakhiri perselisihan sebelum pergi tidur. Sebuah anjuran yang mirip terdapat dalam kitab Efesus. "Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu" (Efesus 4:26). And it works really well.

Pertengkaran bisa berawal dari berbagai sebab yang biasanya dimulai dengan perselisihan akan hal kecil. Yakobus mengatakan bahwa pertengkaran berasal dari nafsu duniawi yang ada dalam diri kita. "Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu? Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi." (Yakobus 1:4-5a). Menyimpan kekesalan atau sakit hati berlarut-larut pun berpotensi menimbulkan pertengkaran. "Sebab, kalau susu ditekan, mentega dihasilkan, dan kalau hidung ditekan, darah keluar, dan kalau kemarahan ditekan, pertengkaran timbul." (Amsal 30:33). Selain itu, ego, keangkuhan, sikap tidak mau kalah dan lain-lain pun bisa menimbulkan pertengkaran. Karena itulah kita diminta untuk bisa memaafkan orang dengan segera dan bersikap rendah hati, mau belajar untuk lebih memahami dan menerima orang lain apa adanya. Tidak ada manusia yang sempurna. Masalah yang timbul bisa diselesaikan baik-baik pada saat yang tepat, tidak terburu-buru. Alkitab juga mencatat fakta yang menarik dan memang benar: orang yang suka bertengkar biasanya juga suka pada pelanggaran atau dosa. "Siapa suka bertengkar, suka juga kepada pelanggaran, siapa memewahkan pintunya mencari kehancuran." (Amsal 17:19).

Jika kita terbiasa untuk lekas emosi, mudah naik pitam untuk hal-hal yang kecil sekalipun, ini saatnya untuk mulai belajar menghilangkannya. Bersikap tegaslah terhadap pertengkaran. Jangan membiarkannya merusak hidup kita sendiri dan orang lain. Mungkin perlu waktu, tapi setidaknya kita harus mulai dari sekarang. Ambillah sebuah komitmen bahwa dengan kuasa Tuhan, tidak akan ada hal yang bisa merampas sukacita dari diri kita, termasuk kekesalan yang bisa mengarah kepada pertengkaran. Sedini mungkin kita harus terus menjaga agar tanggul pertahanan emosi kita tetap kuat sehingga tidak bisa dijebol oleh kemarahan yang pada suatu saat tidak lagi bisa kita kendalikan. Ingatlah penyesalan biasanya datang terlambat, oleh karenanya kita harus senantiasa menjaga kestabilan emosi kita dan tidak cepat menuruti emosi dalam diri kita. Jika mengontrol emosi terasa sulit, mintalah Roh Kudus membantu kita dalam mengatasinya. Cepat lakukan itu sebelum kita mulai berbuat dosa. Selain itu ingatlah bahwa amarah manusia itu tidaklah pernah menyenangkan hati Tuhan. "Sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah." (Yakobus 1:20). Firman Tuhan juga berkata "Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!" (Roma 12:18). Selagi masih sadar dan masih bisa mengendalikan emosi, redamlah segera sebelum semuanya menjadi runyam. Tolaklah emosi sejak awal, dan katakan pada diri anda bahwa anda ingin berjalan dalam sejahtera dan damai sukacita Tuhan hari ini. Selain itu baik bagi kesehatan, anda pun akan merasa heran betapa hidup ini ternyata lebih indah jika dijalani tanpa emosi atau pertengkaran.


Don't open something we can't control. Jangan buka pintu pertengkaran yang nantinya tidak bisa kita kendalikan

2012 ???

Misalkan Dunia Berakhir
Setelah menghancurkan dunia dengan serangan alien (Independence Day, 1996) dan gebyuran gelombang pasang akibat pemanasan global (The Day After Tomorrow, 2004), Roland Emmerich kembali menjungkirbalikkan dunia. Kali ini ia menggelontorkan air bah---semacam kisah Nuh dalam latar modern.

Judul dua film kiamatnya itu mengacu pada latar waktu terjadinya peristiwa. Begitu juga dengan judul film terbarunya ini: 2012. Nah, ini angka tahun yang menarik.

Kalau anda rajin menyambangi toko buku, sejumlah judul yang bertopik 2012 siap menunggu Anda. Bagi yang aktif berselancar di internet, fenomena 2012 telah lama menjadi bahan silang pendapat. Usai nonton film Knowing, yang klimaksnya menampilkan leburnya dunia, seorang wanita di sebelah teman saya langsung nyeletuk, “Mas sudah siap menghadapi 2012?”

Ada apa dengan tahun 2012?

Berakhirnya Siklus Agung
Tahun 2012 mengacu pada suatu ramalan suku Maya. Suku yang pernah hidup di selatan Meksiko atau Guatemala pada abad keempat dan kelima ini dikenal menguasai ilmu falak dan sistem penanggalan. Melalui pengamatan benda-benda langit dengan mata telanjang, mereka mampu mampu melakukan kalkulasi dengan taraf akurasi yang tinggi.
Menurut mereka, keberadaan dunia ini berlangsung dalam suatu Siklus Agung. Dunia yang tengah berjalan saat ini siklusnya dimulai pada 11 atau 13 Agustus 3114 Sebelum Masehi dan diperkirakan akan berakhir pada 21 atau 23 Desember 2012 Masehi. Itu dia!
Berakhirnya suatu siklus antara lain ditandai dengan memuncaknya aktivitas matahari. Menjelang tanggal gawat itu, konon, akan muncul gelombang galaksi dahsyat yang mengakibatkan terhentinya semua kegiatan di muka bumi. Itulah yang ditafsirkan sebagian pengamat, antara lain Michael D. Coe dalam buku The Maya (1966), sebagai “kiamat”. Berakhirnya siklus itu menandakan musnahnya dunia yang kita kenal sekarang ini.
Tidak semua kalangan sepakat. Kebanyakan penganut gerakan New Age memaknainya secara kontemplatif sebagai seruan untuk mencegah kerusakan bumi. Berakhirnya siklus tadi berkaitan dengan ”pergeseran kesadaran” secara global. Mereka menafsirkan ramalan suku Maya itu sebagai bagian dari suatu evolusi rohani, yang pada akhirnya akan membawa dunia ini memasuki suatu Zaman Baru. Daniel Pinchbeck, misalnya, menyatakan, "Ketika ‘langit terbuka’ dan energi kosmis dibiarkan mengalir ke segenap penjuru Planet kecil kita, kita akan diangkat ke taraf yang lebih tinggi melalui vibrasinya.”

Induk Segala Malapetaka
Film 2012 yang dirilis pada 13 November 2009 tampaknya sejalan dengan pendapat terakhir. Tagline yang tertera pada trailer-nya berbunyi: The end is just the beginning. Jadi, sudah bisa ditebak, bakal ada penyintas di akhir filmnya.
Namun, awalnya bukan ramalan suku Maya itu yang memikat Roland Emmerich. Ia bahkan tadinya sempat tidak berminat lagi menggarap film malapetaka. Sampai suatu saat ia dan Harald Kloser, penulis skenario, mendapatkan suatu ide yang dirasanya layak difilmkan. ”Itu sebenarnya cerita paling kuno yang suka kita perbincangkan. Itu kisah air bah, dan bagaimana menyelamatkan diri darinya---seperti penceritaan kembali kisah bahtera Nuh secara modern. Cerita itu terlalu sayang untuk dilewatkan. Itu benar-benar induk dari segala malapetaka.”
Baru kemudian ia mengenal kalender suku Maya, yang akan berakhir pada 2012 itu, dan mendapatkan bahan untuk menceritakan kembali kisah air bah tadi. ”Itu membuat orang percaya bahwa cerita ini nyata,” katanya.
Film ini menampilkan malapetaka global yang membawa pada kehancuran dunia. Orang-orang dari berbagai penjuru dunia, dari berbagai latar belakang, dari berbagai agama, berjuang untuk menyelamatkan diri. Sebuah badan yang dibentuk oleh pemerintah AS, Institute for Human Continuity, berusaha menggunakan kapal dalam upaya penyelamatan.
Di tengah kekalutan itu, tampillah Jackson Curtis (John Cusack), seorang duda cerai penulis fiksi ilmiah yang kadang-kadang bekerja sebagai sopir limosin. Ia memiliki pengetahuan berdasarkan ramalan kuno untuk memastikan bahwa umat manusia tidak sepenuhnya musnah akibat malapetaka tersebut.
Film ini juga menampilkan Danny Glover sebagai Presiden AS berkulit hitam dan Thandie Newton sebagai putrinya. Chietel Ejiofor berperan sebagai Adrian Helmsley, penasihat keilmuan bagi presiden, dan Woody Harrelson sebagai Charlie Frost, pria yang meramalkan kesudahan dunia dan karenanya dianggap gila.
Namun, bintang utama film ini tak lain ialah Planet Bumi. Dengan efek khusus yang mengesankan, ditopang biaya sebesar 200 juta dolar, 2012 menampilkan bumi yang berguncang hebat, seperti anjing yang mengibas-ngibaskan air dari tubuhnya. Maka, setelah bumi dihajar empasan badai matahari, diaduk-aduk gempa, dijatuhi hujan meteor, dilalap air bah, entah bagaimana masih ada sekelompok manusia yang sukses menyelamatkan diri, siap memulai kehidupan baru.
Tak ayal Sony Pictures Entertaiment gencar memasarkan film ini, salah satunya dengan memanfaatkan internet. Mereka membangun situs lembaga fiktif, blog berisi berita-berita seputar fenomena 2012, sampai laman buku Farewell Atlantis yang diklaim sebagai karya Jackson Curtis. Di situs Institute for Human Continuity, misalnya, ada lotere untuk menjadi bagian dari orang-orang yang terselamatkan dari kehancuran global dan polling untuk memilih pemimpin dunia pasca-2012.

Penghiburan yang Lebih Besar
Benarkah dunia akan berakhir pada 21 Desember 2012?
May be yes, may be no---dengan bandul lebih condong ke arah no.
Bila Tuhan memilih mengakhiri riwayat dunia pada tanggal yang diramalkan tersebut, itu sepenuhnya wewenang dan kedaulatan-Nya. Tetapi, kemungkinan besar hal itu tidak akan terjadi. Tentang kesudahan dunia, firman Tuhan memperhadapkan kita pada misteri: hari itu akan datang seperti pencuri. Tuhan Yesus pun menolak untuk menyingkapkan misteri itu kepada para murid.
Kalau misteri itu ternyata bisa diramalkan, ya sudah enggak seru lagi, kan? Lagi pula, catatan sejarah penuh dengan berbagai ramalan hari kiamat yang nyatanya meleset.
Tentang bagaimana dunia akan berakhir, Alkitab juga tidak memaparkan rangkaian kejadian spesifik. Wahyu, kitab yang secara khusus membahas “kiamat”, banyak memuat gambaran simbolis tentang apa yang akan terjadi pada akhir zaman. Simbol-simbol yang pelik dan melahirkan beragam tafsiran.
Alkitab tampaknya tidak meminta kita untuk mencemaskan kapan dan bagaimana persisnya dunia akan berakhir. Alkitab memilih untuk menyediakan penghiburan dan pengharapan yang jauh lebih besar. Caranya? Dengan membocorkan “skor final pertandingan”!
Sejumlah mahasiswa kristiani bermain basket di lapangan kampusnya. Pak Haryo, tukang kebun setempat, duduk di tepi lapangan, asyik membaca Alkitab. “Baca apa, Pak?” tanya seorang mahasiswa. “Kitab Wahyu,” jawab Pak Haryo. “Kitab Wahyu? Memangnya Bapak mengerti isinya?” tanya mahasiswa itu lagi. “Yah, menurut kitab ini, Tuhan Yesus pada akhirnya menang.”
Pak Haryo menyampaikan tafsiran yang ringkas, lugas, dan jitu. Berita kitab tulisan Yohanes ini menegaskan bahwa Yesus Kristus akan datang kembali, Iblis akan dihukum, dan semua orang akan diadili untuk menerima kehidupan kekal atau kebinasaan kekal. Singkatnya, kitab terakhir dalam Alkitab ini memaparkan kemenangan final Tuhan Yesus atas musuh-Nya.
Dengan membocorkan hasil akhir tersebut, pesan kitab Wahyu jadi sangat relevan bagi kehidupan kita saat ini. Ya, saat ini dan di sini, bukan di sana dan nanti!
Kitab Wahyu seolah-olah menyatakan, “Begitulah kesudahan dunia ini. Apakah engkau memercayainya? Kalau percaya, lalu bagaimana engkau akan menjalani kehidupan saat ini---hari demi hari? Apakah engkau akan hidup sebagai orang-orang yang berada di pihak Sang Pemenang?”
Bagaimana kita bisa berada di pihak Sang Pemenang? Bersukacitalah! Dalam perkara ini, Wahyu tidak membiarkan kita berteka-teki. Wahyu menegaskan kembali berita Injil: bahwa orang-orang yang telah ditebus-Nya akan turut mengambil bagian dalam kemenangan tersebut. Wahyu 12:11, misalnya, secara khusus menunjukkan tiga hal yang memampukan orang-orang kudus menjadi pemenang.
Darah Anak Domba. Dasar kemenangan mereka ialah Kristus dan karya penebusan-Nya di kayu salib. Setiap orang yang berpaut kepada Yesus Kristus akan mampu melawan dan menundukkan Iblis. Mereka menerima kemenangan ini bukan oleh kekuatan sendiri, melainkan semata-mata oleh anugerah Allah.
Perkataan kesaksian. Aktivitas iman mereka ialah memberitakan firman Allah, baik melalui perkataan maupun perbuatan. Dengan memahami, memercayai, dan menerapkan firman Allah secara konsisten, orang percaya akan mampu membungkam dakwaan dan godaan Iblis.
Tidak mengasihi nyawa sampai ke dalam maut. Inilah sikap iman yang menjungkalkan Iblis. Orang percaya menyadari hidup ini hanya sementara, sekaligus tempat pelatihan dan persiapan menuju kekekalan. Mereka siap untuk mengorbankan waktu, tenaga, harta, dan bahkan jika perlu nyawa, demi menyebarluaskan firman Allah. Mereka berpendirian bahwa hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.
Kitab Wahyu, dengan demikian, menantang kita untuk hidup dalam kekudusan. Kita menolak untuk mengambil bagian dalam kesia-siaan dosa dengan merenungkan, “Akankah saya melakukannya seandainya Dia datang kembali hari ini?” Di sisi lain, kita terus bekerja dan melayani dengan tekun, sebagai ungkapan syukur atas anugerah keselamatan-Nya, seolah-olah Dia baru akan datang kembali seribu tahun lagi!

PATUHLAH MULAI HARI INI

Ayat bacaan: Amsal 29:1
====================

"Siapa bersitegang leher, walaupun telah mendapat teguran, akan sekonyong-konyong diremukkan tanpa dapat dipulihkan lagi."


tegar tengkuk, keras leher, hati membekuAda banyak orang yang ketakutan dikejar-kejar perasaan bersalah. Ada orang yang merasa bahwa kesalahan yang pernah mereka buat tidak akan pernah bisa dimaafkan. Biasanya mereka akan sulit melangkah menatap hari depan. Bahkan ada sebagian orang yang tidak lagi tahan dengan siksaan perasaan mereka dan memilih jalan pintas yang fatal dengan mengakhiri hidupnya. Di sisi lain, ada orang-orang yang sudah begitu terbiasa melakukan kesalahan, sehingga mereka tidak lagi merasa terganggu dengan itu. Berapa sering kita diingatkan Tuhan ketika berbuat kesalahan? Apakah itu lewat hati nurani, lewat Firman yang kita baca, lewat kotbah, lewat orang lain dan lain-lain, sesungguhnya setiap manusia baik-baik, siapapun mereka, biasanya akan sulit hidup tenang ketika melakukan suatu kesalahan. Saya katakan baik-baik karena ada kalanya seseorang mulai kehilangan kontrol atas dirinya, tidak lagi merasa bersalah atau menyesal setelah melakukan sesuatu yang jahat. Hati bisa membeku dan membatu, membuat kejahatan menjadi hal yang biasa. Hal ini bisa terjadi apabila kita terus mengabaikan peringatan Tuhan.

Sebagian orang mempunyai pemikiran keliru bahwa mereka bisa menunda-nunda untuk mematuhi peringatan Tuhan. Betapa kelirunya kita jika mengira bahwa bila pengarahan Roh Kudus menghampiri kita, kita dapat mengabaikannya dulu dan kemudian mematuhinya kelak sekehendak hati mereka. Mereka tahu mereka tidak melakukan hal yang benar, gaya hidupnya tidak benar, tapi mereka berpikir untuk membiarkan itu buat sementara waktu, dan nanti pada saatnya, entah kapan, mereka akan membereskannya dengan Tuhan. Jika anda memiliki pemikiran seperti itu, berhati-hatilah. Sebab firman Tuhan hari ini berkata "Siapa bersitegang leher, walaupun telah mendapat teguran, akan sekonyong-konyong diremukkan tanpa dapat dipulihkan lagi." (Amsal 29:1). Dalam bahasa Inggris, kata 'bersitegang leher' disebutkan sebagai "hardens his neck", mengeraskan leher mereka, atau dalam bahasa alkitab yang cukup terkenal dikatakan sebagai "tegar tengkuk".

Ketika kita mendapat teguran dan memilih untuk mengeraskan leher kita, mengabaikan teguran itu dan terus melanjutkan perbuatan tidak benar, maka yang terjadi adalah hati kita bisa menjadi keras. Bukan karena anugerah Tuhan tidak sampai menjangkau kita, bukan pula Tuhan menolak mengampuni kita jika kita berbalik padaNya, tapi dosalah yang sudah mengeraskan hati kita hingga kita tidak lagi dapat mendengar suaraNya memanggil, mengingatkan dan menegur kita. Tidak heran jika dikatakan "sedangkan orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan." (2 Timotius 3:13). Terbiasa jahat akan membuat orangbertambah jahat. Orang yang terbiasa sesat akan semakin sesat, saling menyesatkan dan disesatkan. Semua itu karena tidak ada lagi kontrol dalam diri mereka akibat kerasnya dosa yang sudah membatu menutupi hatinya.

Bangsa Israel di masa lalu adalah contoh konkrit mengenai ini. Betapa marahnya Tuhan kepada mereka yang tidak tahu berterimakasih, tidak tahu bersyukur dan terus menerus mengecewakan Tuhan. Dibebaskan dari perbudakan, mereka malah sinis karena merasa sulit untuk melalui padang gurun di alam kemerdekaan. Diberikan tanah terjanji yang begitu subur dan melimpah madunya bukannya bersyukur tapi malah menolak. Eh, setelah menerima, mereka malah merasa karena mereka luar biasa hebatnya maka mereka bisa mendapatkan itu. Keterlaluan bukan? Inilah bentuk kekerasan tengkuk orang Israel yang terus saja melakukan kesalahan demi kesalahan. Tidak salah jika Tuhan kemudian marah kepada mereka. Lihat bagaimana murkanya Tuhan ketika menghardik mereka yang tidak kunjung berubah. "Jadi ketahuilah, bahwa bukan karena jasa-jasamu TUHAN, Allahmu, memberikan kepadamu negeri yang baik itu untuk diduduki. Sesungguhnya engkau bangsa yang tegar tengkuk!" (Ulangan 9:6).

Alasan demi alasan mungkin kita kemukakan sebagai pembelaan diri untuk tidak mematuhi Tuhan saat ini. Alasan masih muda, belum waktunya, sedang enak-enaknya menikmati yang ditawarkan dunia, ingin balas dendam kepada seseorang, dan sebagainya, itu dipakai untuk meminta kelonggaran untuk berbalik jalan kembali kepada Tuhan. Tapi ingatlah bahwa tidak menjadi soal apapun alasan yang kita pakai untuk tidak mematuhi Tuhan. Ketidaktaatan itu akan tetap merugikan kita. Itu akan terus mengeraskan hati kita, sehingga jika tidak cepat diatasi hati kita pun bisa tertutup kerak dosa tebal yang membuat kita tidak lagi bisa mendengar kata Tuhan. Dan jika itu sudah kronis, ayat bacaan hari ini memberikan gambaran keras, "sekonyong-konyong diremukkan tanpa dapat dipulihkan lagi." Kita bisa dibinasakan dengan tiba-tiba tanpa dapat diobati. Mengerikan.

Oleh karena itu, hendaklah kita mengambil apa yang dialami bangsa Israel dengan konsekuensi yang harus mereka tanggung sebagai pembelajaran. Jangan bermain api, nanti bisa terbakar. Jangan bermain-main dengan dosa nanti bisa menyesal. Begitu hati kita lumpuh, kita pun akan habis sia-sia dalam penyesalan tanpa akhir. Jika hari ini anda masih mendengar teguran dan peringatan Tuhan, jangan tunda lagi. Berbaliklah segera. Firman Tuhan berkata: "Sebab itu, seperti yang dikatakan Roh Kudus: "Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman pada waktu pencobaan di padang gurun" (Ibrani 3:7-8). Jangan keraskan terus hati, karena itu akan membangkitkan amarah Allah seperti halnya yang terjadi pada bangsa Israel di jaman Musa. "di mana nenek moyangmu mencobai Aku dengan jalan menguji Aku, sekalipun mereka melihat perbuatan-perbuatan-Ku, empat puluh tahun lamanya. Itulah sebabnya Aku murka kepada angkatan itu, dan berkata: Selalu mereka sesat hati, dan mereka tidak mengenal jalan-Ku," (ay 9-10). Berbaliklah segera, mulailah untuk hidup benar dan saling menasihatilah satu sama lain. "Tetapi nasihatilah seorang akan yang lain setiap hari, selama masih dapat dikatakan "hari ini", supaya jangan ada di antara kamu yang menjadi tegar hatinya karena tipu daya dosa." (ay 13). Tuhan memang terus siap memberikan pengampunan dan sudah berjanji untuk memutihkan dosa kita, tidak lagi mengingat-ingat dosa kita dan membuangnya sejauh timur dari barat, tapi jika kita terus menunda-nunda, ada saat dimana kesempatan itu tidak lagi ada. Jika Tuhan hari ini mengingatkan kita, janganlah menunda dengan mengira bahwa lebih mudah melakukannya kemudian. Itu tidak akan pernah lebih mudah, yang ada malah akan menjadi lebih sulit. Jika Roh Kudus hari ini mengoreksi kita, ikutilah segera petunjukNya. Lakukan hari ini juga dan jangan tunggu lebih lama. Jagalah hati kita untuk tetap lembut untuk bisa mendengar dan mematuhi serta melaksanakan petunjuk Tuhan.

Jangan keraskan hati, jangan tunda lagi jika mendengar suara Tuhan

KRISTEN KAPAL SELAM

Sabtu, 26 November 2005 saya sedang menonton televisi di salah satu stasiun televisi Indonesia. Saat itu sedang terjadi dialog antara dua pendeta. Salah satu pendeta berkata bahwa Tuhan Yesus telah datang menemuinya dan memerintahkannya untuk merayakan Natal secara besar-besaran di Indonesia, dan akhirnya direalisasikannya dengan mengadakan Natal secara besar-besaran di stadion utama Senayan Sabtu, 4 Desember 2005.

Alkitab Pedoman Hidup Orang Kristen

Hal yang ingin saya garis bawahi di sini adalah bagaimana cara Tuhan Yesus datang kepadanya dengan sebuah perintah! Apakah benar bahwa Yesus telah datang secara khusus kepadanya? Siapa yang bisa menjadi saksinya? Kenapa hanya kepadanya Tuhan Yesus memberikan perintah? Kenapa tidak ada perintah kepada para nabi dan rasul serta bapak-bapak gereja sepanjang sejarah kekristenan di muka bumi? Akan muncul banyak pertanyaan di kepala setiap orang yang masih berpikiran waras, yang akal budinya masih bisa dikendalikan dengan baik.

Yang pertama harus dipahami adalah bahwa pernyataan pendeta tersebut tanpa saksi. Jadi tidak bisa langsung kita katakan bahwa yang datang kepadanya adalah benar-benar Tuhan Yesus. Untung tidak ada pendeta lain yang berkata bahwa Tuhan Yesus datang kepadanya dengan sebuah pesan agar tidak boleh merayakan Natal karena itu tidak tertulis dalam Alkitab! Seandainya ada, sudah pasti memunculkan pertanyaan, “Kok Yesus plin-plan sih?” sebentar bilang agar natal dirayakan secara besar-besaran, tapi sebentar lagi menyuruh agar natal tidak boleh dirayakan! Sebenarnya kita bisa menarik kesimpulan bahwa apa yang dikatakan pendeta tersebut tidak bisa dipercaya.

Alkitab ditulis oleh para rasul dan nabi dengan latar belakang sejarah dan sosial yang berbeda selama kurang lebih 1600 tahun! Semua itu untuk menghasilkan 66 kitab yang terkanonkan menjadi sebuah kitab yang terdiri dari 39 kitab PL dan 27 kitab PB. Itu menjadi patokan bagi semua orang Kristen sejak ditinggal oleh para nabi dan rasul-rasul. Oleh karena tidak ada lagi rasul dan nabi saat ini maka setiap orang Kristen jika ingin mengetahui kehendak Allah bagi dirinya adalah dengan menyelidiki Alkitab (Kis. 17:11) dengan bantuan Roh Kudus yang sudah pasti dimilikinya sejak dia mengambil keputusan untuk menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamatnya (Ef. 1:13). Melalui Alkitablah seseorang bisa mendapat berbagai petunjuk, tidak perlu lagi menunggu sampai Tuhan Yesus datang kepadanya. Bahkan Rasul Paulus memberikan sebuah kesaksian di Alkitab bahwa kepadanyalah Tuhan Yesus terakhir kali menampakkan diri.(1 Kor.15:8). Setelah itu bisa dipastikan bahwa Tuhan Yesus tidak akan datang menampakkan wujud kepada siapapun sampai Dia datang kembali.

Natal Dirisaukan?
Natal akhirnya menjadi polemik di dalam dunia kekristenan! Di mana-mana orang merayakan Natal, bahkan menjadi sebuah pertengkaran. Ada yang mengatakan Natal harus tanggal 25 Desember, ada yang mengatakan sekitar bulan April, ada juga yang mengatakan sekitar bulan Juni-Juli. Sekarang inti dari semua itu adalah bagaimana kita bisa mengetahui kehendak Tuhan melalui Alkitab.

Alkitab tidak pernah memerintahkan orang Kristen untuk merayakan Natal, di Alkitab juga tidak tertulis tanggal yang pasti kapan Yesus lahir. Di dalam Injil Lukas 1:26 memang kita bisa menghitung kalau Kristus lahir sekitar bulan Juni-Juli, tapi tanggalnya juga tidak bisa dipastikan. Memang akan ada hal positif yang bisa kita dapatkan jika natal berlangsung pada bulan Juni, karena dengan demikian tidak akan ada lagi pohon natal, juga tidak akan ada Sinterklas, karena Sinterklas muncul dari cerobong asap pemanas yang tentu tidak digunakan pada bulan Juni. Tidak akan ada boneka salju, tidak ada rusa kutub, tidak akan ada lagu-lagu yang berbicara tentang dingin dan putihnya salju, karena salju tidak turun di bulan Juni!

Kelahiran Sejati
Sebenarnya natal tidak perlu dipermasalahkan! Jangan sampai Natal menjadi batu sandungan bagi orang yang mau mencari kebenaran Firman Tuhan. Yang penting adalah kita bisa memahami bahkan memiliki makna Natal itu, yaitu Yesus Kristus pernah lahir ke dunia mengambil rupa manusia, kemudian mati di atas kayu salib untuk menanggung semua dosa umat manusia, kemudian Dia bangkit untuk mengalahkan maut, kini Dia telah naik ke surga, dan akhirnya barang siapa yang mau percaya bahwa Kristus telah mati baginya, dia akan diselamatkan dari siksa api neraka!

Sekarang yang perlu diperhatikan adalah mengapa ada banyak orang Kristen yang enggan datang berbakti ke gereja? Mengapa sampai muncul istilah “Kristen kapal selam’? yaitu orang-orangyangmengaku Kristen tetapi yang seperti kapal selam, kerjaannya terbenam terus di “dasar lautan”, setelah sekian lama baru naik ke permukaan! Gereja-gereja menjadi penuh pada bulan Desember, bahkan menjadi sesak sampai harus mendirikan tenda darurat. Setelah bulan Desember berlalu merekapun kembali menyelam ke dalam kesibukan duniawinya.

Apakah mereka mengira gereja itu tempat di mana dosa mereka bisa dihapus? Ketahuilah, tidak ada dikatakan di Alkitab bahwa jika pergi ke gereja maka dosa akan terhapus! Hanya dengan mengambil keputusan mengaku diri orang berdosa dan mengundang Yesus ke dalam hati sajalah yang bisa menghapus semua dosa! Kerajinan berbakti ke gereja adalah sebagai bukti dari ucapan syukur atas kasih karunia Allah, di mana dengan berbakti itu orang Kristen bisa memuji Tuhan, memanjatkan doa dan permohonan, dan menyelidiki kebenaran Firman Tuhan! Di dalam persekutuan jemaatlah iman seseorang bisa dibangun dan dalam persekutuan jemaat pula bisa terjalin satu hubungan yang harmonis di antara sesama anggota Tubuh Tuhan!

Bahkan satu peringatan yang tegas dari Rasul Paulus ada tertulis di surat Ibrani 10:25, di mana dikatakan bahwa tidak benar jika seorang Kristen menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah. Sebab Paulus menemukan ada banyak orang yang melakukan hal itu! Jaman sekarang kita juga menemui banyak orang yang melakukan hal itu.

Mungkin ada orang yang berkata, “bukankah lebih baik ditetapkan satu tanggal yang pasti untuk merayakan natal, seperti sekarang ini sehingga masih terbuka kemungkinan bagi orang-orang yang belum kenal Tuhan atau yang lemah iman datang ke gereja?” tapi saya akan berkata bahwa arti kata Natal itu sendiri harus diketahui lebih dulu baru bisa menyimpulkan! Bukankah natal itu berasal dari bahasa latin yaitu ‘Natalis’ yang artinya ‘kelahiran’? dengan demikian natal yang selama ini dirayakan adalah hari kelahiran Yesus ke dunia. Memahami makna Natal dengan sebaik-baiknya, kalau tidak maka akan menjadi orang Kristen “kapal selam.”
Oleh: Ev. Tumbur L.R , B.Th., MBS. (saat ini melayani di Papua)

23 November 2009

KUASA YANG DISEMPURNAKAN

Ayat bacaan: 2 Korintus 12:9

"Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku."


kuasa yang disempurnakanJika hari ini hidup anda masih relatif jauh dari masalah dengan perjalanan hidup yang juga relatif stabil dan baik-baik saja, bersyukurlah. Karena saya sudah berjumpa dengan banyak orang yang mengalami begitu banyak pengalmaan pahit di masa lalu yang sedemikian rupa sudah merusak percaya diri mereka. Sedikit saja kena lagi, mereka bisa hancur berantakan. Bagaikan tumpukan balok rapuh, tersenggol sedikit saja sudah ambruk. Semua ini karena masalah yang telah menggerogoti hidup mereka sejak lama. Ada pula yang tengah dihantam masalah dari segala penjuru, bertubi-tubi sehingga mental mereka pun menjadi lemah dan remuk. Sungguh, semakin jauh saya melayani, saya semakin melihat bahwa ada begitu banyak masalah kompleks, rumit yang sepertinya tidak punya jalan keluar jika kita pandang dengan mata manusia. Ada begitu banyak orang yang butuh pertolongan. Jangankan pertolongan, untuk didengar saja sudah sulit bukan main bagi mereka. Tidak mudah untuk membantu mereka, karena seringkali kepahitan itu sudah membatu dan sulit untuk dihancurkan dalam waktu singkat.

Saya masih melanjutkan tulisan-tulisan kemarin mengenai betapa lemahnya manusia. Memandang ke atas, itu merupakan obat terbaik yang bisa melepaskan kita dari kepungan dari pengaruh negatif yang ada di sekeliling kita, termasuk luka-luka masa lalu dan sebagainya. Untuk melakukan ini pun tidaklah mudah, karena dalam banyak kasus kerak kepahitan itu sudah sangat keras menutupi hati. Hal ini bisa dialami siapa saja. Terkadang kita tidak lagi punya kekuatan untuk mengatasi masalah, sehingga tergoda untuk menyerah kalah. Pada saat seperti itu kekuatan manusia kita berakhir. Kita memang terbatas, dan kita telah berusaha sampai kepada batas tertinggi kemampuan kita. Tapi toh masalah tidak juga selesai.

Mari kita lihat sedikit kisah Paulus dan para rasul lainnya di awal pelayanan mereka. Tidak mudah dan penuh bahaya. Ancaman pembunuhan dan penyiksaan selalu mereka hadapi kemanapun mereka pergi. Pada suatu kali ketika tengah melayani di Listra, Paulus sempat hampir mati. Ketika itu orang-orang Yahudi yang datang dari Antiokhia dan Ikonium berhasil menghasut warga di Listra sehingga mereka pun melempari Paulus dengan batu dan menyeretnya ke luar kota. "Tetapi datanglah orang-orang Yahudi dari Antiokhia dan Ikonium dan mereka membujuk orang banyak itu memihak mereka. Lalu mereka melempari Paulus dengan batu dan menyeretnya ke luar kota, karena mereka menyangka, bahwa ia telah mati." (Kisah Para Rasul 14:19). Dikatakan mereka menyeret tubuhnya setelah dihajar ramai-ramai. Meski tidak disebutkan dengan jelas, sepertinya Paulus sudah babak belur penuh luka. Pada saat itu kekuatan manusiawi Paulus sudah berakhir. Dia sama sekali tidak berdaya lagi, bahkan sampai dikira telah mati. Dia diseret dan dibuang, ditinggalkan di luar kota Listra. Habislah kekuatan manusia Paulus. Tapi apa yang kemudian terjadi? "Akan tetapi ketika murid-murid itu berdiri mengelilingi dia, bangkitlah ia lalu masuk ke dalam kota. Keesokan harinya berangkatlah ia bersama-sama dengan Barnabas ke Derbe." (ay 20). Lihat, ketika kekuatan manusia selesai, mukjizat Tuhan datang. Tidak tahu apakah Paulus sudah mati atau belum pada waktu itu, tapi yang pasti Tuhan ternyata membangkitkan dan menyembuhkannya setelah para murid lain mengelilingi dan mendoakannya. Dengan kata lain, ketika Paulus tidak mempunyai cukup kekuatan manusiawi untuk mengatasi kesulitannya, kuasa Tuhan yang mengerjakan mukjizat ternyata cukup baginya. Kuasa Tuhan membuatnya menjadi pemenang walaupun dia sendiri adalah manusia sama seperti kita yang lemah. Seperti tidak terjadi apa-apa, ia bisa langsung masuk ke dalam kota dan keesokan harinya ia sudah bisa melanjutkan perjalanan bersama Barnabas menuju Derbe.


"Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku." (2 Korintus 12:9). Tuhan mengingatkan Paulus untuk menyadari bahwa sesungguhnya kasih karunia Tuhan itu cukup adanya. Paulus dan kita memang lemah, tapi justru dalam kelemahan itulah kuasa Tuhan menjadi sempurna. Pada saat kita lemah itulah sebenarnya kuasa Tuhan akan segera disempurnakan dalam diri kita. Kita terbatas, tapi Tuhan tidak. Jika kita mengakui bahwa kita ini manusia yang terbatas dan lemah, dan memutuskan untuk bergantung kepada Tuhan ketimbang mengandalkan kekuatan diri sendiri, maka Tuhan yang tidak terbatas itu akan bekerja hingga kuasaNya menjadi sempurna atas kita. Karena alasan itulah Paulus mampu berkata "Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat." (ay 10).

Apakah hari ini anda tengah mengalami krisis? Apakah luka masa lalu terus menyiksa diri anda, merantai kaki anda sehingga tidak bisa melangkah maju? Apakah anda sakit dan obat-obatan sepertinya gagal untuk menyembuhkan anda? Apakah anda tengah terjepit dalam masalah keuangan? Apakah anda merasa gagal melihat keluarga anda berantakan? Apakah kebiasaan buruk anda telah mengikat anda begitu erat? Apakah anda merasa telah mengerahkan seluruh kemampuan tapi belum juga ada hasil yang dicapai? Jangan patah semangat, melainkan bersukacitalah, karena ketika kekuatan manusiawi berakhir, kuasa Tuhan justru menjadi sempurna atas kita! Tuhan Yesus berkata, "Jangan takut, percaya saja!" (Markus 5:36). Ini berbicara mengenai iman yang teguh yang mampu percaya bahwa kemustahilan itu tidak terdapat dalam kamus Tuhan. Jika memang sulit untuk merubah pola pikir dan pandangan kita dengan kemampuan sendiri, ingatlah bahwa sosok Penolong telah dikaruniakan pula kepada kita. Ada kuasa Roh Kudus yang bisa memampukan kita mengubah pandangan, lepas dari belenggu luka masa lalu dan bisa mengalami pemulihan citra diri. Mungkin kita lemah dan tidak mampu, tapi Roh Kuduslah yang akan memampukan. Roh Kudus akan selalu melimpahkan kita dalam pengharapan sehingga tidak lekas menyerah. "Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan." (Roma 15:13). Dan ketika kita menerima kuasa Roh Kudus inilah kita akan mampu menjadi kesaksian bagi semua orang, tentang bagaimana kuasa Tuhan mampu menuntaskan hal yang paling mustahil sekalipun di mata manusia. "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." (Kisah Para Rasul 1:8). Kata "kuasa" dalam versi bahasa Inggris dirinci menjadi "ability, efficiency and might". Kemampuan, efisiensi dan kekuatan. Semua ini sangatlah berguna bagi kita untuk lepas dari beban, dan itu telah disediakan oleh Roh Kudus. Karenanya, apapun masalah yang tengah menimpa anda hari ini, sejauh manapun citra diri anda telah rusak akibat goresan luka masa lalu dan pengalaman pahit, bangkitlah dan percayalah saja! Anugerah Tuhan sesungguhnya cukup bagi anda.

Begitu kekuatan manusia berakhir, kuasa Tuhan menjadi sempurna

21 November 2009

HARGA JUAL YESUS


Oleh : Pdt.Bigman Sirait

Ah, judul ini mungkin terasa sangat mengganggu. Apakah Yesus itu barang, sehingga ada harga jualnya? Atau, kalaupun ada, apakah itu manusiawi, karena manusia sangat berharga, dan tak mungkin ada harga yang bisa dicantumkan pada dirinya. Apalagi berbicara tentang Yesus, Allah yang menjadi manusia (Filipi 2: 5-6), wow, mana bisa! Seharusnya memang tidak bisa, namun kenyataannya memang pahit, Yesus terjual. Bahkan terjual dengan harga yang sangat murah. Kenyataan pahit ini tak bermula dari penjahat kelas berat, atau penjudi ulung, atau, artis kebelet duit. Pahit, karena justru bermula dari orang dalam yang termasuk murid, yang memiliki posisi strategis sebagai bendahara. Sang murid bernama Yudas Iskariot, satu dari antara dua belas rasul yang kemudian san
Nama Yudas sama terkenalnya dengan Petrus dan Yohanes, hanya saja dalam konteks dan kualitas yang sangat berbeda. Yudas Iskariot (Ibrani; Isyqeriyot yang artinya orang Keriot), berasal dari Keriot. Kurang jelas, apakah Keriot tempat asal Yudas adalah Keriot yang di Moab, atau yang di selatan Hebron (dalam Alkitab banyak kota, orang, yang bernama sama). Yudas Iskariot bukan penulis kitab Yudas, hanya namanya saja yang sama.

Nah, kembali kepada Yudas, murid, rasul, bendahara, yang juga pengkhianat. Yudas juga piawai bersilat lidah, satu sisi sepertinya dia peduli dan membela orang miskin, padahal di sisi lain keuntungan dirilah yang dipikirkannya (Yohanes 12:1-8). Ya, Yudas memang “berbakat” sebagai pengkhianat. Entah sudah berapa banyak pelajaran tentang kebenaran yang dia dapat dari Yesus, tapi tak pernah bertumbuh apalagi berbuah.Dalam perumpamaan tentang penabur, Yudas bagaikan benih yang jatuh di tengah semak duri (Matius 13: 22). Episode demi episode mukjizat hebat, disaksikannya, tapi benih kebenaran tak pernah tumbuh dan berbuah dalam hatinya. Hati nurani dibunuhnya, uang menjadi tuannya, maka Yudas telah memilih jalan hidupnya. Yesus dijual seharga 30 keping perak, harga seorang budak (Keluaran 21: 32). Sangat ironis, Yesus, Allah yang menjadi manusia, raja yang menjadi hamba, penebus dosa manusia, sang juru selamat terjual dengan harga yang amat sangat murah.

Namun , di sisi lain, kerelaan Yesus menjadi hamba justru tergenapi dalam pengkhianatan ini. Uang telah membuat Yudas gelap mata. Soal mamon ini tak hanya mewarnai kehidupan duniawi saja, namun juga merata keberbagai sudut kehidupan. Dunia rohani bahkan sering kali lebih duniawi dari dunia itu sendiri. Manusia beragama model Yudas tak pernah habis dari panggung kehidupan. Selalu saja ada generasi pengganti. Sementara pelayan sejati sering kali seperti kehilangan garis. Kegairahan terhadap daya tarik mamon semakin hari semakin menggila. Hal ini tepat seperti lukisan Paulus dalam II Timotius 3: 2, di akhir jaman manusia akan menjadi hamba uang. Manusia kehilangan kendali menjadi tuan atas uang.

Kisah Yudas, mengingatkan kita dengan terang-benderang, bahwa jabatan kerohanian tak serta-merta membuat seseorang imun terhadap godaan uang. Yudas adalah seorang rasul, lebih dari seorang pendeta secara jabatan. Kedekataannya dengan Yesus dalam aktivitas sehari-hari tak bisa dipungkiri, namun tak menjamin kualitas pelayanan. Yudas merasa perlu dan berhak mendapatkan tiga puluh keping perak, sekalipun untuk itu Yesus harus dijual. Sementara Yesus, “rela terjual murah”, asal keselamatan terwujud menjadi kenyatan dalam kehidupan umat. Yudas “beringas” demi uang: “beringas” menjual Yesus, “beringas” dalam baju suci kerasulan. Dan yang tak kalah mengerikan, dia juga “beringas” dalam kemunafikan kepedulian pada kaum papa. Yudas telah mengerahkan seluruh kemampuannya memainkan seluruh jurus pengkhianatan berbaju kerohanian.

Dalam konteks kekinian, ternyata tak kurang panjang barisan pengikut Yudas, sama panjang dengan barisan penjual Yesus. Kini, tak sedikit orang yang sangat bernafsu menabikan atau merasulkan diri, atas nama ketetapan Tuhan. Tak pula kurang orang berjual-beli kebenaran, yang menjual Yesus dengan memutarbalikkan kebenaran. Kebenaran dibuat berpusat pada diri dan menguntungkan diri. Khotbah disampaikan untuk menyenangkan telinga umat, khususnya kamu berduit, untuk memancing duit mereka. “Hamba Tuhan” bajunya, hatinya hamba uang. Istilah “salesman Injil” semakin hari semakin terkenal, seturut terkuaknya gaya hidup banyak “pendeta besar” yang tak kalah dengan selebritis kelas atas.

Banyak orang telah mengambil keuntungan besar dengan mengobral Yesus. Celakanya, semua berjalan tepat waktu, karena market juga dipenuhi manusia bermental hati ahli Taurat. Yang mau tampak benar di arena keseharian, tampak rohani, bersih dan berbudi, sekalipun mereka benci terhadap kejujuran dan kesucian. Karena itu “obral kebenaran” mereka serbu. Mereka suka mengonsumsi produk obral ini, mereka tampak rohani tanpa harus sungguh-sungguh rohani. Cukup dengan kata-kata amin, sedikit kegiatan, dan besarnya sumbangan semua menjadi benar dan “dipakai Tuhan” sesuai label yang diberikan para “hamba Tuhan”. Semakin tinggi bayaran, semakin rohani si pemberi dalam khotbah “hamba Tuhan”. Transaksi jual-beli terus meninggi, limpahan materi mengalir deras ke pundi-pundi “hamba Tuhan”. Gaya hidup supermewah mewarnai sepak terjang mereka atas nama berkat Ilahi, padahal hasil menjual kebenaran.

Yesus dijual dengan mengobral berkat besar, dan menutupi penyangkalan diri apalagi memikul salib sesuai perintah Yesus sendiri. Ya, Yesus dijual dengan mengorupsi, memanipulasi kebenaran, bahkan membangun kebenaran baru atas nama wahyu baru. Maka klaim diri semakin meninggi, dan ini akan diikuti dengan “harga jual” yang juga semakin tinggi. Lagi-lagi Yesus terjual murah. Dan, lagi-lagi yang salah tampaknya benar secara suara, mereka tampaknya mayoritas, sama persis seperti Yesus tersalib. Yesus tampak minoritas, para ahli Taurat-lah yang mayoritas. Dan ini didukung pada kebiasaan kita tentang suara terbayak sebagai yang benar dan menentukan. Menyakitkan, tapi itulah kenyataan. Dosa akan pesta pora, sukses menggaet banyak pengikut, hingga kedatangan Yesus yang kedua kali.

Akankah pencinta kebenaran sejati akan bertahan di tengah polusi jual-beli Yesus? Sebuah pertanyaan yang harus dijawab dengan hidup menjalani kebenaran tanpa kompromi. Berani miskin tanpa harus memiskinkan diri, sebaliknya juga berani kaya tanpa harus memperkaya diri, melainkan berkarya penuh dengan pasrah penuh pada berkat Ilahi. Biarlah aku menerima bagianku yang Tuhanku, bukan apa yang aku mau (Amsal 30: 7-9). Apakah “jual beli Yesus” akan berhenti? Sekali lagi tidak, dan tidak akan! Transaksi akan terus berlangsung, yang penting Anda tak terlibat di sana. Atau, jika sudah terjebak ada di dalam, segera keluar memisahkan diri, jika tak ingin hangus diri. Dijual : Yesus! Tapi, semoga Anda dan saya bukan penjual ataupun pembelinya.

Buang Rasa Khawatir, Jangan Tumpuk Harta

Buang Rasa Khawatir, Jangan Tumpuk Harta.jpg
Oleh :
Pdt. Bigman Sirait

HARTA adalah anugerah Allah kepada manusia untuk menghidupi hidupnya. Harta adalah sesuatu yang Tuhan sediakan. Di Mazmur 127 dikatakan bahwa ketika kita masih tidur Tuhan sudah menyediakan roti yang kita butuhkan untuk esok pagi. Tapi ayat ini tidak untuk mengajarkan kita tidak perlu bekerja. Ayat ini justru mengajarkan bahwa ada jaminan yang Allah sediakan bagi kita, tetapi Allah mau kita bertindak di dalam kehidupan secara bertanggung jawab, yaitu dengan otak, tenaga, dan talenta yang Tuhan berikan. Itu kita pakai mengelola hidup, untuk mendapatkan apa yang Tuhan sudah sediakan bagi kita.
 
Kenapa kita khawatir? Karena ada keterbatasan kita di dalam ruang dan waktu. Keterbatasan membuat kita tidak mengetahui apa yang terjadi besok. Menurut hitung-hitungan kita, jika tidak punya uang tidak bisa makan. Kalau tidak punya deposito cukup, berat menyekolahkan anak. Hitungan-hitungan itu memang tidak salah. Dalam keterbatasan, kita berpikir seperti itu. Seluruh yang ada itu bisa kita hitung sedemikian rupa: sebab-akibatnya dan logika jalannya. Dalam keterba-tasan itu kita mampu berhitung dengan jitu dan tepat.

Jadi, masak kita tidak mau belajar pada realita umum yang disebut sebagai anugerah umum common grace. Kalau rajin belajar pasti pintar. Kalau Anda baik, dihargai orang dan banyak sahabat, mereka pasti menolongmu. Secara common grace, semua orang diperlihara oleh kasih Tuhan. Karena Tuhan mengatakan bahwa Dia memberikan matahari bukan hanya untuk orang baik, tetapi juga orang jahat. Maka secara anugerah umum tadi kita sadar ada berkat Tuhan yang mengalir dalam hidup. Tetapi jangan kaitkan ini dengan special grace, keselamatan. Maka dalam common grace tadi, orang bisa belajar, bisa bertumbuh di dalam ke-imanannya, memahami kebenaran kasih setia Allah. Maka di dalam keimanannya itu, ia akan bertumbuh dan makin kuat menaruh harapannya kepada Tuhan, dan pengharapannya itu akan merangsang dia untuk bekerja secara betanggung jawab di hadapan Tuhan.

Jadi, kalau secara umum orang baik membuka peluang masa depan bagi dirinya, apalagi orang yang takut Tuhan. Orang takut Tuhan pasti baik kan? Tapi jangan mengaku percaya Tuhan, tetapi anda terkenal sebagai pekerja yang tidak jujur, tidak suka menolong. Jangan mengaku cinta Yesus tetapi anda dikenal sebagai teman kerja yang tidak bisa diandalkan. Lalu kau berdoa marah-marah sama Tuhan. “Di manakah pemeliharaan-Mu?...” Lalu muncullah rasa khawatirmu tentang hidup ini, maka doamu selalu menuntut apa yang kau perlukan dalam hidupmu. Maka kau melupakan prinsip yang Tuhan ajarkan: “Cari dahulu kerajaan Allah semuanya akan ditambahkan bagimu” (Matius 6: 33). Orang yang mencari kerajaan Allah adalah yang melakukan kehendak-kehendak Allah dalam hidupnya. Maka dia jujur, bisa diandalkan, rekan yang baik dan menyenangkan. Maka dengan sendirinya dia akan mendapatkan penghargaan, bukan?

Nikmati porsi masing-masing      
Jadi, mencari kerajaan Allah itu musti diterjemahkan secara praktikal dalam hidup. Jangan dijadikan semacam ayat yang menyembunyikan kesulitan kita dan mencoba lari dan bersembunyi di balik itu. Itu membunuh tanggung jawab kita untuk hidup seperti apa yang Tuhan kehendaki dalam rangka mencari kerajaan itu.

Karena itu mari kita hidup seperti yang Tuhan kehendaki. Cari kerajaan-Nya itu, lakukan kehendak-Nya, jangan sampai salah langkah, salah kaprah. Oleh karena itulah harta yang ada di dalam hidup ini tidak boleh kita khawatirkan. Ke-khawatiran terhadap harta atau hidup ini hanya menunjukkan  kesalahpahaman kita tentang arti pemeliharaan Tuhan. Jadi karena itu, jangan kamu khawatir akan hidupmu, apa yang hendak kamu makan atau minum. Jangan khawatir akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup lebih penting dari makanan? Tubuh lebih penting dari pakaian, dan hidup kita dipelihara Tuhan.

Khawatirlah kalau hidupmu tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Khawatirlah kalau kamu bukan mencari kerajaan Tuhan, tetapi mencari kerajaanmu sendiri. Khawatirlah sekalipun dalam pencarian kerajaan itu saudara mempunyai banyak harta benda, karena harta benda itu bisa menjadi malapetaka. Kaya-miskin hanyalah dinamika dalam hidup yang harus disikapi dengan lapang dada. Yang kaya tidak besar kepala. Yang miskin tidak kecil hati, tetapi bagaimana menikmati masing-masing porsi yang Tuhan berikan pada kita. Karena tujuan utama kita bukan bagaimana kita bekerja untuk mendapatkan banyak harta tetapi bagaimana hidup memuliakan Tuhan.
 
Oleh karena itu tempatkanlah harta itu sebagai alat dalam kehidupan, bukan tujuan utama. Jangan pernah khawatir terhadap hal itu sekalipun manusia riskan atas hal itu, tetapi itulah perjuangan kita melawan rasa khawatir. Selama rasa khawatir itu kita biarkan bertumbuh berkembang bahkan menguasai kehidupan kita maka selama itu kita tidak akan pernah mengalami pertumbuhan iman yang utuh. Selama rasa khawatir itu  melanda kehidupan maka selama itu pula kita tidak bisa apa-apa dalam membangun semangat keberimanan.
 
Karena itu belajarlah untuk membuang rasa khawatir itu dengan hidup bergantung pada Tuhan, bukan dengan menumpuk segala apa yang kau anggap bisa menjamin masa depanmu. Tidak ada yang salah dengan kekayaan. Yang salah sikap terhadap kekayaan. Tak ada yang salah dengan harta. Yang salah sikap terhadap harta itu. Jangan harta menjadi jaminan hidupmu, tetapi Tuhan. Tetapi kalau kau bilang Tuhan jaminan hidupmu, itu harus tampak benar-benar dalam aktivitasmu.
Jangan khawatir tentang apa yang akan kau makan, minum, pakai. Kekhawatiran tidak akan mengubah apa pun, tetapi bersyukurlah di dalam kekhawatiran yang sudah salah itu, toh Tuhan berbelas kasihan, mendidik membimbing menuntun kita. Karena itu mulailah dengan belajar mencari dulu kerajaan Allah supaya kau tidak terjebak dalam lilitan persoalan. v

(Diringkas dari kaset khotbah oleh Hans P.Tan)